Sebuah pesan tegas dikirimkan oleh Amerika Serikat dan Sektunya melalui latihan militer gabungan yang diberi nama "theater integration and flying training".
Dalam latihan ini angkatan udara Amerika Serikat mengerahkan enam
pesawat pembom stategis B-52 berkemampuan nuklir ke Eropa bergabung bersama pasukan sekutu lainnya dan pasukan mitra NATO di Eropa untuk mengikuti latihan integrasi ruang oparsi dan latihan terbang.
Satuan tugas pembom B-52
Stratofortresses, penerbang dan peralatan pendukung dari Wing Bom ke-2
yang berbasis di Barksdale Air Force Base, Louisiana, tiba di RAF
Fairford akhir pekan lalu dan telah berpartisipasi dalam berbagai misi
pelatihan di seluruh Eropa.
"Pada hari Senin, empat pesawat B-52
melakukan penerbangan ke beberapa tempat di Eropa, termasuk ke Laut
Norwegia, Laut Baltik/Estonia dan Laut Mediterania/Yunani,".
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Konflik Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Eropa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 Maret 2019
Amerika Serikat dan Sekutunya Sebar Pesawat Pembom Nuklir Dekat Rusia
Label:
Amerika,
Konflik Eropa,
NATO,
Pesawat Tempur,
Rudal,
Rusia
Kamis, 27 Oktober 2016
Rusia Kirim Kapal Perang Berpeluru Kendali ke Laut Baltik
Rusia dilaporkan mengirimkan dua kapal perang berpeluru kendali mematikan yang mempunyai kemampuan mencapai Eropa ke Laut Baltik. Pengiriman dua kapal perang ini dilakukan ditengah persiapan NATO mengirimkan ribuan pasukan ke perbatasan Rusia.
Dua kapal perang tersebut awalnya adalah bagian dari armada kapal perang yang dikirimkan ke Laut Mediterania. Mereka berencana mengisi bahan bakar di Spanyol sebelum melanjutkan perjalanan menuju Suriah. Namun kapal itu malah bergerak ke Laut Utara,melewati Great Belt sekitar Denmark dan ke Laut Baltik.
Diyakini kapal-kapal itu sedang dalam perjalanan ke kantong Rusia di Baltik, Kaliningrad, yang baru-baru ini memiliki sejumlah rudal mematikan. "Dengan munculnya dua kapal kecil yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Kalibr, Armada kapal itu berpotensi menargetkan basis militer Eropa di utara," ucap sebuah sumber seperti dikutip dari Express, Kamis (27/10/2016)
Dua kapal perang tersebut awalnya adalah bagian dari armada kapal perang yang dikirimkan ke Laut Mediterania. Mereka berencana mengisi bahan bakar di Spanyol sebelum melanjutkan perjalanan menuju Suriah. Namun kapal itu malah bergerak ke Laut Utara,melewati Great Belt sekitar Denmark dan ke Laut Baltik.
Diyakini kapal-kapal itu sedang dalam perjalanan ke kantong Rusia di Baltik, Kaliningrad, yang baru-baru ini memiliki sejumlah rudal mematikan. "Dengan munculnya dua kapal kecil yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Kalibr, Armada kapal itu berpotensi menargetkan basis militer Eropa di utara," ucap sebuah sumber seperti dikutip dari Express, Kamis (27/10/2016)
Label:
Kapal Perang,
Konflik Eropa,
Rusia
Enam Negara NATO Siap Kirim Kekuatan Penuh ke Laut Hitam
Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg menyatakan enam negara anggota organisasi itu siap mengirimkan unit angkatan laut mereka ke Laut Hitam pada 2017 mendatang. Enam negara itu diantaranya adalah Amerika Serikat (AS), Turki, dan Polandia.
Stoltenberg mencatat kemajuan dalam memperkuat kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam. "Dengan kerangka brigadi multinasional yang dipimpin Rumania di darat dan kami sedang bekerja pada langkah-langkah di udara dan laut," seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/10/2016).
Stoltenberg mengatakan beberapa negara anggota menunjukkan kesediannya untuk berkontribusi menunjukkan kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam di darat, laut, dan di udara termasuk Kanada, Jerman, Belanda, Polandia, Turki dan Amerika Serikat. "Sekutu lain juga melihat bagaimana mereka bisa berkontribusi," tambahnya.
Stoltenberg mencatat kemajuan dalam memperkuat kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam. "Dengan kerangka brigadi multinasional yang dipimpin Rumania di darat dan kami sedang bekerja pada langkah-langkah di udara dan laut," seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/10/2016).
Stoltenberg mengatakan beberapa negara anggota menunjukkan kesediannya untuk berkontribusi menunjukkan kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam di darat, laut, dan di udara termasuk Kanada, Jerman, Belanda, Polandia, Turki dan Amerika Serikat. "Sekutu lain juga melihat bagaimana mereka bisa berkontribusi," tambahnya.
Selasa, 18 Oktober 2016
Pentagon Nyatakan Defcon 3, AS bersiap perang lawan Rusia
Konflik Suriah membuat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia terus mengarah titik nadir. Kedua negara saling mengancam, bahkan Presiden Vladimir Putin memperingatkan warganya untuk bersiap-siap jika terjadi perang.
Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.
Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.
Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.
Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.
Senin, 17 Oktober 2016
Risia Bersiap Perang Nuklir, Ini Dia Tanda-tandanya
Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat belakangan ini meningkat lantaran konflik Suriah. Menurut pengamat, ketegangan ini lebih berbahaya ketimbang pada masa Perang Dingin. Konflik Suriah yang tak kunjung berakhir membuat dua negara kekuatan besar itu saling mempersiapkan kemungkinan terburuk.
AS disebut-sebut akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Suriah sebagai bentuk opsi militer. Rusia yang selama ini mendukung rezim Basyar al-Assad sudah mengatakan akan mempertahankan Suriah dari serangan AS.
Dalam pandangan Rusia, AS akan melancarkan serangan terlebih dulu dan Negeri Beruang merah itu akan memberi respon dengan kekuatan militer mereka. Berikut lima sinyal yang menyatakan Rusia siap berperang nuklir dengan AS dan sekutunya:
AS disebut-sebut akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Suriah sebagai bentuk opsi militer. Rusia yang selama ini mendukung rezim Basyar al-Assad sudah mengatakan akan mempertahankan Suriah dari serangan AS.
Dalam pandangan Rusia, AS akan melancarkan serangan terlebih dulu dan Negeri Beruang merah itu akan memberi respon dengan kekuatan militer mereka. Berikut lima sinyal yang menyatakan Rusia siap berperang nuklir dengan AS dan sekutunya:
Senin, 10 Oktober 2016
Perang Rusia dan Negara Barat Pecah di Pertemuan DK PBB
"Perang" antara negara-negara Barat dan Rusia pecah dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB. Pertemuan itu membahas dua resolusi, yakni resolusi yang diajukan Prancis dan oleh Rusia.
Perseteruan bermula saat Rusia memveto resolusi yang diajukan Prancis. Resolusi itu berisi desakan kepada seluruh negara untuk menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.
Melansir Al Jazeera pada Minggu (9/10), ini adalah kali kelima Rusia memveto resolusi di DK PBB sepanjang lima tahun konflik di Suriah berlangsung. Dalam empat veto sebelumnya, Rusia mendapat dukungan dari China. Tapi kali ini China mengambil sikap abstain, atau tidak memilih.
Setelah pembahasan mengenai resolusi yang diajukan Prancis, DK PBB kemudia berlanjut pada resolusi yang diajukan Rusia. Resolusi tersebut tidak berhasil diadopsi karena banyak negara yang menolak resolusi tersebut.
Perseteruan bermula saat Rusia memveto resolusi yang diajukan Prancis. Resolusi itu berisi desakan kepada seluruh negara untuk menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.
Melansir Al Jazeera pada Minggu (9/10), ini adalah kali kelima Rusia memveto resolusi di DK PBB sepanjang lima tahun konflik di Suriah berlangsung. Dalam empat veto sebelumnya, Rusia mendapat dukungan dari China. Tapi kali ini China mengambil sikap abstain, atau tidak memilih.
Setelah pembahasan mengenai resolusi yang diajukan Prancis, DK PBB kemudia berlanjut pada resolusi yang diajukan Rusia. Resolusi tersebut tidak berhasil diadopsi karena banyak negara yang menolak resolusi tersebut.
Label:
Amerika,
Konflik Eropa,
Konflik Timur Tengah,
PBB,
Rusia
Rusia Sebar Rudal Nuklir Iskander-M Untuk Hadapi Kemungkinan Perang Dunia III
Militer Rusia kembali menegaskan, pengerahan Rudal Iskander dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad adalah bagian dari latihan rutin. Selain itu, militer Rusia juga menegaskan, mereka tidak pernah menutupi pengerahan rudal tersebut.
"Pertama-tama, mereka yang meributkan hal ini harus tahu bahwa sistem rudall Iskander adalah salah satu (sistem) mobile," kata juru bicara kementerian Pertahanan Rusia, Jenderal Igor Konashenkov, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (9/10).
"Sebagai bagian dari rencana pelatihan tempur, unit pasukan rudal sepanjang tahun meningkatkan kemampuan mereka dengan menutupi jarak besar di wilayah Federasi Rusia dalam berbagai cara:. Melalui udara, laut dan darat," sambungnya.
Konashenkov mencatat bahwa Kaliningrad bukanlah sebuah pengeculan dan bahwa sistem akan dipindahkan kembali di di masa depan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia.
"Pertama-tama, mereka yang meributkan hal ini harus tahu bahwa sistem rudall Iskander adalah salah satu (sistem) mobile," kata juru bicara kementerian Pertahanan Rusia, Jenderal Igor Konashenkov, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (9/10).
"Sebagai bagian dari rencana pelatihan tempur, unit pasukan rudal sepanjang tahun meningkatkan kemampuan mereka dengan menutupi jarak besar di wilayah Federasi Rusia dalam berbagai cara:. Melalui udara, laut dan darat," sambungnya.
Konashenkov mencatat bahwa Kaliningrad bukanlah sebuah pengeculan dan bahwa sistem akan dipindahkan kembali di di masa depan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia.
Kamis, 06 Oktober 2016
Media Moskow Prediksi Rusia Perang Langsung dengan Amerika Serikat
Sebuah media di Moskow memprediksi Rusia akan konfrontasi militer atau perang secara langsung dengan Amerikat Serikat (AS) sebagai puncak ketegangan atas krisis Suriah. Media itu dalam laporannya mengkhawatirkan pecahnya Perang Dunia Ketiga.
Tabloid Moskovsky Komsomolets memprediksi konfrontasi militer langsung kedua negara itu setara dengan Krisis Rudal Kuba. Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang sejak kemarin (5/10/2016), setelah ketegangan dengan AS memanas.
Dalam sebuah artikel berjudul “The stakes are higher than Syria” tabloid Moskovsky Komsomolets memperingatkan perang baru yang potensial.
Tabloid Moskovsky Komsomolets memprediksi konfrontasi militer langsung kedua negara itu setara dengan Krisis Rudal Kuba. Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang sejak kemarin (5/10/2016), setelah ketegangan dengan AS memanas.
Dalam sebuah artikel berjudul “The stakes are higher than Syria” tabloid Moskovsky Komsomolets memperingatkan perang baru yang potensial.
Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi
Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan sebuah perang skala penuh antara negara-negara hampir pasti terjadi dan akan sangat mematikan. Peringatan ini muncul seiriing kebijakan China dan Rusia meningkatkan kemampuan militernya.
Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.
"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).
Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.
"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).
Kamis, 08 September 2016
Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter
Sebuah pesawat jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan “tidak aman dan tidak professional” terhadap pesawat mata-mata Amerika Serikat yang patroli rutin di atas Laut Hitam. Jet tempur Rusia itu bermanuver dalam jarak 10 kaki atau sekitar 3,05 meter di depan pesawat pengintai AS.
Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.
Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.
”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).
Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.
Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.
”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).
Label:
Amerika,
Konflik Eropa,
Pesawat Tempur,
Rusia
Minggu, 03 Juli 2016
NATO Coba Bujuk Obama Untuk Runtuhkan Rusia
Mantan komandan tertinggi NATO, Jenderal Philip Breedlove, ternyata diam-diam berusaha untuk melawan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, terkait Rusia. Dalam sebuah e-mail, yang bocor ke publik, terungkap bahwa Breedlove ingin AS lebih keras terhadap Rusia. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Obama.
E-mail yang dirilis oleh The Intercept tersebut, menunjukan Breedlove tidak senang dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Obama soal Rusia. Dirinya membujuk mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, untuk mempengaruhi Obama agar mau bertindak lebih agresif terhadap Rusia.
"Saya mungkin salah, tapi saya tidak melihat ini WH (Gedung Putih) benar-benar 'terlibat' dengan bekerja sama dengan Eropa / NATO. Terus terang saya pikir kita (NATO) khawatir akan ancaman AS akan terseret dalam konflik," tulis Breedlove kepada Powell.
E-mail yang dirilis oleh The Intercept tersebut, menunjukan Breedlove tidak senang dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Obama soal Rusia. Dirinya membujuk mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, untuk mempengaruhi Obama agar mau bertindak lebih agresif terhadap Rusia.
"Saya mungkin salah, tapi saya tidak melihat ini WH (Gedung Putih) benar-benar 'terlibat' dengan bekerja sama dengan Eropa / NATO. Terus terang saya pikir kita (NATO) khawatir akan ancaman AS akan terseret dalam konflik," tulis Breedlove kepada Powell.
Label:
Amerika,
Konflik Eropa,
NATO,
Rusia
Selasa, 28 Juni 2016
Turki Isyratkan Penyesalan Telah Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia
Presiden Turki Tayyip Erdogan tampaknya mulai menyesali insiden penembakan jet Su-24 Rusia oleh militer Turki. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
Peskov mengatakan, Erdogan kembali mengirimkan surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat itu, papar Peskov, tersirat bahwa Erdogan menyesali insiden itu, dan menunjukan tanda akan segera meminta maaf pada Rusia.
"Presiden Putin telah menerima surat dari Presiden Turki, Erdogan. Pemimpin Turki mengungkapkan minat dalam menyelesaikan situasi di sekitar jatuhnya pesawat jet pembom Rusia," kata Peskov.
Peskov mengatakan, Erdogan kembali mengirimkan surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat itu, papar Peskov, tersirat bahwa Erdogan menyesali insiden itu, dan menunjukan tanda akan segera meminta maaf pada Rusia.
"Presiden Putin telah menerima surat dari Presiden Turki, Erdogan. Pemimpin Turki mengungkapkan minat dalam menyelesaikan situasi di sekitar jatuhnya pesawat jet pembom Rusia," kata Peskov.
Label:
Konflik Eropa,
Pesawat Tempur,
Rusia,
Turki
Senin, 27 Juni 2016
Brexit Berita Bagus untuk Rusia, dan Berita Buruk Untuk NATO
Satu-satunya orang yang lebih bahagia ketimbang Boris Johnson atas hengkangnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit bisa jadi adalah Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kremlin telah bertahun-tahun mencoba untuk membuat celah dalam aliansi NATO dan Uni Eropa, tetapi dengan sedikit keberhasilan. Sekarang orang-orang Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa dan keinginan Putin terpenuhi.
”Mereka (para pemimpin Rusia) minum vodka dalam jumlah berlebihan di Kremlin hari ini,” kata Derek Chollet, mantan penasihat senior di Pentagon kepada Foreign Policy, mengacu pada kebahagiaan Putin atas Brexit.
”Apa yang membuatnya menyedihkan adalah bahwa ini adalah kesalahan unforced,” kata Chollet, yang sekarang aktif di German Marshall Found, yang dilansir semalam (26/6/2016). ”Putin telah berusaha untuk memaksa divisi di Barat, tapi dia benar-benar belum berhasil dengan baik. Ini adalah keuntungan baginya tanpa dia harus melakukan sesuatu.”
Kremlin telah bertahun-tahun mencoba untuk membuat celah dalam aliansi NATO dan Uni Eropa, tetapi dengan sedikit keberhasilan. Sekarang orang-orang Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa dan keinginan Putin terpenuhi.
”Mereka (para pemimpin Rusia) minum vodka dalam jumlah berlebihan di Kremlin hari ini,” kata Derek Chollet, mantan penasihat senior di Pentagon kepada Foreign Policy, mengacu pada kebahagiaan Putin atas Brexit.
”Apa yang membuatnya menyedihkan adalah bahwa ini adalah kesalahan unforced,” kata Chollet, yang sekarang aktif di German Marshall Found, yang dilansir semalam (26/6/2016). ”Putin telah berusaha untuk memaksa divisi di Barat, tapi dia benar-benar belum berhasil dengan baik. Ini adalah keuntungan baginya tanpa dia harus melakukan sesuatu.”
Label:
Konflik Eropa,
Militer Inggris,
NATO,
Rusia
Minggu, 26 Juni 2016
Ogah Berpisah Dari Uni Eropa, akyat London Serukan Merdeka dari Inggris
Rakyat London belum bisa menerima kemenangan pro-Brexit dalam referendum bersejarah Inggris. Mereka menyerukan London memerdekakan diri dari wilayah Inggris lainnya dan tetap bergabung dengan Uni Eropa.
Dalam referendum, London memang basis utama pendukung Inggris bertahan di Uni Eropa alias anti-Brexit. Lebih dari 2,2 juta pemilih di London memberikan suara bagi Inggris untuk bertahan di Uni Eropa.
Namun, suara London ternyata tidak bisa mengalahkan suara warga Inggris di beberapa wilayah lain yang memilih Brexit.
Warga Inggris yang frustrasi menyerukan Wali Kota Sadiq Khan untuk memerdekakan diri dari Inggris. Seruan itu bermunculan di media sosial.
Dalam referendum, London memang basis utama pendukung Inggris bertahan di Uni Eropa alias anti-Brexit. Lebih dari 2,2 juta pemilih di London memberikan suara bagi Inggris untuk bertahan di Uni Eropa.
Namun, suara London ternyata tidak bisa mengalahkan suara warga Inggris di beberapa wilayah lain yang memilih Brexit.
Warga Inggris yang frustrasi menyerukan Wali Kota Sadiq Khan untuk memerdekakan diri dari Inggris. Seruan itu bermunculan di media sosial.
Sabtu, 25 Juni 2016
Keluar Dari Uni Eropa , Inggris Tetap Bagian Dari NATO
Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg mengatakan, Inggris tetap menjadi sekutu NATO yang kuat dan posisinya dalam aliansi tidak akan diubah oleh keputusan untuk meninggalkan Uni Eropa atau Brexit.
"Orang-orang Inggris telah memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa. Seperti mendefinisikan bab berikutnya dalam hubungan dengan Uni Eropa, saya tahu bahwa posisi Inggris di NATO akan tetap tidak berubah," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan.
"Inggris akan tetap kuat dan berkomitmen pada aliansi NATO dan akan terus memainkan peran utama dalam Aliansi kami. Hari ini, seperti yang kita hadapi lebih ketidakstabilan dan ketidakpastian, NATO lebih penting daripada sebelumnya sebagai platform untuk kerjasama antar Sekutu Eropa, dan antara Eropa dan Amerika Utara," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (24/6/2016).
"Orang-orang Inggris telah memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa. Seperti mendefinisikan bab berikutnya dalam hubungan dengan Uni Eropa, saya tahu bahwa posisi Inggris di NATO akan tetap tidak berubah," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan.
"Inggris akan tetap kuat dan berkomitmen pada aliansi NATO dan akan terus memainkan peran utama dalam Aliansi kami. Hari ini, seperti yang kita hadapi lebih ketidakstabilan dan ketidakpastian, NATO lebih penting daripada sebelumnya sebagai platform untuk kerjasama antar Sekutu Eropa, dan antara Eropa dan Amerika Utara," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (24/6/2016).
Label:
Konflik Eropa,
Militer Inggris,
NATO
Jumat, 24 Juni 2016
Turki Tegaskan Tak Akan Pernah Minta Maaf pada Rusia
Pemerintah Turki menegaskan mereka tidak akan pernah meminta maaf kepada Rusia terkait insiden penembakan Su-24. Rusia mengajukan dua syarat bagi Turki jika ingin hubungan kedua negara kembali normal, yakni meminta maaf dan membayar kompensasi kepada keluarga korban.
"Kami turut sedih dengan apa yang terjadi, tapi kami tidak akan membayar kompensasi atau meminta maaf atas insiden itu," kata juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin dalam sebuah pernyataan.
Kalin dalam pernyataanya juga mengatakan, pihaknya percaya baik dalam waktu dekat ataupun panjang hubungan Turki dan Rusia akan kembali membaik. Sebab, bila dibiarkan terus seperti ini, hal ini akan berdampak buruk bagi kedua negara.
"Kami turut sedih dengan apa yang terjadi, tapi kami tidak akan membayar kompensasi atau meminta maaf atas insiden itu," kata juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin dalam sebuah pernyataan.
Kalin dalam pernyataanya juga mengatakan, pihaknya percaya baik dalam waktu dekat ataupun panjang hubungan Turki dan Rusia akan kembali membaik. Sebab, bila dibiarkan terus seperti ini, hal ini akan berdampak buruk bagi kedua negara.
Label:
Konflik Eropa,
Pesawat Tempur,
Rusia,
Turki
Minggu, 19 Juni 2016
Norwegia Belanja Jet Tempur dan Kapal Selam Untuk Antisipasi Invasi Militer Rusia
Norwegia mengumumkan rencana meningkatkan alutsista militer terbesar
sejak akhir Perang Dingin untuk meningkatkan pertahanannya terhadap
serangan tidak terduga Rusia.
Negara Skandinavia anggota NATO itu berencana membeli jet tempur baru dan kapal selam untuk meningkatkan kemampuan melindungi diri dari Rusia di perbatasan Arktik. Norwegia diramalkan akan membeli 52 jet tempur F-35 dan empat kapak selam, serta pesawat pengintai baru untuk mengganti enam pesawat P-3 Orion yang dinilai sudah tua.
"Kami memiliki tetangga yang semakin tak terduga di Timur, yang memperkuat kapasitas militernya dan menunjukkan kesediaan untuk menggunakan kekuatan militer sebagai alat politik," kata Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, seperti dikutip dari France24, Minggu (19/6/2016).
Negara Skandinavia anggota NATO itu berencana membeli jet tempur baru dan kapal selam untuk meningkatkan kemampuan melindungi diri dari Rusia di perbatasan Arktik. Norwegia diramalkan akan membeli 52 jet tempur F-35 dan empat kapak selam, serta pesawat pengintai baru untuk mengganti enam pesawat P-3 Orion yang dinilai sudah tua.
"Kami memiliki tetangga yang semakin tak terduga di Timur, yang memperkuat kapasitas militernya dan menunjukkan kesediaan untuk menggunakan kekuatan militer sebagai alat politik," kata Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, seperti dikutip dari France24, Minggu (19/6/2016).
Label:
Kapal Selam,
Konflik Eropa,
Militer Norwegia,
Pesawat Tempur,
Rusia
Pemerintah Jerman Sebut NATO Gila Perang
Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengecam latihan militer NATO di Eropa Timur. Steinmeier bahkan menyebut aliansi bentukan Amerika Serikat (AS) itu sebagai organisasi gila perang.
Steinmeier mengatakan, manuver luas yang diluncurkan NATO pada bulan ini kontraproduktif terhadap keamanan regional dan memanaskan ketegangan dengan Rusia. Ia pun mendesak NATO untuk mengganti latihan militer dengan dialog dan kerjasama dengan Rusia.
"Apa yang kita lakukan saat ini adalah mengobarkan situasi lebih lanjut melalui pamer kekuatan senjata dan menghasut perang," kata Steinmeier dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di surat kabar Bild am Sontag Jerman.
![]() |
| Kebijakan latihan perang NATO dianggap memanaskan hubungan dengan Rusia (Insert: Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier) | (Sindonews/Ian) |
Steinmeier mengatakan, manuver luas yang diluncurkan NATO pada bulan ini kontraproduktif terhadap keamanan regional dan memanaskan ketegangan dengan Rusia. Ia pun mendesak NATO untuk mengganti latihan militer dengan dialog dan kerjasama dengan Rusia.
"Apa yang kita lakukan saat ini adalah mengobarkan situasi lebih lanjut melalui pamer kekuatan senjata dan menghasut perang," kata Steinmeier dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di surat kabar Bild am Sontag Jerman.
Sabtu, 18 Juni 2016
Rusia Siapkan "Tentara Super" untuk Perang Dunia III Lawan NATO
Presiden Rusia Vladimir Putin saat ini sedang membangun ‘tentara super’ dan mempersiapkan konflik ‘skala besar’, seperti dirilis The Sun, Kamis (16/6/2016).
Menurut para pakar intelijen, Putin melakukan langkah-langkah tersebut untuk mengantisipasi aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berusaha untuk mengontrolnya.
Dinas intelijen Kanada, CSIC (The Sun menyebutnya MI6), melaporkan, Putin sedang mempersiapkan ‘tentara super’ Rusia untuk Perang Dunia III melawan NATO.
MI6 telah memperingatkan bahwa militer Rusia sedang berusaha memodernisasi diri dalam persiapan untuk perang di Eropa Timur.
Menurut para pakar intelijen, Putin melakukan langkah-langkah tersebut untuk mengantisipasi aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berusaha untuk mengontrolnya.
Dinas intelijen Kanada, CSIC (The Sun menyebutnya MI6), melaporkan, Putin sedang mempersiapkan ‘tentara super’ Rusia untuk Perang Dunia III melawan NATO.
MI6 telah memperingatkan bahwa militer Rusia sedang berusaha memodernisasi diri dalam persiapan untuk perang di Eropa Timur.
Senin, 13 Juni 2016
Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia, Pemerintah Jerman Tuai Kecaman
Langkah Jerman untuk memimpin latihan perang NATO di dekat perbatasan Rusia membuat Pemerintah Kanselir Angela Merkel dikecam. Alasannya, langkah itu bisa memicu Perang Dingin baru atau bahkan lebih buruk.
Kecaman muncul dari mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Menurutnya, memimpin latihan perang NATO di dekat Rusia adalah “kesalahan serius”.
Latihan perang NATO bertajuk “Anaconda-2016” yang dipimpin Jerman itu berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahun ke-75 invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941.
Manuver besar-besaran NATO ini berpusat di Polandia dengan melibatkan lebih dari 30 ribu tentara. Latihan perang ini dianggap Rusia sebagai provokasi terbesar sejak Perang Dunia II.
Kecaman muncul dari mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Menurutnya, memimpin latihan perang NATO di dekat Rusia adalah “kesalahan serius”.
Latihan perang NATO bertajuk “Anaconda-2016” yang dipimpin Jerman itu berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahun ke-75 invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941.
Manuver besar-besaran NATO ini berpusat di Polandia dengan melibatkan lebih dari 30 ribu tentara. Latihan perang ini dianggap Rusia sebagai provokasi terbesar sejak Perang Dunia II.
Label:
Jerman,
Konflik Eropa,
Latihan Militer,
Rusia
Langganan:
Postingan (Atom)


















