Pulau Ramree yang berada di wilayah Myanmar merupakan satu di antara pulau yang paling berbahaya di dunia, di pulau tersebut pernah terbunuh sekitar 500 tentara.
Dilain tempat, Pulau Sentinel Utara menjadi tempat yang paling berbahaya di dunia untuk dikunjungi. Hal ini dikarenakan penduduk pulau terisolir ini, yakni Suku Sentinel benar-benar tidak bisa terbuka kepada orang asing. Sehingga mereka akan menyerang siapa saja yang datang atau berlabuh di pulau tersebut.
Sementara itu, pulau Ramree di Myanmar yang dihuni oleh banyak buaya air asin ini pernah membunuh sekitar 500 tentara. Buaya air asin yang mendiami kawasan hutan bakau di Pulau Ramree merupakan jenis buaya terbesar di antara spesies buaya lainnya.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 April 2019
Jumat, 28 Oktober 2016
Jet Tempur China Dibidik Jet Tempur Jepang
China dibuat murka oleh tindakan yang dilakukan oleh jet tempur milik Jepang di dekat Laut China Timur. Jet temput Jepang dilaporkan menargetkan sebuah jet China, dan melakukan manuver yang membahayakan jet China.
Juru bicara Kemhan China, Wu Qian menyatakan, jet Jepang bukan hanya mengunci posisi jet China, tapi juga melepaskan proyektil pengecoh. Hal itu dinilai sangat membahayakan pilot jet tempur China.
"Apa yang lebih mengkhawatirkan, ketika pesawat dari Pasukan Bela Diri Jepang menghadapi pesawat Cina, radar mereka menyala. Mereka melepaskan proyektil pengecoh dan menunjukkan aksi tidak profesional dan perilaku provokatif lainnya yang berbahaya," kata Wu.
Juru bicara Kemhan China, Wu Qian menyatakan, jet Jepang bukan hanya mengunci posisi jet China, tapi juga melepaskan proyektil pengecoh. Hal itu dinilai sangat membahayakan pilot jet tempur China.
"Apa yang lebih mengkhawatirkan, ketika pesawat dari Pasukan Bela Diri Jepang menghadapi pesawat Cina, radar mereka menyala. Mereka melepaskan proyektil pengecoh dan menunjukkan aksi tidak profesional dan perilaku provokatif lainnya yang berbahaya," kata Wu.
Label:
China,
Jepang,
Konflik Asia,
Pesawat Tempur
Senin, 19 September 2016
China Tuding Jepang dan Amerika Serikat Perkeruh Konflik LCS
Kantor berita China, Xinhua, dalam editorialnya menyatakan pemerintah Xi Jinping telah melemparkan ancaman langsung kepada Jepang. China menganggap Jepang telah melewati batas dengan ikut berpartisipasi dalam latihan angkatan laut di Laut China Selatan (LCS) atas dasar Kebebasan Navigasi yang digagas Amerika Serikat (AS).
Xinhua menilai, Jepang memiliki "motif tersembunyi" untuk ikut intervensi di LCS termasuk dengan mencoba bergabung dengan AS. Jepang juga berusaha mengumpulkan pengaruh terhadap sengketa teritorial yang dihadapinya dengan China atas Kepulauan Senkaku (Diaoyu).
"Sebagai penjaga ketertiban maritim di LCS adalah tugas bersama dari negara-negara pesisir di kawasan itu, kepentingan besar orang luar seperti Jepang dalam mengikuti jejak AS hampir tidak dapat dibenarkan. Apakah Jepang benar-benar mencari perdamaian dan keamanan regional atau hanya memancing di perairan sengketa dengan meningkatkan kehadiran militer di LCS adalah bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab," begitu tulisan editorial tersebut seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (19/9/2016).
Xinhua menilai, Jepang memiliki "motif tersembunyi" untuk ikut intervensi di LCS termasuk dengan mencoba bergabung dengan AS. Jepang juga berusaha mengumpulkan pengaruh terhadap sengketa teritorial yang dihadapinya dengan China atas Kepulauan Senkaku (Diaoyu).
"Sebagai penjaga ketertiban maritim di LCS adalah tugas bersama dari negara-negara pesisir di kawasan itu, kepentingan besar orang luar seperti Jepang dalam mengikuti jejak AS hampir tidak dapat dibenarkan. Apakah Jepang benar-benar mencari perdamaian dan keamanan regional atau hanya memancing di perairan sengketa dengan meningkatkan kehadiran militer di LCS adalah bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab," begitu tulisan editorial tersebut seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (19/9/2016).
Label:
Amerika,
China,
Jepang,
Laut China Selatan
Selasa, 23 Agustus 2016
Hadapi China, Jepang Perkuat 200 Jet Tempur F-15 Dengan Tambahan Rudal 2 Kali Lipat
Kementerian Pertahanan Jepang menginginkan 200 pesawat jet tempur F-15 di-upgrade untuk bisa memuat rudal udara dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Keinginan militer Jepang itu untuk mengantisipasi kemungkinan konfrontasi dengan China setelah bersitegang terkait sengketa kawasan Laut China Timur.
Untuk meng-upgrade ratusan jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) yang akan dioperasikan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF) itu, Departemen Pertahanan Jepang akan meminta alokasi dana lebih besar. Demikian laporan Nikkei Asian Review.
Saat ini, setiap unit pesawat jet tempur F-15 bisa memuat delapan rudal udara. Dengan di-upgrade, militer Jepang menghendaki setiap jet tempur F-15 bisa memuat 16 rudal.
Selain itu, sayap rusak dan bagian lain akan diperbaiki untuk memperpanjang umur jet-jet tempur tersebut.
Untuk meng-upgrade ratusan jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) yang akan dioperasikan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF) itu, Departemen Pertahanan Jepang akan meminta alokasi dana lebih besar. Demikian laporan Nikkei Asian Review.
Saat ini, setiap unit pesawat jet tempur F-15 bisa memuat delapan rudal udara. Dengan di-upgrade, militer Jepang menghendaki setiap jet tempur F-15 bisa memuat 16 rudal.
Selain itu, sayap rusak dan bagian lain akan diperbaiki untuk memperpanjang umur jet-jet tempur tersebut.
Label:
China,
Jepang,
Konflik Asia,
Pesawat Tempur,
Rudal
Rabu, 29 Juni 2016
Jika Berminat Jepang Bisa Buat Senjata Nuklir dalam Semalam
Wakil Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada Presiden China Xi Jinping bahwa Jepang memiliki kapasitas untuk memiliki senjata nuklir dalam waktu “hampir semalam.”
Berbicara pada program Public Broadcasting Service ditayangkan Senin, 27/6/2016 Biden mengatakan ia telah mendesak Presiden China Xi Jinping, untuk mempengaruhi Korea Utara sehingga meninggalkan perkembangan rudal dan senjata nuklirnya.
Mengacu pada perilaku Pyongyang yang baru-baru ini menguji dan dan meluncurkan rudal nuklir yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, Biden mengatakan jika China dan Amerika Serikat gagal mengambil tindakan efektif terhadap Korea Utara, “Apa yang terjadi jika Jepang, memutuskan besok membuat nuklir? Mereka memiliki kapasitas untuk melakukannya untuk waktu hampir semalam.”
Biden tidak mengatakan kapan percakapannya dengan Xi berlangsung.
Berbicara pada program Public Broadcasting Service ditayangkan Senin, 27/6/2016 Biden mengatakan ia telah mendesak Presiden China Xi Jinping, untuk mempengaruhi Korea Utara sehingga meninggalkan perkembangan rudal dan senjata nuklirnya.
Mengacu pada perilaku Pyongyang yang baru-baru ini menguji dan dan meluncurkan rudal nuklir yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, Biden mengatakan jika China dan Amerika Serikat gagal mengambil tindakan efektif terhadap Korea Utara, “Apa yang terjadi jika Jepang, memutuskan besok membuat nuklir? Mereka memiliki kapasitas untuk melakukannya untuk waktu hampir semalam.”
Biden tidak mengatakan kapan percakapannya dengan Xi berlangsung.
Jumat, 24 Juni 2016
Bahas Sengketa Pulau Kuril Jepang-Rusia Lakukan Pembicaraan
Jepang dan Rusia mengadakan pembicaraan yang ditujukan untuk memecahkan masalah sengketa teritorial sejak akhir Perang Dunia (PD) II. Sengketa teritorial ini telah mencegah keduanya menandatangani perjanjian damai secara resmi untuk mengakhiri permusuhan perang.
Kedua negara memiliki hubungan diplomatik, namun hubungan kedua negara menjadi tegang oleh sengketa atas empat pulau. Jepang mengenal pulau-pulau tersebut sebagau wilayah utara dan Rusia mengenalnya sebagai bagian dari Kepulauan Kuril.
Utusan Khusus Jepang untuk hubungan Jepang-Rusia, Chikahito Harada, dan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Igor Morgulov bertemu di Tokyo untuk melakukan pertemuan satu hari pada Rabu kemarin.
"Kita akan mengatasi masalah ini dengan cara baru untuk memecahkan kebuntuan yang telah berlangsung sampai sekarang," kata Harada tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (23/6/2016).
Kedua negara memiliki hubungan diplomatik, namun hubungan kedua negara menjadi tegang oleh sengketa atas empat pulau. Jepang mengenal pulau-pulau tersebut sebagau wilayah utara dan Rusia mengenalnya sebagai bagian dari Kepulauan Kuril.
Utusan Khusus Jepang untuk hubungan Jepang-Rusia, Chikahito Harada, dan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Igor Morgulov bertemu di Tokyo untuk melakukan pertemuan satu hari pada Rabu kemarin.
"Kita akan mengatasi masalah ini dengan cara baru untuk memecahkan kebuntuan yang telah berlangsung sampai sekarang," kata Harada tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (23/6/2016).
Selasa, 21 Juni 2016
Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara
Jepang mendeteksi tanda-tanda peluncuran misil terbaru dari Korea Utara (Korut), setelah pada awal tahun sempat mengejutkan komunitas internasional lewat uji coba bom hidrogen dan peluncuran roket ke luar angkasa.
Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.
Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).
Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.
Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.
Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).
Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.
Label:
Jepang,
Konflik Asia,
Korea Utara,
Rudal
Minggu, 19 Juni 2016
Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang
Sebuah fragmen yang diduga berasal dari rudal milik Korea Utara (Korut) telah ditemukan di dekat pantai Jepang. Potongan rudal itu ditemukan pada hari Jumat yang lalu.
Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.
Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.
Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.
Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.
Label:
Jepang,
Korea Utara,
Militer Asia Pasifik,
Rudal
Sabtu, 21 Mei 2016
Putin Siap dan Bersedia Lakukan Dialog Perjanjian Damai dengan Jepang
Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia siap dan bersedia untuk mempertahankan dialog dengan Jepang, termasuk pembahasan perjanjian damai kedua negara.
"Kami siap dan bersedia untuk mempertahankan dialog dengan semua mitra, termasuk Jepang. Baik itu perjanjian damai dan masalah teritorial terkait," kata Putin dalam konferensi pers setelah pertemuan puncak Rusia-ASEAN seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (20/5/2016).
Rusia dan Jepang selama ini terlibat sengketa wilayah atas Kepulauan Kuril yang membuat keduanya belum menandatangani perjanjian perdamaian pasca Perang Dunia II.
"Kami siap dan bersedia untuk mempertahankan dialog dengan semua mitra, termasuk Jepang. Baik itu perjanjian damai dan masalah teritorial terkait," kata Putin dalam konferensi pers setelah pertemuan puncak Rusia-ASEAN seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (20/5/2016).
Rusia dan Jepang selama ini terlibat sengketa wilayah atas Kepulauan Kuril yang membuat keduanya belum menandatangani perjanjian perdamaian pasca Perang Dunia II.
Rabu, 27 April 2016
Tiba Di Filipina Kapal Destroyer Jepang Siaga Atasi kekuatan Cina di LCS
Kapal perusak (destroyer) Jepang dengan nama Ise baru saja tiba di pangkalan angkatan laut Subic di Filipina pagi ini.
"Kapal milik pasukan bela diri maritim (MSDF) Jepang ini tiba pagi ini di Filipina," ujar sumber Tribunnews.com Selasa ini (26/4/2016).
Kapal ini untuk mengantisipasi segala sesuatu yang terjadi di Laut China Selatan yang sedang dipermasalahkan saat ini.
Kedatangan kapal perusak berteknologi tinggi ini pun menyusul kapal selam Jepang yang telah datang terlebih dulu di sana untuk tujuan latihan bersama dengan pasukan Indonesia dan Vietnam.
"Kapal milik pasukan bela diri maritim (MSDF) Jepang ini tiba pagi ini di Filipina," ujar sumber Tribunnews.com Selasa ini (26/4/2016).
Kapal ini untuk mengantisipasi segala sesuatu yang terjadi di Laut China Selatan yang sedang dipermasalahkan saat ini.
Kedatangan kapal perusak berteknologi tinggi ini pun menyusul kapal selam Jepang yang telah datang terlebih dulu di sana untuk tujuan latihan bersama dengan pasukan Indonesia dan Vietnam.
Label:
China,
Jepang,
Kapal Perang,
Laut China Selatan
Jumat, 25 Maret 2016
Rusia Akan Tempatkan Drone dan Sistem Rudal di Pulau Sengketa
Menteri Pertahan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan, pihaknya berencana untuk menyebarkan sistem pertahan rudal terbarunya dan drone di pulau-pulau Kuril. Pulau-pulau Kuril adalah wilayah kepulauan yang diperebutkan Moskow dan Tokyo.
Shoigu mengatakan, senjata-senjata baru itu adalah bagian dari rencana untuk mempersenjatai kembali unit militer yang sudah dikerahkan di Kuril. Shoigu juga mengumumkan bahwa pada Oktober Rusia akan membangun pangkalan militer di pulau-pulau Kuril.
"Sistem rudal Panti Bal dan Bastion dan generasi baru drone Eleron 3 akan ditempatkan di sana tahun ini," katanya dalam pertemuan di Departemen Pertahanan Rusia seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/3/2016).
Shoigu mengatakan, senjata-senjata baru itu adalah bagian dari rencana untuk mempersenjatai kembali unit militer yang sudah dikerahkan di Kuril. Shoigu juga mengumumkan bahwa pada Oktober Rusia akan membangun pangkalan militer di pulau-pulau Kuril.
"Sistem rudal Panti Bal dan Bastion dan generasi baru drone Eleron 3 akan ditempatkan di sana tahun ini," katanya dalam pertemuan di Departemen Pertahanan Rusia seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/3/2016).
Jumat, 04 Maret 2016
Luncurkan 6 Proyektil ke Laut Jepang, PBB Jatuhkan Sanksi Baru Untuk Korea Utara
Korea Utara (Korut) meluncurkan enam proyektil jarak pendek setelah Dewan Keamanan PBB menerapkan sanksi baru bagi Korut. Proyektil itu meluncur hingga sejauh 100-150 kilometer dari Semenanjung Korea.
Disampaikan Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), seperti dilansir CNN, Kamis (3/3/2016), objek yang diluncurkan Korut itu melewati wilayah pantai timur Semenanjung Korea. Militer Korsel masih menganalisis situasi usai peluncuran proyektil ini.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Moon Sang-Gyun, menyebut objek itu ditembakkan ke wilayah Laut Timur atau Laut Jepang pada Kamis (3/3) sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Moon awalnya menyebut objek yang diluncurkan ini merupakan rudal jarak pendek, namun kemudian dia menyatakan pihak kementerian masih menganalisis lebih lanjut objek tersebut.
Disampaikan Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), seperti dilansir CNN, Kamis (3/3/2016), objek yang diluncurkan Korut itu melewati wilayah pantai timur Semenanjung Korea. Militer Korsel masih menganalisis situasi usai peluncuran proyektil ini.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Moon Sang-Gyun, menyebut objek itu ditembakkan ke wilayah Laut Timur atau Laut Jepang pada Kamis (3/3) sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Moon awalnya menyebut objek yang diluncurkan ini merupakan rudal jarak pendek, namun kemudian dia menyatakan pihak kementerian masih menganalisis lebih lanjut objek tersebut.
Jumat, 29 Januari 2016
Mengintip Pesawat Tempur Siluman F-3 Jepang
Foto-foto terbaru pesawat tempur generasi kelima Jepang, Advanced Technology Demonstrator – X (ATD-X) telah dirilis diinternet oleh Sankei Shimbun. Prototipe pertama dari pesawat tempur siluman masa depan F-3 Jepang telah dipamerkan hari ini, 28 Januari.
Sebuah prototipe pesawat tempur superioritas udara generasi ke-5 Jepang, Mitsubishi ATD-X Shinshin, akan melakukan penerbangan perdananya pada February.
Pesawat yang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknis Departemen Pertahanan Jepang (Japanese Defense Ministry’s Technical Research and Development Institute -TRDI), akan menjalani taxi dan uji darat di pusat pengujian Mitsubishi Heavy Industries di Prefektur Aichi, sebelum diterbangkan ‘kemungkinan pada bulan Februari’.
Sebuah prototipe pesawat tempur superioritas udara generasi ke-5 Jepang, Mitsubishi ATD-X Shinshin, akan melakukan penerbangan perdananya pada February.
Pesawat yang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknis Departemen Pertahanan Jepang (Japanese Defense Ministry’s Technical Research and Development Institute -TRDI), akan menjalani taxi dan uji darat di pusat pengujian Mitsubishi Heavy Industries di Prefektur Aichi, sebelum diterbangkan ‘kemungkinan pada bulan Februari’.
Kamis, 07 Januari 2016
Jepang : Tak Ada Radiasi Setelah Uji Coba Nuklir Korea Utara
Jepang, Kamis (7/1/2016), mengatakan bahwa tidak ada perubahan tingkat radiasi di wilayahnya, menyusul klaim Korea Utara sehari sebelumnya soal uji coba bom hidrogen.
Kekhawatiran melanda Jepang terkait potensi radiasi bisa menyebar melintasi laut dari Korea Utara setiap kali negara itu melakukan uji coba nuklir bawah tanah. Namun, selama ini, belum pernah ada radiasi yang terlacak mencapai negara itu setelah tiga kali uji coba nuklir Korea Utara sebelumnya.
Jepang sangat sensitif terhadap uji coba nuklir dan rudal Korea Utara saat angin bertiup dari Semenanjung Korea menuju Jepang dan roket balistik Pyongyang sudah pernah terbang di atas Jepang sebelum jatuh di Samudra Pasifik.
Kekhawatiran melanda Jepang terkait potensi radiasi bisa menyebar melintasi laut dari Korea Utara setiap kali negara itu melakukan uji coba nuklir bawah tanah. Namun, selama ini, belum pernah ada radiasi yang terlacak mencapai negara itu setelah tiga kali uji coba nuklir Korea Utara sebelumnya.
Jepang sangat sensitif terhadap uji coba nuklir dan rudal Korea Utara saat angin bertiup dari Semenanjung Korea menuju Jepang dan roket balistik Pyongyang sudah pernah terbang di atas Jepang sebelum jatuh di Samudra Pasifik.
Selasa, 13 Oktober 2015
India, AS, Jepang Gelar Latihan Angkatan Laut Gabungan
India, Jepang dan Amerika Serikat memulai latihan angkatan laut gabungan selama sepekan yang dimulai Senin kemarin. Latihan yang secara resmi akan rutin dilakukan setiap tahun disinyalir memicu protes dari China yang menganggap AS menggalang dukungan di Asia untuk melawan klaim mereka di Laut China Selatan.
Sumber pemerintah India kepada Reuters mengatakan latihan ini akan dilakukan oleh ketiga negara setiap tahunnya selama delapan tahun di Teluk Bengal. Latihan dengan sandi Malabar ini adalah yang pertama kalinya dilakukan sejak tahun 2007 setelah China melancarkan protes. China saat itu mengatakan bahwa AS mencoba membentuk aliansi pertahanan serupa NATO di Asia.
Namun Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan bahwa latihan gabungan ini adalah bentuk peningkatan hubungan strategis dengan Jepang dan AS, tidak ada hubungannya dengan klaim China di Laut China Selatan.
Sumber pemerintah India kepada Reuters mengatakan latihan ini akan dilakukan oleh ketiga negara setiap tahunnya selama delapan tahun di Teluk Bengal. Latihan dengan sandi Malabar ini adalah yang pertama kalinya dilakukan sejak tahun 2007 setelah China melancarkan protes. China saat itu mengatakan bahwa AS mencoba membentuk aliansi pertahanan serupa NATO di Asia.
Namun Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan bahwa latihan gabungan ini adalah bentuk peningkatan hubungan strategis dengan Jepang dan AS, tidak ada hubungannya dengan klaim China di Laut China Selatan.
Label:
Amerika,
India,
Jepang,
Latihan Militer
Rabu, 23 September 2015
Total Intelijen! Sejarah Spionase Jepang
SPIONASE Jepang telah dimulai semenjak 2.478 tahun silam, sejak Sun Tzu, ahli strategi Tiongkok, menyebarkan teknik-tekniknya di bidang intelijen.
Makanya banyak cendikiawan Jepang menyatakan hormat dan berutang budi intelektual kepada Sun Tzu karena Ping Fa (Seni Perang) yang ditulisnya meletakkan dasar-dasar teknik intelijen yang menakjubkan.
Bahkan, aksioma utama bagi spionase Jepang adalah pernyataan Sun Tzu; “Apabila Anda mengenal diri sendiri dan mengenal musuh, Anda bisa memenangkan pertempuran. Mengalahkan musuh secara psikologis merupakan strategi unggul. Mengalahkan musuh secara militer merupakan strategi yang asor.”
Makanya banyak cendikiawan Jepang menyatakan hormat dan berutang budi intelektual kepada Sun Tzu karena Ping Fa (Seni Perang) yang ditulisnya meletakkan dasar-dasar teknik intelijen yang menakjubkan.
Bahkan, aksioma utama bagi spionase Jepang adalah pernyataan Sun Tzu; “Apabila Anda mengenal diri sendiri dan mengenal musuh, Anda bisa memenangkan pertempuran. Mengalahkan musuh secara psikologis merupakan strategi unggul. Mengalahkan musuh secara militer merupakan strategi yang asor.”
Jumat, 18 September 2015
Parlemen Jepang Sahkan RUU Keamanan, Pasukan Militer Kini Bisa Bantu Negara Luar
Walaupun sempat menimbulkan kericuhan di sidang parlemen Jepang, pengesahan RUU keamanan di Negeri Sakura akhirnya tetap disahkan. Komite khusus parlemen Jepang mengesahkan RUU keamanan yang memungkinkan pengiriman pasukan militer ke luar negeri untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.
Seperti dilansir AFP melalui Jiji News, Jumat (18/9/2015), langkah untuk mengesahkan RUU tersebut terus berjalan meskipun ada perlawanan sengit dari anggota parlemen dan ribuan pengunjuk rasa di luar gedung parlemen.
Sesuai RUU tersebut, militer Jepang yang dikenal sebagai Self-Defense Forces akan memiliki opsi untuk ikut berperang melindungi sekutu-sekutu seperti Amerika Serikat, meskipun tak ada ancaman langsung bagi negara Jepang atau rakyatnya.
Seperti dilansir AFP melalui Jiji News, Jumat (18/9/2015), langkah untuk mengesahkan RUU tersebut terus berjalan meskipun ada perlawanan sengit dari anggota parlemen dan ribuan pengunjuk rasa di luar gedung parlemen.
Sesuai RUU tersebut, militer Jepang yang dikenal sebagai Self-Defense Forces akan memiliki opsi untuk ikut berperang melindungi sekutu-sekutu seperti Amerika Serikat, meskipun tak ada ancaman langsung bagi negara Jepang atau rakyatnya.
Kamis, 17 September 2015
Pesawat Rusia Tiba-tiba Melintas, Jepang Kerahkan 4 Jet Tempur
Otoritas Jepang mendeteksi sebuah pesawat asing yang diyakini pesawat militer Rusia yang melanggar wilayah udaranya. Militer Jepang mengerahkan empat jet tempurnya untuk mengawal pesawat asing ini.
Kementerian Luar Negeri Jepang melayangkan protes kepada Kedutaan Besar Rusia di Tokyo setelah mendeteksi sebuah pesawat masuk ke wilayah udara Jepang, tepatnya di dekat pantai Hokkaido, pulau paling utara negara tersebut pada Selasa (15/9). Pesawat itu terbang di dekat gugusan pulau yang menjadi sengketa.
"Kami melayangkan protes melalui Kedutaan Besar Rusia di Tokyo," tutur seorang pejabat pada Kementerian Luar Negeri Jepang kepada AFP, Rabu (16/9/2015).
"Pihak Rusia belum mengkonfirmasi hal ini, hanya mengatakan mereka akan memeriksanya," imbuh pejabat yang enggan disebut namanya ini.
Kementerian Luar Negeri Jepang melayangkan protes kepada Kedutaan Besar Rusia di Tokyo setelah mendeteksi sebuah pesawat masuk ke wilayah udara Jepang, tepatnya di dekat pantai Hokkaido, pulau paling utara negara tersebut pada Selasa (15/9). Pesawat itu terbang di dekat gugusan pulau yang menjadi sengketa.
"Kami melayangkan protes melalui Kedutaan Besar Rusia di Tokyo," tutur seorang pejabat pada Kementerian Luar Negeri Jepang kepada AFP, Rabu (16/9/2015).
"Pihak Rusia belum mengkonfirmasi hal ini, hanya mengatakan mereka akan memeriksanya," imbuh pejabat yang enggan disebut namanya ini.
Selasa, 01 September 2015
Jepang keluhkan rencana kehadiran Ban Ki-moon di parade militer Tiongkok
Pemerintahan Jepang mengeluh kepada PBB atas rencana Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon menghadiri parade besar militer di Beijing guna memperingati 70 tahun kekalahan Jepang di Perang dunia II.
Juru bicara pemerintah Yoshihide Suga menyeru PBB bersikap "netral" setelah Tokyo menyampaikan keluhan kepada badan dunia beranggotakan 193 negara itu pada Jumat.
"Kami ingin mendorong negara anggota melihat ke masa depan dan tidak perlu fokus pada peristiwa tertentu pada masa lalu," kata Suga dalam jumpa pers pada Senin.
Acara parade itu direncanakan dilakukan pada Kamis, ajang pamer kekuatan saat Tiongkok mengambil sikap lebih tegas di kawasan dan akan melibatkan 12 ribu tentara serta 500 peralatan di Lapangan Tiananmen, dengan hampir 200 pesawat terbang.
Juru bicara pemerintah Yoshihide Suga menyeru PBB bersikap "netral" setelah Tokyo menyampaikan keluhan kepada badan dunia beranggotakan 193 negara itu pada Jumat.
"Kami ingin mendorong negara anggota melihat ke masa depan dan tidak perlu fokus pada peristiwa tertentu pada masa lalu," kata Suga dalam jumpa pers pada Senin.
Acara parade itu direncanakan dilakukan pada Kamis, ajang pamer kekuatan saat Tiongkok mengambil sikap lebih tegas di kawasan dan akan melibatkan 12 ribu tentara serta 500 peralatan di Lapangan Tiananmen, dengan hampir 200 pesawat terbang.
Senin, 10 Agustus 2015
Komitmen PM Abe Soal Senjata Nuklir Dikritik Korban Bom Atom Nagasaki
Sebuah upacara yang penuh emosial diadakan di kota Nagasaki, Jepang untuk memperingati 70 tahun jatuhnya bom atom oleh AS di kota tersebut. Dalam pidatonya di upacara peringatan, Perdana Menteri Shinzo Abe memperbaharui komitmennya mengenai Jepang bebas dari senjata nuklir.
Seperti dikutip dari BBC, Minggu (9/8/2015), setidaknya, akibat bom atom yang dijatuhkan di kota Nagasaki sebanyak 70.000 orang tewas. Hal tersebut terjadi tiga hari setelah kota Hiroshima di jatuhi oleh bom atom.
Namun, pidato Abe banyak mendapatkan kritikkan karena ia tidak menyampaikan komitmennya saat upacara peringatan di kota Hiroshima beberapa hari lalu. Nagasaki dipilih setelah target awal, kota Kokura hilang dari radar.
"Sebagai satu-satunya negara di dunia yang telah menderita akibat perang dan serangan nuklir, saya telah memperbaharui tekad saya untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir dan menjaga tiga prinsip non-nuklir," kata Abe di Taman Perdamaian Nagasaki.
Seperti dikutip dari BBC, Minggu (9/8/2015), setidaknya, akibat bom atom yang dijatuhkan di kota Nagasaki sebanyak 70.000 orang tewas. Hal tersebut terjadi tiga hari setelah kota Hiroshima di jatuhi oleh bom atom.
Namun, pidato Abe banyak mendapatkan kritikkan karena ia tidak menyampaikan komitmennya saat upacara peringatan di kota Hiroshima beberapa hari lalu. Nagasaki dipilih setelah target awal, kota Kokura hilang dari radar.
"Sebagai satu-satunya negara di dunia yang telah menderita akibat perang dan serangan nuklir, saya telah memperbaharui tekad saya untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir dan menjaga tiga prinsip non-nuklir," kata Abe di Taman Perdamaian Nagasaki.
Langganan:
Postingan (Atom)


















