Direktur intelijen nasional Amerika Serikat (AS), James Clapper mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus fokus dalam hal membatasi kemampuan nuklir Korea Utara (Korut). Menurutnya, meyakinkan Korut untuk menghentikan pengembangan nuklir adalah hal yang sia-sia.
"Saya pikir gagasan untuk denuklirisasi Korut adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan melakukan itu karena itu adalah tiket mereka untuk bertahan hidup," katanya didepan Dewan Hubungan Luar Negeri seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (27/10/2016).
Clapper lantas menjelaskan perjalanannya ke Korut pada tahun 2014 lalu untuk menjamin pembebasan dua warga AS. Ia memberikan penilaian 'good taste' atas pengembangan nuklir dari perspektif negara itu.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Korea Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea Utara. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Oktober 2016
Rabu, 24 Agustus 2016
Peluncuran Rudal Balistik Korea Utara dari Kapal Selam Tuai Kecaman
Militer Korea Urtara telah meluncurkan rudal balistik dari kapal selam di lepas pantai timur pagi ini (24/8/2016). Manuver rudal terbaru Korut ini dipantau militer Korea Selatan.
Korut semakin gencar menembakkan rudal balistik meski sudah dijatuhi rentetan sanksi berbagai negara karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Pihak Staf Gabungan Militer Korea Selatan, seperti dikutip Reuters mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.
Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.
Korut semakin gencar menembakkan rudal balistik meski sudah dijatuhi rentetan sanksi berbagai negara karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Pihak Staf Gabungan Militer Korea Selatan, seperti dikutip Reuters mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.
Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.
Selasa, 12 Juli 2016
Amerika Jatuhkan Sanksi, Korea Utara Putus Jalur Diplomasi
Korea Utara (Korut) menyatakan, bahwa mereka akan menutup jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS). Jalur diplomasi yang akan ditutup merupakan satu-satunya jalur diplomasi yang dimiliki kedua negara.
Melansir Reuters pada Senin (11/7), penutupan jalur diplomasi ini merupakan respon lanjutan atas tindakan AS yang menjatuhkan sanksi kepada 10 pejabat tinggi Korut, termasuk di dalamnya pemimpin Korut Kim Jong-un.
Sanksi itu berupa pembekuan harta para pejabat Korut yang berada dalam yurisdiksi AS dan melarang orang atau badan di AS untuk melakukan transaksi dengan para pejabat atau entitas tersebut.
Melansir Reuters pada Senin (11/7), penutupan jalur diplomasi ini merupakan respon lanjutan atas tindakan AS yang menjatuhkan sanksi kepada 10 pejabat tinggi Korut, termasuk di dalamnya pemimpin Korut Kim Jong-un.
Sanksi itu berupa pembekuan harta para pejabat Korut yang berada dalam yurisdiksi AS dan melarang orang atau badan di AS untuk melakukan transaksi dengan para pejabat atau entitas tersebut.
Jumat, 24 Juni 2016
Amerika Serikat Desak PBB Kecam Uji Coba Rudal Korea Utara
Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Samantha Power, menyerukan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk bersatu dan mendesak PBB untuk mengecam uji coba rudal Korea Utara (Korut). Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan darurat DK PBB pasca Korut menembakan dua rudal balistik.
Jepang dan AS, setelah berkonsultasi dengan Korea Selatan (Korsel), meminta briefing tertutup kepada Sekretariat PBB atas penembakan uji coba dua rudal balistik jarak menengah yang dilakukan Korut.
"Pembangkangan Korut terhadap hukum internasional terus terulang. Ini menggaribawahi betapa pentingnya bagi kita untuk bergerak bersama-sama guna memastikan konsekuensi atas perilaku inheren destabilisasi ini, dan ancaman yang melekat dalam tindakan pelangaran yang konsisten dan diulangi ini terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Power seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (23/6/2016).
Jepang dan AS, setelah berkonsultasi dengan Korea Selatan (Korsel), meminta briefing tertutup kepada Sekretariat PBB atas penembakan uji coba dua rudal balistik jarak menengah yang dilakukan Korut.
"Pembangkangan Korut terhadap hukum internasional terus terulang. Ini menggaribawahi betapa pentingnya bagi kita untuk bergerak bersama-sama guna memastikan konsekuensi atas perilaku inheren destabilisasi ini, dan ancaman yang melekat dalam tindakan pelangaran yang konsisten dan diulangi ini terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Power seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (23/6/2016).
Label:
Amerika,
Korea Utara,
PBB,
Rudal
Kamis, 23 Juni 2016
Sukses Uji Rudal Musudan, Korea Utara Percaya Diri Tandingi Amerika Serikat
Pemerintah Korea Utara (Korut) mengklaim sukses menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan. Kesuksesan itu membuat diktator muda Korut, Kim Jong-un, yakin bisa menyerang Amerika Serikat (AS) di kawasan Pasifik.
Klaim kesuksesan uji tembak rudal balistik Musudan itu diumumkan kantor berita KCNA. Pengumuman muncul setelah pada Rabu pagi, militer Korut menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan atau dikenal sebagai Hwangsong-10.
Militer AS dan Korea Selatan menganggap satu dari dua rudal Musudan yang diuji tembak rezim Kim Jong-un mengalami kegagalan.
”Uji tembak berhasil dilakukan tanpa memberikan efek sedikit pun pada keamanan negara-negara sekitar,” bunyi pengumuman yang dirilis KCNA, semalam.
Klaim kesuksesan uji tembak rudal balistik Musudan itu diumumkan kantor berita KCNA. Pengumuman muncul setelah pada Rabu pagi, militer Korut menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan atau dikenal sebagai Hwangsong-10.
Militer AS dan Korea Selatan menganggap satu dari dua rudal Musudan yang diuji tembak rezim Kim Jong-un mengalami kegagalan.
”Uji tembak berhasil dilakukan tanpa memberikan efek sedikit pun pada keamanan negara-negara sekitar,” bunyi pengumuman yang dirilis KCNA, semalam.
Selasa, 21 Juni 2016
Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara
Jepang mendeteksi tanda-tanda peluncuran misil terbaru dari Korea Utara (Korut), setelah pada awal tahun sempat mengejutkan komunitas internasional lewat uji coba bom hidrogen dan peluncuran roket ke luar angkasa.
Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.
Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).
Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.
Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.
Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).
Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.
Label:
Jepang,
Konflik Asia,
Korea Utara,
Rudal
Korea Selatan : Pyongyang Gunakan Nuklir untuk Peras Kami
Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Korsel) menuturkan, Korea Utara (Korut) menggunakan kekuatan nuklirnya untuk memeras Korsel. Korut mengancam akan menghancurkan pangkalan Amerika Serikat (AS) di Korsel, jika Negeri Gingseng itu menolak ajakan dialog Korut.
Bulan lalu, Pyongyang mendesak Seoul untuk menerima tawaran guna mengadakan pembicaraan militer dan menyerukan langkah-langkah bersama untuk melaksanakan tindakan-tindakan untuk persatuan nasional. Tawaran itu kemudian ditolak oleh Korsel.
Komite Pertahanan Korut kemarin mengatakan, mereka akan merespon penolakan tersebut dengan serangan nuklir terhadap pangkalan militer AS yang berada di Korsel.
Bulan lalu, Pyongyang mendesak Seoul untuk menerima tawaran guna mengadakan pembicaraan militer dan menyerukan langkah-langkah bersama untuk melaksanakan tindakan-tindakan untuk persatuan nasional. Tawaran itu kemudian ditolak oleh Korsel.
Komite Pertahanan Korut kemarin mengatakan, mereka akan merespon penolakan tersebut dengan serangan nuklir terhadap pangkalan militer AS yang berada di Korsel.
Minggu, 19 Juni 2016
Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang
Sebuah fragmen yang diduga berasal dari rudal milik Korea Utara (Korut) telah ditemukan di dekat pantai Jepang. Potongan rudal itu ditemukan pada hari Jumat yang lalu.
Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.
Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.
Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.
Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.
Label:
Jepang,
Korea Utara,
Militer Asia Pasifik,
Rudal
Sabtu, 18 Juni 2016
Presiden Korut, Kim Jong-un Dikabarkan Tewas Terkena Serangan Bom Bunuh Diri
Sebuah rumor mengejutkan datang dari Korea Utara. Kali ini, pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un dikabarkan tewas akibat serangan bom bunuh diri.
Adalah laman East Asia Tribune yang pertama kali mengabarkan tewasnya Ketua Partai Pekerja Korea itu. Laman berita yang berbasis di Shanghai, Tiongkok itu mengabarkan, Jong-un tewas lantaran bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan di ibu kota Korut, Pyongyang
Konon, serangan atas Jong-un itu terjadi pada Kamis (16/6) pukul 14.00 waktu setempat. Lokasi persisnya ada di Distrik Potonggang.
Saat itu Jong-un tengah menghadiri sebuah acara kenegaraan di pinggir Sungai Potong. Tiba-tiba ada seorang penonton yang menerobos barikade keamanan dan berlari kencang ke arah Jong-un.
Adalah laman East Asia Tribune yang pertama kali mengabarkan tewasnya Ketua Partai Pekerja Korea itu. Laman berita yang berbasis di Shanghai, Tiongkok itu mengabarkan, Jong-un tewas lantaran bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan di ibu kota Korut, Pyongyang
Konon, serangan atas Jong-un itu terjadi pada Kamis (16/6) pukul 14.00 waktu setempat. Lokasi persisnya ada di Distrik Potonggang.
Saat itu Jong-un tengah menghadiri sebuah acara kenegaraan di pinggir Sungai Potong. Tiba-tiba ada seorang penonton yang menerobos barikade keamanan dan berlari kencang ke arah Jong-un.
Kamis, 16 Juni 2016
Amerika Serikat yakini Korut Sedang Perluas Produksi Senjata Nuklir
Sebuah lembaga penelitian Amerika Serikat (AS) mengatakan, Korea Utara (Korut) kemungkinan secara signifikan memperluas produksi senjata nuklirnya. Korut disebut bisa menambahkan enam atau lebih senjata ke gudang senjata miliknya dalam 18 bulan terakhir.
Sebelumnya, Lembaga Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington tahun lalu memperkirakan Korut telah memiliki 10 sampai 16 senjata nuklir pada akhir 2014. Laporan ini kemudian direvisi oleh lembaga David Albright dan Serena Kelleher-Vergantini.
Lembaga ini mengatakan, Korut kemungkinan telah menambah empat sampai enam senjata sejak saat itu, sehingga total mencapai 13 sampai 21 atau bahkan lebih. Laporan ini tidak memperhitungkan kemungkinan produksi tambahan yang berasal dari pabrik centrifuge kedua, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/6/2016).
Sebelumnya, Lembaga Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington tahun lalu memperkirakan Korut telah memiliki 10 sampai 16 senjata nuklir pada akhir 2014. Laporan ini kemudian direvisi oleh lembaga David Albright dan Serena Kelleher-Vergantini.
Lembaga ini mengatakan, Korut kemungkinan telah menambah empat sampai enam senjata sejak saat itu, sehingga total mencapai 13 sampai 21 atau bahkan lebih. Laporan ini tidak memperhitungkan kemungkinan produksi tambahan yang berasal dari pabrik centrifuge kedua, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/6/2016).
Kamis, 28 April 2016
Amerika Siapkan Opsi Lain Hadapi Program Nuklir Korea Utara
Amerika Serikat memperingatkan Korea Utara (Korut) untuk tidak menambah runyam situasi di Semenanjung Korea. AS bahkan menyatakan akan melihat 'pilihan lain' untuk menghadapi program nuklir dan rudal Korut.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner memperingatkan, Washington akan melihat 'pilihan lain' jika Korut terus menerus melakukan uji coba rudal nuklir dan balistik, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (27/4/2016).
Kendati demikian, Toner tidak mengungkapkan pilihan lain yang sedang dipertimbangkan oleh AS dalam menghadapi 'sikap nakal' negara komunis yang tertutup itu.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner memperingatkan, Washington akan melihat 'pilihan lain' jika Korut terus menerus melakukan uji coba rudal nuklir dan balistik, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (27/4/2016).
Kendati demikian, Toner tidak mengungkapkan pilihan lain yang sedang dipertimbangkan oleh AS dalam menghadapi 'sikap nakal' negara komunis yang tertutup itu.
Senin, 11 April 2016
Perwira Tinggi Intelijen Militer Korea Utara Membelot ke Korea Selatan
Seorang perwira tinggi intelijen militer Korea Utara (Korut) telah membelot ke Korea Selatan (Korsel).
Kementerian Pertahanan Korsel telah mengkonfirmasi pembelotan tersebut.
"Ya, itu benar," ujar Moon Sang-gyun, juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel seperti dilansir media Channel News Asia, Senin (11/4/2016) kepada para wartawan ketika ditanyai mengenai benar tidaknya pemberitaan kantor berita Korsel, Yonhap soal pembelotan tersebut.
Namun pejabat Korsel tersebut menolak memberikan penjelasan lebih jauh.
Media Yonhap yang mengutip sumber yang tak disebut namanya, melaporkan bahwa seorang kolonel senior Korut telah membelot pada tahun 2015, setelah bekerja di biro Korut yang ditugasi melakukan misi spionase terhadap Korsel.
Kementerian Pertahanan Korsel telah mengkonfirmasi pembelotan tersebut.
"Ya, itu benar," ujar Moon Sang-gyun, juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel seperti dilansir media Channel News Asia, Senin (11/4/2016) kepada para wartawan ketika ditanyai mengenai benar tidaknya pemberitaan kantor berita Korsel, Yonhap soal pembelotan tersebut.
Namun pejabat Korsel tersebut menolak memberikan penjelasan lebih jauh.
Media Yonhap yang mengutip sumber yang tak disebut namanya, melaporkan bahwa seorang kolonel senior Korut telah membelot pada tahun 2015, setelah bekerja di biro Korut yang ditugasi melakukan misi spionase terhadap Korsel.
Kamis, 07 April 2016
Panama Papers: Pendanaan Program Nuklir Korea Utara Dibantu Bankir Inggris
Seorang bankir asal Inggris disebut mendirikan perusahaan offshore rahasia yang diduga digunakan oleh rezim Korea Utara (Korut) untuk membantu menjual senjata dan meningkatkan program senjata nuklirnya.
Menurut Panama Papers, Nigel Cowie mendirikan perusahaan Pyongyang DCB Finance Limited. Ia mendirikan perusahaan ini bersama seorang pejabat Korut bernama Kim Chol-sam pada tahun 2006. Perusahaan ini terdaftar di British Virgin Islands seperti dikutip dari Express, Rabu (6/4/2016).
Kim Chol-sam sendiri adalah CEO dari Bank Kredit Daedong yang telah dijatuhkan sanksi. Kim diduga memfasilitasi transaksi senilai ratusan ribu dan mengelola jutaan dolar dalam rekening yang terkait dengan rezim Korut.
Menurut Panama Papers, Nigel Cowie mendirikan perusahaan Pyongyang DCB Finance Limited. Ia mendirikan perusahaan ini bersama seorang pejabat Korut bernama Kim Chol-sam pada tahun 2006. Perusahaan ini terdaftar di British Virgin Islands seperti dikutip dari Express, Rabu (6/4/2016).
Kim Chol-sam sendiri adalah CEO dari Bank Kredit Daedong yang telah dijatuhkan sanksi. Kim diduga memfasilitasi transaksi senilai ratusan ribu dan mengelola jutaan dolar dalam rekening yang terkait dengan rezim Korut.
Label:
Korea Utara,
Militer Inggris,
Nuklir
Selasa, 05 April 2016
Korea Utara Ancam Bunuh Warga AS Melebihi Serangan 9/11
Korea
Utara (Korut) kembali mengeluarkan ancaman untuk membunuh banyak warga
Amerika Serikat (AS) yang melebihi efek serangan 11 September 2001 atau
9/11.
Ancaman Korut itu dipublikasikan DPRK Today.Senjata-senjata Korut juga diklaim ditujukan untuk Gedung Putih, Pentagon dan lokasi vital AS lain.
”Jika serangan tiga pesawat sipil dari (serangan) 15 tahun yang lalu mengakibatkan 3.000 kematian dan membawa mimpi buruk bagi hidup warga AS, pecahnya perang akhir dari kita akan menghapus negara itu dari sejarah, tidak ada waktu (bagi mereka) bahkan untuk menyesal atau memiliki mimpi buruk tentang hal itu,” demikian laporan media yang dikelola Pemerintah Korut itu.
Ancaman mengerikan sudah berulang kali disuarakan rezim Kim Jong-un, termasuk yang terbaru yang ditujukan pada China. Alasannya, China yang selama ini jadi sekutu utama Pyongyang justru mendukung AS untuk menjatuhkan sanski keras terhadap Korut.
Ancaman Korut itu dipublikasikan DPRK Today.Senjata-senjata Korut juga diklaim ditujukan untuk Gedung Putih, Pentagon dan lokasi vital AS lain.
”Jika serangan tiga pesawat sipil dari (serangan) 15 tahun yang lalu mengakibatkan 3.000 kematian dan membawa mimpi buruk bagi hidup warga AS, pecahnya perang akhir dari kita akan menghapus negara itu dari sejarah, tidak ada waktu (bagi mereka) bahkan untuk menyesal atau memiliki mimpi buruk tentang hal itu,” demikian laporan media yang dikelola Pemerintah Korut itu.
Ancaman mengerikan sudah berulang kali disuarakan rezim Kim Jong-un, termasuk yang terbaru yang ditujukan pada China. Alasannya, China yang selama ini jadi sekutu utama Pyongyang justru mendukung AS untuk menjatuhkan sanski keras terhadap Korut.
Sabtu, 02 April 2016
Tak Pedulikan AS, Korea Utara Tetap Lanjutkan Program Nuklir
Korea Utara (Korut) akan mengejar program nuklir dan rudal balistik tanpa peduli Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya, dan kini terjadi keadaan "semi-perang" di semenanjung Korea, demikian diplomat senior pihak Pyongyang di Jenewa.
So Se Pyong, Duta Besar Korut untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) mengecam latihan militer bersama AS-Korea Selatan (Korsel) yang lokasinya segaja ditujukan untuk "mengancam Presiden Korut dan menaklukkan Pyongyang".
"Jika AS terus, maka kita harus membuat langkah-langkah balasan juga. Jadi, kita harus mengembangkan, dan kita harus membuat lebih banyak pencegahan, pencegahan nuklir," kata So, yang juga utusan Korut untuk Konferensi yang disponsori Komisi PBB untuk Perlucutan Senjata.
Dalam wawancara khusus berbahasa Inggris dengan Reuters, So menegaskan, "Kebijakan Simultan adalah kebijakan negara saya, dan partai saya juga, yang berarti produksi nuklir dan pembangunan ekonomi."
So Se Pyong, Duta Besar Korut untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) mengecam latihan militer bersama AS-Korea Selatan (Korsel) yang lokasinya segaja ditujukan untuk "mengancam Presiden Korut dan menaklukkan Pyongyang".
"Jika AS terus, maka kita harus membuat langkah-langkah balasan juga. Jadi, kita harus mengembangkan, dan kita harus membuat lebih banyak pencegahan, pencegahan nuklir," kata So, yang juga utusan Korut untuk Konferensi yang disponsori Komisi PBB untuk Perlucutan Senjata.
Dalam wawancara khusus berbahasa Inggris dengan Reuters, So menegaskan, "Kebijakan Simultan adalah kebijakan negara saya, dan partai saya juga, yang berarti produksi nuklir dan pembangunan ekonomi."
Jumat, 01 April 2016
Kim Jong-un Ancam Perang Nuklir dengan China
Diktator muda Korea Utara (Korut) Kim Jong-un kini menyatakan China sebagai musuh dan mengancam perang nuklir dengan Beijing.
Kim Jong-un hilang kesabaran setelah China yang selama ini dianggap sebagai sekutu utama justru mengambil bagian dalam penjatuhan sanksi keras Dewan Keamanan PBB terhadap Pyongyang.
Kejengkelan Kim Jong-un terhadap China terungkap dari dokumen Korut tertanggal 10 Maret 2016. Dalam dokumen itu, rezim Pyongyang mengutuk China yang dianggap “mengkhianati sosialisme”.
Korut, lanjut isi dokumen itu, lantas mengancam untuk menekan China dengan kekuatan “badai nuklir”. “Kita tidak lagi melangkah sepele pada China dan jangan berurusan dengan mereka,” bunyi dokumen itu.
Kim Jong-un hilang kesabaran setelah China yang selama ini dianggap sebagai sekutu utama justru mengambil bagian dalam penjatuhan sanksi keras Dewan Keamanan PBB terhadap Pyongyang.
Kejengkelan Kim Jong-un terhadap China terungkap dari dokumen Korut tertanggal 10 Maret 2016. Dalam dokumen itu, rezim Pyongyang mengutuk China yang dianggap “mengkhianati sosialisme”.
Korut, lanjut isi dokumen itu, lantas mengancam untuk menekan China dengan kekuatan “badai nuklir”. “Kita tidak lagi melangkah sepele pada China dan jangan berurusan dengan mereka,” bunyi dokumen itu.
Rabu, 30 Maret 2016
Antisipasi Militer Korut, Korsel Bentuk Pasukan Elite "Spartan 3.000"
Militer Korea Selatan (Korsel) membentuk pasukan elite baru bernama “Spartan 3.000” untuk melawan rezim Korea Utara (Korut) yang dipimpin Kim Jong-un.
Pasukan elite yang terdiri dari 3 ribu marinir itu akan siaga konstan dan siap dikerahkan di setiap bagiannya dari Semenanjung Korea dalam waktu 24 jam untuk mengatasi serangan Korut. Demikian diungkap seorang pejabat militer Korsel kepada kantor berita Yonhap.
”Di masa lalu, unit batalion membutuhkan 24 jam untuk dikerahkan di seluruh Semenanjung Korea, sementara unit tingkat resimen membutuhkan 48 jam. Namun, unit baru akan dapat beroperasi dalam waktu 24 jam bahkan pada tingkat resimen,” kata pejabat militer yang menolak diidentifikasi itu, yang dilansir Selasa (22/3/2016).
Pasukan elite yang terdiri dari 3 ribu marinir itu akan siaga konstan dan siap dikerahkan di setiap bagiannya dari Semenanjung Korea dalam waktu 24 jam untuk mengatasi serangan Korut. Demikian diungkap seorang pejabat militer Korsel kepada kantor berita Yonhap.
”Di masa lalu, unit batalion membutuhkan 24 jam untuk dikerahkan di seluruh Semenanjung Korea, sementara unit tingkat resimen membutuhkan 48 jam. Namun, unit baru akan dapat beroperasi dalam waktu 24 jam bahkan pada tingkat resimen,” kata pejabat militer yang menolak diidentifikasi itu, yang dilansir Selasa (22/3/2016).
Jumat, 25 Maret 2016
Korea Utara Sukses Uji Mesin Roket Balistik
Korea Utara (Korut) mengklaim berhasil menguji coba mesin roket balistik berbahan bakar padat yang diawasi langsung oleh pemimpin mereka, Kim Jong-un. Keberhasilan itu membuat Kim Jong-un senang.
Klaim itu muncul dari laporan kantor berita pemerintah Korut, KCNA, Kamis (24/3/2016). Jika klaim itu benar, maka rezim Pyongyang terus bekerja untuk program rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dilarang Dewan Keamanan PBB.
”(Kim) mencatat dengan senang hati bahwa tes yang sukses itu membantu meningkatkan kekuatan roket balistik yang mampu menghantam kekuatan musuh tanpa ampun,” tulis KCNA.
Klaim itu muncul dari laporan kantor berita pemerintah Korut, KCNA, Kamis (24/3/2016). Jika klaim itu benar, maka rezim Pyongyang terus bekerja untuk program rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dilarang Dewan Keamanan PBB.
”(Kim) mencatat dengan senang hati bahwa tes yang sukses itu membantu meningkatkan kekuatan roket balistik yang mampu menghantam kekuatan musuh tanpa ampun,” tulis KCNA.
Korea Utara Ancam Akan Hapus AS dari Muka Bumi
Korea Utara (Korut) terus memberikan perhatian lebih terhadap latihan militer gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dengan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea. Pyongyang bahkan kembali menebar ancaman akan menyerang kedua negara jika menemukan tanda-tanda kedua negara sekutu itu bakal melakukan agresi.
Pyongyang mengancam akan 'menghapus rezim Iblis', sebutan untuk AS, dengan serangan nuklir jika ditemukan sedikit saja tanda negara adikuasa itu akan melakukan agresi terhadap Korut. Pernyataan itu dikeluarkan Kedutaan Besar Korut di Rusia.
Pyongyang mengancam akan 'menghapus rezim Iblis', sebutan untuk AS, dengan serangan nuklir jika ditemukan sedikit saja tanda negara adikuasa itu akan melakukan agresi terhadap Korut. Pernyataan itu dikeluarkan Kedutaan Besar Korut di Rusia.
Jumat, 18 Maret 2016
Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jarak Menengah
Korea Utara dilaporkan menembakkan rudal balistik yang terbang sekitar 800km lepas pantai timur. Peluncuran rudal balistik ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi yang lebih keras dan luas kepada negara terisolasi pimpinan Kim Jong Un itu.
Kantor berita Korea Selatan menyatakan bahwa rudal yang diluncurkan pada Jumat (17/3) itu diduga merupakan rudal jarak menengah jenis Rodong.
Kepala Staf Kantor Militer Gabungan di Korea Selatan menyatakan bahwa rudal itu diluncurkan dari daerah dekat pantai barat, sebelah utara ibu kota Pyongyang. Rudal itu terbang melintasi semenanjung dan menuju pantai timur pada Jumat pagi.
Militer Korsel belum mengkonfirmasi jenis rudal, namun kemampuan rudal untuk terbang dengan jarak 800km melampaui kemampuan rudal jarak pendek yang dimiliki Korea Utara.
Kantor berita Korea Selatan menyatakan bahwa rudal yang diluncurkan pada Jumat (17/3) itu diduga merupakan rudal jarak menengah jenis Rodong.
Kepala Staf Kantor Militer Gabungan di Korea Selatan menyatakan bahwa rudal itu diluncurkan dari daerah dekat pantai barat, sebelah utara ibu kota Pyongyang. Rudal itu terbang melintasi semenanjung dan menuju pantai timur pada Jumat pagi.
Militer Korsel belum mengkonfirmasi jenis rudal, namun kemampuan rudal untuk terbang dengan jarak 800km melampaui kemampuan rudal jarak pendek yang dimiliki Korea Utara.
Langganan:
Postingan (Atom)



















