Pemerintah Amerika Serikat dan Rusia menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan meminimalkan risiko kontak antara pesawat-pesawat kedua negara di wilayah udara Suriah.
Penandatanganan dilakukan setelah muncul beberapa kasus yang oleh Washington dikatakan sebagai tindakan "ceroboh dan tidak profesional" yang dilakukan pilot-pilot Rusia dengan menerbangkan pesawat terlalu dekat ke posisi pesawat Amerika.
Pekan lalu para pejabat AS mengatakan pesawat dari kedua negara "memasuki ruang pertempuran yang sama" dan hanya berjarak beberapa kilometer saja.
Juru bicara Kementerian Pertahanan AS, Peter Cook, mengatakan nota kesepahaman ini memuat prosedur yang harus diikuti oleh para awak pesawat, termasuk terbang dalam jarak yang aman dengan pesawat-pesawat lain dan menjaga komunikasi secara terus menerus dengan petugas di darat.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Rabu, 21 Oktober 2015
Kanada akan tarik pesawat tempur dari Suriah dan Irak
Perdana Menteri Kanada yang baru terpilih, Justin Trudeau, memastikan bahwa dia akan menarik mundur armada pesawat tempur dari operasi militer melawan kelompok milisi ISIS di Irak dan Suriah.
Keputusan Trudeau itu disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama beberapa jam setelah memimpin Partai Liberal memenangi pemilihan umum.
“Saya berkomitmen untuk terus terlibat dalam cara yang bertanggung jawab dalam memahami betapa penting peran Kanada pada peperangan melawan ISIS. Namun, dia (Barack Obama) memahami komitmen yang saya buat terkait mengakhiri misi,” kata Trudeau kepada wartawan di Ottawa, Selasa (20/10) waktu setempat.
![]() |
| Operasi militer melawan ISIS di Irak dan Suriah diikuti sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. |
Keputusan Trudeau itu disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama beberapa jam setelah memimpin Partai Liberal memenangi pemilihan umum.
“Saya berkomitmen untuk terus terlibat dalam cara yang bertanggung jawab dalam memahami betapa penting peran Kanada pada peperangan melawan ISIS. Namun, dia (Barack Obama) memahami komitmen yang saya buat terkait mengakhiri misi,” kata Trudeau kepada wartawan di Ottawa, Selasa (20/10) waktu setempat.
Label:
Irak,
Kanada,
Konflik Timur Tengah,
Pesawat Tempur,
Suriah
Reuni Keluarga Korea yang Terpisahkan oleh Perang
Ratusan warga Korea Selatan berangkat ke utara untuk melakukan perjumpaan yang langka dengan keluarga yang terpisah sejak Perang Korea.
Reuni keluarga yang terdiri dari serangkaian perjumpaan selama sepekan, akan dilangsungkan di sebuah resor di Gunung Kumgang, dekat perbatasan.
Ribuan keluarga terpisahkan dengan sedikit kontak atau tanpa kontak sama sekali sejak perang berakhir tahun 1953.
Pertemuan antar keluarga beberapa kali berlangsung sejak 1988, dan tergantung dari situasi hubungan antara kedua negara.
Reuni keluarga yang terdiri dari serangkaian perjumpaan selama sepekan, akan dilangsungkan di sebuah resor di Gunung Kumgang, dekat perbatasan.
Ribuan keluarga terpisahkan dengan sedikit kontak atau tanpa kontak sama sekali sejak perang berakhir tahun 1953.
Pertemuan antar keluarga beberapa kali berlangsung sejak 1988, dan tergantung dari situasi hubungan antara kedua negara.
Selasa, 20 Oktober 2015
4 Senjata Canggih Rusia Untuk Habisi ISIS di Suriah
Federasi Rusia mulai awal Oktober resmi terjun memerangi Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Pangkalan udara di Heymin, Suriah, menjadi titik utama pengiriman jet Sukhoi SU-25 buat membombardir markas-markasmilitan khilafah yang dianggap merongrong sekutu mereka, Presiden Suriah Basyar al-Assad.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menuding operasi militer Rusia di Suriah lebih banyak bertujuan mengamankan posisi Assad. Sejak awal Oktober, menurut intelijen AS, lebih dari 90 persen target yang dibom jet tempur Rusia justru basis kelompok pemberontak Sunni.
Laporan ini berbeda dari janji Presiden Vladimir Putin yang beralasan mengirim bermacam alutsista ke Suriah untuk menghancurkan militan (ISIS) serta teroris lainnya.
Dubes Rusia membantah bila serangan di Suriah membunuh warga sipil dan anak kecil, maupun lebih banyak menyerang markas pemberontak Suriah. Dia menuding isu-isu itu dilontarkan oleh media Barat.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menuding operasi militer Rusia di Suriah lebih banyak bertujuan mengamankan posisi Assad. Sejak awal Oktober, menurut intelijen AS, lebih dari 90 persen target yang dibom jet tempur Rusia justru basis kelompok pemberontak Sunni.
Laporan ini berbeda dari janji Presiden Vladimir Putin yang beralasan mengirim bermacam alutsista ke Suriah untuk menghancurkan militan (ISIS) serta teroris lainnya.
Dubes Rusia membantah bila serangan di Suriah membunuh warga sipil dan anak kecil, maupun lebih banyak menyerang markas pemberontak Suriah. Dia menuding isu-isu itu dilontarkan oleh media Barat.
Jet Tempur F-16 AS Kena Tembak Taliban di Afghanistan
Jet tempur F-16 milik Amerika Serikat tertembak saat menjalankan misi di
Afghanistan. Insiden semacam ini tergolong langka terjadi pada jet
tempur AS yang banyak digunakan dalam misi di beberapa negara.
Dituturkan pejabat militer AS yang enggan disebut namanya kepada AFP, Senin (19/10/2015), jet tempur seharga US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun ini mengalami kerusakan cukup signifikan usai ditembak saat mengudara. Jet tempur ini terpaksa membuang tangki bahan bakar dan amunisinya sebelum kembali ke pangkalan.
Serangan ini terjadi pada Selasa (13/10) pekan lalu di distrik Sayid Karam, Provinsi Paktia, yang diketahui dikuasai oleh Taliban. Hingga kini, Taliban melakukan perlawanan terhadap pasukan NATO yang dipimpin AS sejak tahun 2001 lalu. Dalam pernyataannya melalui Twitter, Taliban mengklaim sebagai pihak yang menembak jet tempur AS tersebut.
Foto yang didapat AFP dan dilihat oleh pakar militer yang berbasis di London J Chacko menunjukkan bahwa jet tempur ini kehilangan dua tangkinya yang biasa digunakan saat memperpanjang penerbangan, kemudian kehilangan rudal udara-ke-darat dan dua bom yang tidak memiliki pengendali jarak jauh.
Dituturkan pejabat militer AS yang enggan disebut namanya kepada AFP, Senin (19/10/2015), jet tempur seharga US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun ini mengalami kerusakan cukup signifikan usai ditembak saat mengudara. Jet tempur ini terpaksa membuang tangki bahan bakar dan amunisinya sebelum kembali ke pangkalan.
Serangan ini terjadi pada Selasa (13/10) pekan lalu di distrik Sayid Karam, Provinsi Paktia, yang diketahui dikuasai oleh Taliban. Hingga kini, Taliban melakukan perlawanan terhadap pasukan NATO yang dipimpin AS sejak tahun 2001 lalu. Dalam pernyataannya melalui Twitter, Taliban mengklaim sebagai pihak yang menembak jet tempur AS tersebut.
Foto yang didapat AFP dan dilihat oleh pakar militer yang berbasis di London J Chacko menunjukkan bahwa jet tempur ini kehilangan dua tangkinya yang biasa digunakan saat memperpanjang penerbangan, kemudian kehilangan rudal udara-ke-darat dan dua bom yang tidak memiliki pengendali jarak jauh.
Label:
Amerika,
Konflik Timur Tengah,
Pesawat Tempur,
Taliban
Jumat, 16 Oktober 2015
Jelang pilkada serentak, Menko Polhukam yakin TNI-Polri Loyal dan tunduk pada UU
Pesawat tempur Turki menembak jatuh drone misterius yang mengudara di wilayah udaranya, dekat perbatasan Suriah. Menanggapi hal ini, pejabat Amerika Serikat meyakini drone itu milik Rusia yang sedang menjalankan misi militer di Suriah.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (16/10/2015), militer Turki menyatakan jet tempurnya telah menembak jatuh sebuah pesawat misterius yang terus mengudara di wilayah udaranya, meskipun telah diperingatkan sebanyak tiga kali. Penembakan ini sesuai dengan aturan yang berlaku.
Televisi setempat, NTV melaporkan pesawat misterius ini masuk hingga sejauh 3 kilometer ke wilayah udara Turki. "Itu sebuah drone. Kami berusaha mengidentifikasi asal negaranya," ucap seorang pejabat senior Turki kepada Reuters.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (16/10/2015), militer Turki menyatakan jet tempurnya telah menembak jatuh sebuah pesawat misterius yang terus mengudara di wilayah udaranya, meskipun telah diperingatkan sebanyak tiga kali. Penembakan ini sesuai dengan aturan yang berlaku.
Televisi setempat, NTV melaporkan pesawat misterius ini masuk hingga sejauh 3 kilometer ke wilayah udara Turki. "Itu sebuah drone. Kami berusaha mengidentifikasi asal negaranya," ucap seorang pejabat senior Turki kepada Reuters.
Kamis, 15 Oktober 2015
Jet Rusia Terbang Dekat Pesawat AS di Suriah
Pemerintah Rusia mengatakan salah satu jet tempurnya telah mendekati sebuah pesawat koalisi pimpinan Amerika Serikat di Suriah untuk proses identifikasi.
Kejadian ini merupakan kekhawatiran AS, yang khawatir jet Rusia dan AS dapat bertabrakan karena padatnya misi penerbangan di Suriah.
"Pilot kami berbelok dan terbang ke jarak antara dua hingga tiga kilometer (dari pesawat), tapi bukan untuk melukai seseorang, tapi untuk mengidentifikasi objek itu milik siapa," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov, seperti dilansir AFP, Rabu (14/10/2015).
Konashenkov mengatakan ini "bukan kali pertamanya" kejadian seperti itu terjadi. Pilot Rusia disebutnya kerap melihat langsung pesawat jet dan drone AS di langit Suriah.
Kejadian ini merupakan kekhawatiran AS, yang khawatir jet Rusia dan AS dapat bertabrakan karena padatnya misi penerbangan di Suriah.
"Pilot kami berbelok dan terbang ke jarak antara dua hingga tiga kilometer (dari pesawat), tapi bukan untuk melukai seseorang, tapi untuk mengidentifikasi objek itu milik siapa," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov, seperti dilansir AFP, Rabu (14/10/2015).
Konashenkov mengatakan ini "bukan kali pertamanya" kejadian seperti itu terjadi. Pilot Rusia disebutnya kerap melihat langsung pesawat jet dan drone AS di langit Suriah.
Label:
Amerika,
ISIS,
Pesawat Tempur,
Rusia,
Suriah
Langganan:
Postingan (Atom)






