Mesir menyatakan pihaknya memandang Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Suriah yang diduduki Oleh Israel dan menolak seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut
Wilayah Golan dikuasai oleh israel sejak terjadinya perang Timur Tengah pada tahun 1967. Kementerian Luar Negeri Mesir dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita MENA, mengutip resolusi Dewan Keamanan PBB No. 497 tahun 1981, yang menolak pencaplokan wilayah itu oleh Israel.
Kementrian luarnegeri Mesir mengungkapkan bahwa "menekankan pentingnya setiap orang menghormati resolusi-resolusi legitimasi internasional dan Piagam PBB menghormati tidak dapat diterimanya penguasaan wilayah dengan kekuatan," menurut pernyataan tersebut.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Maret 2019
Minggu, 03 Juli 2016
Israel Bombardir Empat Lokasi Jalur Gaza
Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza, setelah pejuang Palestina menembakkan roket yang menghantam sebuah bangunan di Israel selatan. Serangan udara Israel sendiri menghantam empat lokasi di Jalur Gaza, menyebabkan kerusakan namun tidak ada korban luka.
"Empat lokasi, termasuk lokasi lokakarya, dua lokasi sayap bersenjata Hamas dan situs pelatihan militer bagi kelompok Jihad Islam Palestina," kata pejabat keamanan dalam kondisi anonimitas seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (2/7/2016).
Menurut pejabat tersebut, dua dari situs itu berada di Kota Gaza, sementera dua lainnya berada di Beit Laha, sebelah utara wilayah kantung itu, yang dijalankan oleh kelompok Hamas. Semua situs tersebut sebelumnya telah ditargetkan oleh Israel.
"Empat lokasi, termasuk lokasi lokakarya, dua lokasi sayap bersenjata Hamas dan situs pelatihan militer bagi kelompok Jihad Islam Palestina," kata pejabat keamanan dalam kondisi anonimitas seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (2/7/2016).
Menurut pejabat tersebut, dua dari situs itu berada di Kota Gaza, sementera dua lainnya berada di Beit Laha, sebelah utara wilayah kantung itu, yang dijalankan oleh kelompok Hamas. Semua situs tersebut sebelumnya telah ditargetkan oleh Israel.
Label:
Israel,
Palestina,
Pesawat Tempur
Selasa, 28 Juni 2016
Sepakati Rekonsiliasi dengan Turki, Israel Tetap Blokade Laut Gaza
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan, pencabutan blokade maritim di Gaza tidak termasuk dalam kesepakatan rekonsiliasi dengan Turki. Dengan demikian, blokade di seluruh wilayah perairan Gaza masih akan tetap berlaku.
Berbicara saat melakukan kunjungan ke Roma, Italia, Netanyahu menuturkan masalah keamanan di perairan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dikompromikan. Oleh karena itu, pihaknya tidak setuju untuk mencabut blokade tersebut, yang akhirnya turut disetujui oleh Turki.
"Hal kedua perjanjian tersebut adalah kelanjutan dari blokade keamanan maritim lepas pantai Jalur Gaza. Ini adalah kepentingan keamanan tertinggi bagi kami. Saya tidak siap untuk berkompromi soal hal itu," ucap Netanyahu, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (27/6).
Berbicara saat melakukan kunjungan ke Roma, Italia, Netanyahu menuturkan masalah keamanan di perairan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dikompromikan. Oleh karena itu, pihaknya tidak setuju untuk mencabut blokade tersebut, yang akhirnya turut disetujui oleh Turki.
"Hal kedua perjanjian tersebut adalah kelanjutan dari blokade keamanan maritim lepas pantai Jalur Gaza. Ini adalah kepentingan keamanan tertinggi bagi kami. Saya tidak siap untuk berkompromi soal hal itu," ucap Netanyahu, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (27/6).
Jumat, 06 Mei 2016
Jenderal Israel Sebut Militernya Sedang Lakukan Hollocaust
Wakil Kepala pasukan keamanan Israel atau IDF, Mayor Jenderal Yair Golan membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan. Dirinya menuturkan bahwa Israel saat ini mulai mempraktikan hollocaust.
Berbicara saat peringatan pembantaian warga Yahudi oleh Nazi, atau yang dikenal dengan nama hollocaust, Golan mengatakan bahwa Israel saat ini harus sudah mulai melakukan instropeksi. Karena, saat ini Israel mulai melakukan apa yang dilakukan Nazi dahulu.
"Israel harus mulai merenungkan mengenai bagaimana kita, di sini dan sekarang, memperlakukan orang asing," kata Golan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Kamis (5/5).
"Jika ada sesuatu yang menakutkan saya tentang Holocaust, adalah soal penerapan dari proses menjijikkan yang terjadi di Eropa pada umumnya, dan khususnya di Jerman pada 70, 80 dan 90 tahun yang lalu dan saya menemukan tanda-tanda itu di sini di antara kita hari ini di 2016," sambungnya.
Berbicara saat peringatan pembantaian warga Yahudi oleh Nazi, atau yang dikenal dengan nama hollocaust, Golan mengatakan bahwa Israel saat ini harus sudah mulai melakukan instropeksi. Karena, saat ini Israel mulai melakukan apa yang dilakukan Nazi dahulu.
![]() |
| Golan mengatakani Israel mulai melakukan apa yang dilakukan Nazi dahulu. (Istimewa) |
"Jika ada sesuatu yang menakutkan saya tentang Holocaust, adalah soal penerapan dari proses menjijikkan yang terjadi di Eropa pada umumnya, dan khususnya di Jerman pada 70, 80 dan 90 tahun yang lalu dan saya menemukan tanda-tanda itu di sini di antara kita hari ini di 2016," sambungnya.
Kamis, 07 April 2016
Negara-Negara Arab Belanja Alutsista, Israel Ketar Ketir
Israel mengaku merasa dalam bahaya setelah negara-negara Arab tetangganya membeli senjata canggih berskala besar dari Barat.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala Angkatan Udara Israel, Brigadir Jenderal Tal Kelman, pada hari Minggu (3/4/2016). Menurutnya, Israel ingin meminta bantuan pertahanan yang lebih aman dari Amerika Serikat (AS), namun Washington enggan.
Militer AS saat ini membiayai militer Israel sekitar USD3 miliar per tahun dan berakhir pada 2018. Para pejabat Israel telah berbicara pada Pemerintah AS agar biaya ditambah sekitar USD4,5 miliar. Namun, para pejabat AS telah menolak keras kenaikan tersebut.
Israel mengaku membutuhkan kekuatan angkatan bersenjata secara massal, yang tidak hanya meng-upgrade teknologi mereka, tapi juga siap menghadapi musuh di depan.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala Angkatan Udara Israel, Brigadir Jenderal Tal Kelman, pada hari Minggu (3/4/2016). Menurutnya, Israel ingin meminta bantuan pertahanan yang lebih aman dari Amerika Serikat (AS), namun Washington enggan.
Militer AS saat ini membiayai militer Israel sekitar USD3 miliar per tahun dan berakhir pada 2018. Para pejabat Israel telah berbicara pada Pemerintah AS agar biaya ditambah sekitar USD4,5 miliar. Namun, para pejabat AS telah menolak keras kenaikan tersebut.
Israel mengaku membutuhkan kekuatan angkatan bersenjata secara massal, yang tidak hanya meng-upgrade teknologi mereka, tapi juga siap menghadapi musuh di depan.
Rabu, 30 Maret 2016
DPR : Indonesia Tidak Akan Pernah Buka Hubungan Kerjasama Dengan Israel
Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menilai percuma Israel membuka ruang hubungan kerja sama diplomatik dengan Indonesia. Sebab Indonesia tidak akan sembarangan membuka pintu bagi negara penjajah.
"Kita tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan negara yang melakukan penjajahan atas negara lain. Itu amanat konstitusi," kata Tantowi saat dihubungi, Selasa (29/3).
Politikus Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie ini menjelaskan bahwa Israel sudah sejak lama menjalin komunikasi dengan Indonesia. Namun negara ini masih enggan menerimanya.
"Tapi keinginan itu hanya akan sebatas angan-angan karena kita tidak akan membukakan hubungan diplomatik selama mereka masih mengokupasi wilayah Palestina," tuturnya.
"Kita tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan negara yang melakukan penjajahan atas negara lain. Itu amanat konstitusi," kata Tantowi saat dihubungi, Selasa (29/3).
Politikus Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie ini menjelaskan bahwa Israel sudah sejak lama menjalin komunikasi dengan Indonesia. Namun negara ini masih enggan menerimanya.
"Tapi keinginan itu hanya akan sebatas angan-angan karena kita tidak akan membukakan hubungan diplomatik selama mereka masih mengokupasi wilayah Palestina," tuturnya.
Label:
Indonesia,
Israel,
Kerjasama Internasional
Jumat, 04 Maret 2016
Israel Serahkan Sebidang Tanah di Tepi Barat ke Palestina
Militer Israel akan mengembalikan sebidang tanah di Tepi Barat kepada Palestina, setelah 40 tahun mendudukinya. Langkah ini disebut kelompok HAM setempat sebagai langkah yang sangat tidak biasa.
Kelompok HAM Israel Yesh Din menyebut militer Israel telah mengambil keputusan untuk menyerahkan kendali atas tanah di Tepi Barat itu, menindaklanjuti petisi ke Pengadilan Tinggi tahun lalu. Demikian seperti dilansir AFP, Kamis (3/3/2016).
Keputusan untuk mengembalikan tanah di Tepi Barat ini, menurut Yesh Din, menghindarkan Israel dari proses persidangan yang panjang. Nantinya kendali tanah dengan luas lebih dari 170 hektare yang berpotensi menjadi lahan pertanian ini, akan dikembalikan ke pemilik sebenarnya, Palestina.
Tanah yang terletak di desa Jalud, Tepi Barat ini diduduki Israel untuk tujuan militer pada tahun 1970-an hingga 1980-an lalu. Beberapa waktu terakhir, tanah ini tidak lagi digunakan oleh militer Israel.
Kelompok HAM Israel Yesh Din menyebut militer Israel telah mengambil keputusan untuk menyerahkan kendali atas tanah di Tepi Barat itu, menindaklanjuti petisi ke Pengadilan Tinggi tahun lalu. Demikian seperti dilansir AFP, Kamis (3/3/2016).
Keputusan untuk mengembalikan tanah di Tepi Barat ini, menurut Yesh Din, menghindarkan Israel dari proses persidangan yang panjang. Nantinya kendali tanah dengan luas lebih dari 170 hektare yang berpotensi menjadi lahan pertanian ini, akan dikembalikan ke pemilik sebenarnya, Palestina.
Tanah yang terletak di desa Jalud, Tepi Barat ini diduduki Israel untuk tujuan militer pada tahun 1970-an hingga 1980-an lalu. Beberapa waktu terakhir, tanah ini tidak lagi digunakan oleh militer Israel.
Rabu, 02 Maret 2016
Konyol Gara-gara Aplikasi Waze Tentara Israel Nyasar Kepemukiman Palestina
Sebuah pertikaian terjadi di daerah luar dari Jerusalem pada senin (29/2) lalu. Usut punya usut, pertikaian ini terjadi karena navigasi yang salah dari aplikasi Waze.
Dilansir dari Techcrunch (2/3), pasukan tentara Israel yang menggunakan Waze, tiba-tiba diarahkan oleh aplikasi navigasi tersebut ke camp pengungsian Palestina di Kalandia. Dilaporkan dua pasukan tentara bersenjata dari Israeli Defense Force, sedang berpatroli dengan kendaraan militer, di sepanjang rute yang mereka yakini masih berada pada wilayah perbatasan Israel. Tak sadar melintasi perbatasan, orang-orang Palestina seketika melempari mereka dengan batu dan bom. Aksi ini membuat mobil tentara Israel tersebut meledak.
Paling tidak, ada satu orang Palestina meninggal dan 10 orang lainnya luka parah.
Beberapa tentara berhasil kabur dan berhamburan ke berbagai arah. Salah seorang tentara bahkan berhasil menggunakan ponsel untuk meminta bantuan, namun banyak dari mereka juga hilang. Pasukan tentara Israel dan helikopter akhirnya dikirim ke area tersebut.
Dilansir dari Techcrunch (2/3), pasukan tentara Israel yang menggunakan Waze, tiba-tiba diarahkan oleh aplikasi navigasi tersebut ke camp pengungsian Palestina di Kalandia. Dilaporkan dua pasukan tentara bersenjata dari Israeli Defense Force, sedang berpatroli dengan kendaraan militer, di sepanjang rute yang mereka yakini masih berada pada wilayah perbatasan Israel. Tak sadar melintasi perbatasan, orang-orang Palestina seketika melempari mereka dengan batu dan bom. Aksi ini membuat mobil tentara Israel tersebut meledak.
Paling tidak, ada satu orang Palestina meninggal dan 10 orang lainnya luka parah.
Beberapa tentara berhasil kabur dan berhamburan ke berbagai arah. Salah seorang tentara bahkan berhasil menggunakan ponsel untuk meminta bantuan, namun banyak dari mereka juga hilang. Pasukan tentara Israel dan helikopter akhirnya dikirim ke area tersebut.
Selasa, 01 Maret 2016
Jurnalis, Presiden Amerika berikutnya diprediksi tidak pro Israel
Sudah menjadi rahasia umum Amerika Serikat selalu pro Israel dalam kebijakan luar negerinya di Timur Tengah. Negeri Paman Sam punya sejarah panjang hubungan erat dengan Israel, terutama di masa kepemimpinan Presiden George Walker Bush.
Namun jurnalis peraih penghargaan bergengsi Pulitzer asal Amerika Serikat, Bret Stephens, menilai presiden AS berikutnya yang akan terpilih pada November mendatang tidak akan pro Israel.
"Menurut saya, kalau saya jadi pejabat Israel saya akan bilang, kita boleh saja berharap seperti itu tapi jangan langsung menganggap presiden AS nanti akan pro Israel, bahkan berpura-pura pro Israel," kata dia kepada the Jerusalem Post Rabu lalu.
Namun jurnalis peraih penghargaan bergengsi Pulitzer asal Amerika Serikat, Bret Stephens, menilai presiden AS berikutnya yang akan terpilih pada November mendatang tidak akan pro Israel.
"Menurut saya, kalau saya jadi pejabat Israel saya akan bilang, kita boleh saja berharap seperti itu tapi jangan langsung menganggap presiden AS nanti akan pro Israel, bahkan berpura-pura pro Israel," kata dia kepada the Jerusalem Post Rabu lalu.
Minggu, 03 Januari 2016
Erdogan: Turki Butuh Israel
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan negaranya butuh Israel. Padahal, sebagaimana diketahui, selama ini Turki sering membuat pernyataan panas yang ditujukan ke Negara Yahudi itu.
Sebagaimana dilansir AFP, Sabtu (2/1/2016), Erdogan mengakui negaranya butuh Israel dan dua negara ini akan mencari cara pembahasan normalisasi hubungan bilateralnya.
"Israel butuh negara seperti Turki dalam kawasan ini. Dan kami juga harus mengakui bahwa kami butuh Israel. Ini kenyataan dalam kawasan ini," kata Erdogan kepada wartawan.
Atmosfer hubungan Turki-Israel telah bertransformasi sejak kedua negara membuat kemajuan dalam pembicaraan rahasia untuk menjalin hubungan baik (rapprochement), sebulan lampau.
Sebagaimana dilansir AFP, Sabtu (2/1/2016), Erdogan mengakui negaranya butuh Israel dan dua negara ini akan mencari cara pembahasan normalisasi hubungan bilateralnya.
"Israel butuh negara seperti Turki dalam kawasan ini. Dan kami juga harus mengakui bahwa kami butuh Israel. Ini kenyataan dalam kawasan ini," kata Erdogan kepada wartawan.
Atmosfer hubungan Turki-Israel telah bertransformasi sejak kedua negara membuat kemajuan dalam pembicaraan rahasia untuk menjalin hubungan baik (rapprochement), sebulan lampau.
Kamis, 29 Oktober 2015
Alasan Israel Abaikan Ancaman Teror dari ISIS
Israel sudah beberapa kali menjadi korban ancaman kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Contoh ancamannya berupa pesan dalam sebuah video berbahasa Ibrani.
Dalam video itu disampaikan ancaman, bahwa tak satu pun orang Yahudi yang akan tinggal di Israel. Video ini dirilis Jumat pekan lalu oleh militan ISIS dalam akun sosial media mereka.
Namun, sepertinya Israel tenang-tenang saja. Para pejabatnya menganggap ancaman itu seperti angin lalu, dan tak ada gerakan apapun dari para petinggi Negeri Zionis itu. Apa ya alasannya?
Usut punya usut, Israel sudah mengantisipasi keberadaan ISIS. Mereka telah menutup perbatasan sebelah utara dan selatan saat para militan menyamar sebagai migran ilegal ke Eropa.
Dalam video itu disampaikan ancaman, bahwa tak satu pun orang Yahudi yang akan tinggal di Israel. Video ini dirilis Jumat pekan lalu oleh militan ISIS dalam akun sosial media mereka.
![]() |
| Benjamin Netanyahu. ©REUTERS |
Namun, sepertinya Israel tenang-tenang saja. Para pejabatnya menganggap ancaman itu seperti angin lalu, dan tak ada gerakan apapun dari para petinggi Negeri Zionis itu. Apa ya alasannya?
Usut punya usut, Israel sudah mengantisipasi keberadaan ISIS. Mereka telah menutup perbatasan sebelah utara dan selatan saat para militan menyamar sebagai migran ilegal ke Eropa.
Senin, 03 Agustus 2015
Khamenei tulis buku cara menghapus Israel dan melawan Setan Amerika
Pemimpin spiritual Iran Ayatullah Ali Khamenei dilaporkan telah menulis sebuah buku berisi 416 halaman yang membahas tentang cara menghapus Israel dari peta. Di buku itu dia juga menyebut negara Zionis sebagai sekutu dari Setan Amerika.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (3/8), dalam bukunya, Khamenei menyampaikan langkah-langkah untuk mengusir Israel dari Timur Tengah lewat perang habis-habisan, meski saat ini pemerintah Iran baru saja mencapai kesepakatan nuklir dengan negara Barat dipimpin Amerika.
Menurut koran the New York Times yang mengaku menerima salinan buku berjudul Palestina itu, di buku tersebut Khamenei menyusun strategi jihad selama satu dekade untuk membuat Israel berada di bawah kekuasaan Islam, lalu menyebar ke seluruh dunia.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (3/8), dalam bukunya, Khamenei menyampaikan langkah-langkah untuk mengusir Israel dari Timur Tengah lewat perang habis-habisan, meski saat ini pemerintah Iran baru saja mencapai kesepakatan nuklir dengan negara Barat dipimpin Amerika.
Menurut koran the New York Times yang mengaku menerima salinan buku berjudul Palestina itu, di buku tersebut Khamenei menyusun strategi jihad selama satu dekade untuk membuat Israel berada di bawah kekuasaan Islam, lalu menyebar ke seluruh dunia.
Kamis, 16 Juli 2015
Iran resmi diizinkan punya nuklir, Israel kalang kabut
Setelah perundingan 13 tahun, sanksi ekonomi terhadap Iran karena memiliki teknologi nuklir resmi dicabut. Perwakilan enam negara dipimpin Amerika Serikat kemarin (14/7) di Kota Wina, Austria, menyetujui program nuklir Negeri Para Mullah asal terbukti untuk tujuan damai.
Surat kabar the Guardia melaporkan, kesepakatan ini memicu beragam reaksi dari seluruh dunia. Sekutu Iran, seperti Rusia mengapresiasi perjanjian tersebut.
Uni Eropa yang diwakili Prancis, Inggris, dan Jerman dalam tim enam turut mengutarakan optimismenya. Dengan penghentian embargo ekonomi, maka negara mayoritas Syiah ini dapat bersikap lebih damai di kawasan Timur Tengah.
"Saya kira (perjanjian) ini adalah harapan untuk seluruh dunia," kata Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini beberapa jam setelah rapat berakhir.
Surat kabar the Guardia melaporkan, kesepakatan ini memicu beragam reaksi dari seluruh dunia. Sekutu Iran, seperti Rusia mengapresiasi perjanjian tersebut.
Uni Eropa yang diwakili Prancis, Inggris, dan Jerman dalam tim enam turut mengutarakan optimismenya. Dengan penghentian embargo ekonomi, maka negara mayoritas Syiah ini dapat bersikap lebih damai di kawasan Timur Tengah.
"Saya kira (perjanjian) ini adalah harapan untuk seluruh dunia," kata Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini beberapa jam setelah rapat berakhir.
Minggu, 07 Juni 2015
Balas Serangan Roket, Israel Bombardir Gaza
Pesawat tempur Israel membombardir wilayah Jalur Gaza bagian utara hari ini. Militer Israel menyatakan, serangan udara ini sebagai respons atas roket yang ditembakkan dari Gaza ke wilayah Israel selatan.
Menurut militer Israel seperti dilansir kantor berita Reuters, Minggu (7/6/2015), roket Gaza tersebut mendarat di lapangan terbuka dan tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.
Juru bicara militer Israel mengatakan, serangan udara ini ditujukan pada "infrastruktur teror di Jalur Gaza bagian utara."
Tidak dilaporkan adanya korban dalam serangan udara Israel yang mengenai sebuah fasilitas pelatihan kelompok Hamas tersebut.
Menurut militer Israel seperti dilansir kantor berita Reuters, Minggu (7/6/2015), roket Gaza tersebut mendarat di lapangan terbuka dan tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.
Juru bicara militer Israel mengatakan, serangan udara ini ditujukan pada "infrastruktur teror di Jalur Gaza bagian utara."
Tidak dilaporkan adanya korban dalam serangan udara Israel yang mengenai sebuah fasilitas pelatihan kelompok Hamas tersebut.
Sabtu, 23 Mei 2015
Iran ancam bombardir Israel dengan 80 ribu rudal
Iran mengancam akan menembakkan sedikitnya 80 ribu rudal ke Israel setelah Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya'alon keliru dikutip pernyataannya oleh sejumlah media.
Kantor berita Iran Fars mengklaim Ya'alon mengancam akan membunuh warga sipil Libanon dengan serangan roket.
Dia dikatakan mengucapkan kalimat :"Kami akan menyakiti warga sipil Libanon, termasuk anak-anak. Kami akan melakukan itu pada masa perang yang akan datang."
Kalimat Ya'alon itu menyebar di sejumlah media anti-Israel, seperti dilansir koran the Daily Mail, Jumat (22/5).
Namun, diyakini komentar Ya'alon itu keliru dikutip saat dia berbicara pada sebuah konferensi awal bulan ini. Saat itu dia sedang berbicara soal bahayanya Hizbullah menyimpan senjata di rumah warga sipil di Libanon.
Kantor berita Iran Fars mengklaim Ya'alon mengancam akan membunuh warga sipil Libanon dengan serangan roket.
Dia dikatakan mengucapkan kalimat :"Kami akan menyakiti warga sipil Libanon, termasuk anak-anak. Kami akan melakukan itu pada masa perang yang akan datang."
Kalimat Ya'alon itu menyebar di sejumlah media anti-Israel, seperti dilansir koran the Daily Mail, Jumat (22/5).
Namun, diyakini komentar Ya'alon itu keliru dikutip saat dia berbicara pada sebuah konferensi awal bulan ini. Saat itu dia sedang berbicara soal bahayanya Hizbullah menyimpan senjata di rumah warga sipil di Libanon.
Senin, 13 April 2015
Mantan Agen CIA: ISIS Dibentuk Israel, Amerika dan Inggris
Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) dan agen Central Intelligence Agency (CIA), Edward Snowden mengungkapkan bahwa Islamic State of Irak and Syria (ISIS) bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan Amerika, Israel dan Inggris.
Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al Baghadadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Mereka menyebut strategi ini “sarang lebah”.
Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al Baghadadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Mereka menyebut strategi ini “sarang lebah”.
Jumat, 03 April 2015
Kesepakatan Nuklir : Perayaan untuk Iran, 'Ancaman' Buat Israel
Kesepakatan bersejarah tentang program nuklir Iran akhirnya dicapai dalam perundingan maraton selama 8 hari antara 6 kekuatan dunia dan pihak Teheran di Lausanne, Swiss.
Pembicaraan antara kekuatan dunia atau P5+1 -- Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Rusia, ditambah Jerman -- dengan Iran yang digelar di Hotel Beau-Rivage Palace, diperpanjang dari target waktu sebelumnya yakni 31 Maret 2015.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran akan mengurangi kapasitas pengayaan uraniumnya, demi mengurangi sanksi dunia internasional.
Selama 12 tahun berlakangan, Iran menghadapi sanksi internasional terkait program nuklirnya. Yang menjadi pukulan berat bagi perekonomian negara tersebut.
Pembicaraan antara kekuatan dunia atau P5+1 -- Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Rusia, ditambah Jerman -- dengan Iran yang digelar di Hotel Beau-Rivage Palace, diperpanjang dari target waktu sebelumnya yakni 31 Maret 2015.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran akan mengurangi kapasitas pengayaan uraniumnya, demi mengurangi sanksi dunia internasional.
Selama 12 tahun berlakangan, Iran menghadapi sanksi internasional terkait program nuklirnya. Yang menjadi pukulan berat bagi perekonomian negara tersebut.
Senin, 30 Maret 2015
Dukung Saudi, jet tempur Israel ikut gempur Yaman
Sumber di Ibu Kota Sanaa, Yaman, Jumat lalu mengatakan sejumlah jet tempur Israel ikut melancarkan serangan udara ke Yaman yang dipimpin oleh Arab Saudi pada Kamis pekan lalu.
"Ini pertama kalinya pasukan Zionis bergabung dengan koalisi negara Arab," ujar Sekretaris Jenderal Partai Politik Al-Haq, yaman, Hassa Zayd dalam akun jejaring sosial Facebook, seperti dilansir Global Search, Ahad (29/3).
Dia mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah memerintahkan langsung Angkatan Udara Israel mengerahkan jet-jet tempur mereka buat mendukung serangan Saudi ke Yaman.
"Ini pertama kalinya pasukan Zionis bergabung dengan koalisi negara Arab," ujar Sekretaris Jenderal Partai Politik Al-Haq, yaman, Hassa Zayd dalam akun jejaring sosial Facebook, seperti dilansir Global Search, Ahad (29/3).
Dia mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah memerintahkan langsung Angkatan Udara Israel mengerahkan jet-jet tempur mereka buat mendukung serangan Saudi ke Yaman.
Label:
Israel,
Konflik Timur Tengah,
Pesawat Tempur
Selasa, 24 Maret 2015
Israel Boikot Rapat PBB Soal Perang di Gaza
Perwakilan Israel tidak terlihat saat Dewan PBB untuk hak asasi manusia (HAM) memulai sesi khusus mengenai situasi di wilayah Palestina dan konflik Gaza pada 2014.
Israel tidak memberikan penjelasan mengenai ketidakhadiran perwakilannya tersebut. Namun, sumber dekat Dewan PBB yang menolak disebutkan, menyatakan ketidakhadiran tersebut adalah bentuk upaya boikot.
“Kami menolak berkomentar mengenai masalah ini,” kata juru bicara delegasi Israel di Jenewa, seperti dikutip Middle East Online, Selasa (24/3/2015).
![]() |
| Truk yang membawa buah-buahan tiba di Gaza setelah melewati wilayah Israel Kerem Shalom (Foto : Reuters) |
Israel tidak memberikan penjelasan mengenai ketidakhadiran perwakilannya tersebut. Namun, sumber dekat Dewan PBB yang menolak disebutkan, menyatakan ketidakhadiran tersebut adalah bentuk upaya boikot.
“Kami menolak berkomentar mengenai masalah ini,” kata juru bicara delegasi Israel di Jenewa, seperti dikutip Middle East Online, Selasa (24/3/2015).
Jumat, 13 Maret 2015
Menlu Israel Serukan Pemenggalan Kepala Orang Arab
Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman membuat pernyataan kontroversial, mengancam untuk memenggal kepala orang-orang Arab di Israel yang dituduhnya tidak setia.
Dikutip dari laman Turki, Daily Sabah, pada Kamis, 12 Maret 2015, media-media besar internasional telah memilih untuk mengabaikan pernyataan kontroversial Lieberman itu.
Otoritas Palestina mengatakan bakal membawa pemimpin Partai Beiteinu itu ke Pengadilan Pidana Internasional (ICC), atas pernyataannya pada Minggu, 8 Maret 2015 lalu.
Namun Lieberman menjawab ancaman Palestina itu dengan respons yang lebih kasar, menyebut bahwa dia akan menjawab soal tuntutan ke ISS itu, saat dia menjadi menteri pertahanan setelah pemilu pekan depan.
Dikutip dari laman Turki, Daily Sabah, pada Kamis, 12 Maret 2015, media-media besar internasional telah memilih untuk mengabaikan pernyataan kontroversial Lieberman itu.
Otoritas Palestina mengatakan bakal membawa pemimpin Partai Beiteinu itu ke Pengadilan Pidana Internasional (ICC), atas pernyataannya pada Minggu, 8 Maret 2015 lalu.
Namun Lieberman menjawab ancaman Palestina itu dengan respons yang lebih kasar, menyebut bahwa dia akan menjawab soal tuntutan ke ISS itu, saat dia menjadi menteri pertahanan setelah pemilu pekan depan.
Langganan:
Postingan (Atom)


















