Aktivis Suriah, Hadi al-Abdallah menyebut, Rusia telah menggunakan sejumlah senjata terlarang saat melakukan serangan di Suriah. Rusia disebut menggunakan bom cluster dan juga bom fosfor saat melakukan serangan di Allepo.
Abdallah, yang juga merupakan jurnalis di Suriah menuturkan, fakta mengenai penggunaan senjata terlarang yang digunakan oleh Rusia ditemukan saat jet Rusia menyerang sebuah rumah sakit yang berada di Allepo.
"Jet tempur menyerang sebuah rumah sakit di Anadann, di pinggiran Aleppo dengan bom fosfor. Rumah sakit itu terbakar setelah dihantam bom yang mengandung fosfor," kata Adbdallah, seperti dilansir Middleeasteye pada Kamis (16/6).
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Senjata Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senjata Kimia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Juni 2016
Kamis, 21 April 2016
PBB : Senjata Kimia Masih Jadi Ancaman Eddi Santosa
Senjata kimia masih jadi ancaman. Oleh karena itu, kerja sama PBB dan Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia) diharapkan terus berlanjut.
"Saya sepenuhnya berharap hal ini akan terus berlanjut demi manfaat besar bagi kemanusiaan," ujar Sekjen PBB Ban Ki-Moon di markas OPCW, Den Haag, Rabu (20 April 2016) waktu setempat.
Sekjen PBB dua periode dari Korea Selatan itu mengatakan, OPCW adalah sahabat dan mitra baik bagi PBB.
"Kedua lembaga telah memperdalam kerja sama secara luar biasa dalam beberapa tahun mutakhir," kata Ban Ki-Moon melalui rilis yang diterima detikcom dari OPCW.
"Saya sepenuhnya berharap hal ini akan terus berlanjut demi manfaat besar bagi kemanusiaan," ujar Sekjen PBB Ban Ki-Moon di markas OPCW, Den Haag, Rabu (20 April 2016) waktu setempat.
Sekjen PBB dua periode dari Korea Selatan itu mengatakan, OPCW adalah sahabat dan mitra baik bagi PBB.
"Kedua lembaga telah memperdalam kerja sama secara luar biasa dalam beberapa tahun mutakhir," kata Ban Ki-Moon melalui rilis yang diterima detikcom dari OPCW.
Label:
Kerjasama Internasional,
PBB,
Senjata Kimia
Rabu, 09 September 2015
Intelijen Jerman Pastikan ISIS Gunakan Gas Beracun di Irak
Lembaga intelijen Jerman (BND) mengonfirmasi kelompok militan Islamic State (ISIS) menggunakan senjata gas beracun.
BND mengatakan, mereka melakukan uji darah terhadap militan Kurdi yang terluka melawan ISIS. Menurut pemeriksaan, darah dari anggota militan itu mengandung gas beracun berupa gas mustard.
"Kami memiliki informasi bahwa ISIS menggunakan gas mustard di utara Irak," ujar Kepada BND Gerhard Schindler, seperti dikutip Guardian, Selasa (8/9/2015).
"Gas itu entah berasal dari pasokan lama yang diproduksi di era Saddam Hussein, atau diproduksi sendiri oleh ISIS setelah menduduki Universitas Mosul," lanjutnya.
Sementara seorang pejabat intelijen Jerman mengonfirmasi komentar dari Schindler. Namun dirinya menolak untuk mengonfirmasi bahwa BND telah mengumpulkan contoh darah.
BND mengatakan, mereka melakukan uji darah terhadap militan Kurdi yang terluka melawan ISIS. Menurut pemeriksaan, darah dari anggota militan itu mengandung gas beracun berupa gas mustard.
"Kami memiliki informasi bahwa ISIS menggunakan gas mustard di utara Irak," ujar Kepada BND Gerhard Schindler, seperti dikutip Guardian, Selasa (8/9/2015).
"Gas itu entah berasal dari pasokan lama yang diproduksi di era Saddam Hussein, atau diproduksi sendiri oleh ISIS setelah menduduki Universitas Mosul," lanjutnya.
Sementara seorang pejabat intelijen Jerman mengonfirmasi komentar dari Schindler. Namun dirinya menolak untuk mengonfirmasi bahwa BND telah mengumpulkan contoh darah.
Selasa, 17 Maret 2015
Pasukan Kurdi Irak Tuduh ISIS Gunakan Senjata Kimia
Laskar Kurdi di Irak sedang menyelidiki dua lagi serangan senjata kimia yang kemungkinan dilakukan kelompok Negara Islam (ISIS).
Tuduhan-tuduhan pasukan Kurdi Irak pada Senin (16/3/2015) tersebut menyusul klaim serupa hari Sabtu oleh para pejabat Kurdi, yang mengatakan militan menggunakan gas klorin untuk menarget pasukan Peshmerga.
Pemimpin milisi Kurdi, Jenderal Aziz Wesi, mengatakan kepada wartawan, salah satu dari serangan yang dituduhkan itu terjadi akhir Desember lalu di dekat kawasan Sinjar dan yang lainnya di sebelah barat Mosul pada akhir Januari.
Tuduhan-tuduhan pasukan Kurdi Irak pada Senin (16/3/2015) tersebut menyusul klaim serupa hari Sabtu oleh para pejabat Kurdi, yang mengatakan militan menggunakan gas klorin untuk menarget pasukan Peshmerga.
Pemimpin milisi Kurdi, Jenderal Aziz Wesi, mengatakan kepada wartawan, salah satu dari serangan yang dituduhkan itu terjadi akhir Desember lalu di dekat kawasan Sinjar dan yang lainnya di sebelah barat Mosul pada akhir Januari.
Label:
ISIS,
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Kamis, 12 Maret 2015
Pernyataan Profesor Alan Robock Perkuat Dugaan Adanya Teknologi Rekayasa Cuaca Rancangan AS
Februari 2010 lalu, saya sempat menulis tentang beberapa berita yang dilansir beberapa massa berbahasa Spanyol di Amerika Latin mewartakan bahwa beberapa hari menjelang terjadinya bencana alam di Haiti dipicu oleh adanya tes uji coba senjata seismic (senjata yang berkekuatan gempa) yang dilakukan oleh Pasukan Armada Keempat Amerika Serikat. Menurut informasi stasiun TV pemerintah Venezuela Channel Vive TV, senjatai seismic yang dites uji coba oleh pasukan Armada Keempat AS akan digunakan ketika harus menghadapi Iran.
Selain itu TV pemerintah Venezuela ini lebih lanjut mewartakan, goncangan yang dialami Venezuela pada 8 Januari 2010 lalu dan di Honduras pada 11 Januari 2010 lalu, serta di Haiti pada 12 Januari 2010, diyakini bersumber dari penyebab yang sama. Yaitu adanya tes uji coba senjata seismic oleh Armada Keempat Amerika.
Bahkan gempa berkekuatan 7,8 magnitude pada 12 Mei 2008, di Provinsi Sechuan, Cina, juga dipicu oleh uji coba senjata seismic ini. Dengan kata lain, kita patut bercuriga jangan-jangan bencana alam di Haiti maupun beberapa negara lainnya tersebut, bukan sekadar akibat tes uji coba senjata seismic oleh Armada Keempat AS, melainkan juga merupakan indikasi bahwa tes uji coba senjata seismic tersebut memang secara sengaja dimaksudkan untuk merekayasa terjadinya bencana alam seperti gempa bumi atau banjir bandang.
Selain itu TV pemerintah Venezuela ini lebih lanjut mewartakan, goncangan yang dialami Venezuela pada 8 Januari 2010 lalu dan di Honduras pada 11 Januari 2010 lalu, serta di Haiti pada 12 Januari 2010, diyakini bersumber dari penyebab yang sama. Yaitu adanya tes uji coba senjata seismic oleh Armada Keempat Amerika.
Bahkan gempa berkekuatan 7,8 magnitude pada 12 Mei 2008, di Provinsi Sechuan, Cina, juga dipicu oleh uji coba senjata seismic ini. Dengan kata lain, kita patut bercuriga jangan-jangan bencana alam di Haiti maupun beberapa negara lainnya tersebut, bukan sekadar akibat tes uji coba senjata seismic oleh Armada Keempat AS, melainkan juga merupakan indikasi bahwa tes uji coba senjata seismic tersebut memang secara sengaja dimaksudkan untuk merekayasa terjadinya bencana alam seperti gempa bumi atau banjir bandang.
Kamis, 22 Januari 2015
AS Mau Produksi Senjata AK-47
Amerika Serikat (AS) boleh saja mengajak negara-negara Eropa untuk menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia. Akibatnya, Rusia tidak boleh berdagang dengan negara-negara temannya Paman Sam.
Tapi untuk urusan bisnis senjata lain lagi ceritanya. Amerika Serikat masih menjadi importir AK-47 dari Negeri Beruang Merah. Namun tak lama lagi impor senjata khas Rusia itu akan dihentikan sama sekali.
Pasalnya, produsen senjata asal AS bernama RWC berniat merakit dan memproduksi senjata laras panjang ini di dalam negeri. Selama ini RWC merupakan pengimpor resmi AK-47 dari Rusia.
Semenjak ada sanksi, RWC mengaku kesulitan untuk berhubungan dengan Kalashnikov Concern, produsen AK-47.
Tapi untuk urusan bisnis senjata lain lagi ceritanya. Amerika Serikat masih menjadi importir AK-47 dari Negeri Beruang Merah. Namun tak lama lagi impor senjata khas Rusia itu akan dihentikan sama sekali.
Pasalnya, produsen senjata asal AS bernama RWC berniat merakit dan memproduksi senjata laras panjang ini di dalam negeri. Selama ini RWC merupakan pengimpor resmi AK-47 dari Rusia.
Semenjak ada sanksi, RWC mengaku kesulitan untuk berhubungan dengan Kalashnikov Concern, produsen AK-47.
Senin, 08 Desember 2014
Korut: Ebola Senjata Biologi yang Disebarkan AS
Rezim Korea Utara (Korut) melalui medianya menuduh Amerika Serikat (AS) mengembangkan virus Ebola sebagai senjata biologi. AS juga dituduh menyebarkannya di Afrika Barat dan negara-negara berkembang.
Tuduhan itu muncul dalam editorial Central News Agency (KCNA) , media yang dikelola pemerintah Korut di bahwa kepemimpinan Kim Jong-un. Menurut, rezim Pyongyang, tujuan AS menyebarkan senjata biologi Ebola agar dapat mempertahankan kekuasannya di Afrika Barat.
“Ebola virus much feared as biological weapon” demikian judul editorial KCNA, yang bermakna, “Virus Ebola dikhawatirkan sebagai senjata biologi”. Editorial itu juga ramai dilansir sejumlah media Inggris, salah satunya Independent, semalam.
Tuduhan itu muncul dalam editorial Central News Agency (KCNA) , media yang dikelola pemerintah Korut di bahwa kepemimpinan Kim Jong-un. Menurut, rezim Pyongyang, tujuan AS menyebarkan senjata biologi Ebola agar dapat mempertahankan kekuasannya di Afrika Barat.
“Ebola virus much feared as biological weapon” demikian judul editorial KCNA, yang bermakna, “Virus Ebola dikhawatirkan sebagai senjata biologi”. Editorial itu juga ramai dilansir sejumlah media Inggris, salah satunya Independent, semalam.
Label:
Amerika,
Korea Utara,
Senjata Kimia
Kamis, 16 Oktober 2014
ISIS Diduga Kuasai Ribuan Amunisi Kimia Irak
Dokumen-dokumen intelijen Amerika Serikat (AS) yang dilansir Reuters, Kamis 16 Oktober, menyebutkan penemuan 4.990 amunisi kimia di Irak, yang kini diduga telah jatuh ke tangan militan ISIS.
Sementara laman The New York Times menyebut sejak invasi militer AS ke Irak pada 2003, berbagai insiden terus dilaporkan tentang tentara AS terluka akibat senjata kimia yang tersisa dari Perang Irak-Iran.
Salah satu laporan menyebut Sersan Duling, pada Agustus 2008, memimpin unit pasukannya ke sebuah gudang senjata kimia di luar kota Baghdad. Duling menyebut tentang penemuan gas mustard, namun AS diduga sengaja menyembunyikan laporan.
Alasan disembunyikannya penemuan senjata kimia, diduga karena AS bertanggungjawab atas kepemilikan senjata kimia oleh Irak. Pada lima atau enam insiden tentara terluka, senjata kimia itu didesain di AS dan diproduksi di Irak oleh perusahaan-perusahaan Barat.
![]() |
Kamp pelatihan militan ISIS |
Sementara laman The New York Times menyebut sejak invasi militer AS ke Irak pada 2003, berbagai insiden terus dilaporkan tentang tentara AS terluka akibat senjata kimia yang tersisa dari Perang Irak-Iran.
Salah satu laporan menyebut Sersan Duling, pada Agustus 2008, memimpin unit pasukannya ke sebuah gudang senjata kimia di luar kota Baghdad. Duling menyebut tentang penemuan gas mustard, namun AS diduga sengaja menyembunyikan laporan.
Alasan disembunyikannya penemuan senjata kimia, diduga karena AS bertanggungjawab atas kepemilikan senjata kimia oleh Irak. Pada lima atau enam insiden tentara terluka, senjata kimia itu didesain di AS dan diproduksi di Irak oleh perusahaan-perusahaan Barat.
Rabu, 14 Mei 2014
Ingkar Janji, Rezim Suriah Masih Gunakan Senjata Kimia
Rezim Suriah lagi-lagi menggunakan senjata kimia, kendati sudah berjanji akan memusnahkannya. Pemerintah Bashar al-Assad dituduh masih menyembunyikan senjata-senjata kimia untuk digunakan menggempur warganya.
Diberitakan Al-Jazeera, Selasa 13 Mei 2014, hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius saat mengunjungi Washington, Amerika Serikat. Pernyataan Fabius dilayangkan bertepatan dengan pernyataan lembaga HAM Human Right Watch (HRW) yang mengungkapkan hal yang sama.
Fabius mengatakan, ada bukti kuat yang menunjukkan rezim Syiah Assad telah menjatuhkan 14 senjata kimia jenis chlorine sejak 25 Oktober tahun lalu. Peristiwa terakhir diduga terjadi bulan lalu di permukiman warga di Keferzita.
Bom Chlorine dijatuhkan rezim Suriah di kota Keferzita |
Fabius mengatakan, ada bukti kuat yang menunjukkan rezim Syiah Assad telah menjatuhkan 14 senjata kimia jenis chlorine sejak 25 Oktober tahun lalu. Peristiwa terakhir diduga terjadi bulan lalu di permukiman warga di Keferzita.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Selasa, 21 Januari 2014
8 Negara Besar Bantu Musnakan Senjata Kimia Suriah
RUSIA, AS, Inggris, Utalia, Jerman, Denmark, Norwegia dan Finlandia membantu peralatan militer dan pesonil untuk membuang dan memusnahkan persenjataan kimia keluar Suriah di perairan internasional
Tender pemusnahan 500 metrik ton senjata kimia dan jutaan liter sampah beracun dibuka pada Senin (20/1/2014). di markas badan PBB untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag, Belanda. Peserta tender internasional ini diikuti oleh 14 perusahaan. Dokumen tender harus sudah masuk paling lambat pada Minggu 19 Januari lalu.
Menurut keterangan pengawas senjata kimia PBB, Sebuah perusahaan swasta Rusia mengajukan penawaran tender untuk memusnahkan persediaan senjata kimia Suriah,
![]() |
| Pemusnahan senjata kimia |
Tender pemusnahan 500 metrik ton senjata kimia dan jutaan liter sampah beracun dibuka pada Senin (20/1/2014). di markas badan PBB untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag, Belanda. Peserta tender internasional ini diikuti oleh 14 perusahaan. Dokumen tender harus sudah masuk paling lambat pada Minggu 19 Januari lalu.
Menurut keterangan pengawas senjata kimia PBB, Sebuah perusahaan swasta Rusia mengajukan penawaran tender untuk memusnahkan persediaan senjata kimia Suriah,
Rabu, 08 Januari 2014
Senjata Kimia Gelombang Pertama Berhasil Diangkut Keluar dari Suriah
Suriah telah berhasil mengeluarkan bahan senjata kimia setelah membawanya dari dua lokasi ke kota pelabuhan Latakia dan ke satu kapal milik Denmark. Keberhasilan ini disampaikan oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
"Kapal ini mendapat pengawalan Denmark dan Norwegia, serta Republik Arab Suriah," kata badan pengawas senjata kimia internasional itu dalam pernyataannya. "(Kapal) ini akan tetap berada di laut sambil menunggu kedatangan bahan-bahan kimia prioritas tambahan di pelabuhan."
Suriah setuju untuk melucuti senjata-senjata kimianya hingga Juni di bawah kesepakatan yang diajukan oleh Rusia dan dibicarakan dengan Amerika Serikat setelah terjadinya serangan gas sarin.
"Kapal ini mendapat pengawalan Denmark dan Norwegia, serta Republik Arab Suriah," kata badan pengawas senjata kimia internasional itu dalam pernyataannya. "(Kapal) ini akan tetap berada di laut sambil menunggu kedatangan bahan-bahan kimia prioritas tambahan di pelabuhan."
Suriah setuju untuk melucuti senjata-senjata kimianya hingga Juni di bawah kesepakatan yang diajukan oleh Rusia dan dibicarakan dengan Amerika Serikat setelah terjadinya serangan gas sarin.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Jumat, 03 Januari 2014
Pemindahan Senjata Kimia Suriah Belum Rampung
Batas waktu pemindahan senjata kimia dari Suriah tidak terpenuhi. Peti kemas berisi bahan-bahan berbahaya tidak bisa diangkut dari kota pelabuhan Suriah di Latakia, dan kapal-kapal Norwegia yang tadinya akan membawa peti-peti tersebut berubah haluan dan sekarang kembali ke Limassol, Siprus, untuk mengisi bahan bakar.
Menurut rencana kapal-kapal ini akan kembali ke Latakia dalam beberapa hari ke depan. Wartawan BBC melaporkan (1/1/2014), saat mereka berada di satu satu kapal fregat Norwegia, Anna Holligan, melaporkan penundaan ini akan membuat masyarakat internasional kecewa.
![]() |
| Kapal Norwegia masih di Latakia |
Menurut rencana kapal-kapal ini akan kembali ke Latakia dalam beberapa hari ke depan. Wartawan BBC melaporkan (1/1/2014), saat mereka berada di satu satu kapal fregat Norwegia, Anna Holligan, melaporkan penundaan ini akan membuat masyarakat internasional kecewa.
Senin, 16 Desember 2013
Bom Barel Pasukan Assad Tewaskan 30 Rakyat Sipil Suriah
Serangan bom barel yang dilancarkan helikopter Angkatan Udara Suriah di berbagai daerah di Kota Aleppo dalam dua hari terakhir, telah memakan puluhan korban.
Hingga Ahad (15/12) kemarin, jumlah penduduk yang tewas akibat serangan tersebut dilaporkan meningkat menjadi 30 orang. “Di antara mereka termasuk belasan anak-anak dan perempuan,” kata Komisi Umum Revolusioner Suriah (SRGC), seperti dikutip dari World Bulletin, Senin (16/12).
Tak cukup sampai di situ, sejumlah besar warga sipil lainnya juga dikatakan mengalami luka-luka lantaran serangan mematikan dari tentara loyalis Presiden Bashar Al Assad itu.
Hingga Ahad (15/12) kemarin, jumlah penduduk yang tewas akibat serangan tersebut dilaporkan meningkat menjadi 30 orang. “Di antara mereka termasuk belasan anak-anak dan perempuan,” kata Komisi Umum Revolusioner Suriah (SRGC), seperti dikutip dari World Bulletin, Senin (16/12).
Tak cukup sampai di situ, sejumlah besar warga sipil lainnya juga dikatakan mengalami luka-luka lantaran serangan mematikan dari tentara loyalis Presiden Bashar Al Assad itu.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Selasa, 03 Desember 2013
Pentagon Gunakan Kapal Cape Ray Untuk Hancurkan Senjata Kimia Suriah
Militer AS telah mulai menyiapkan perlengkapan untuk kapal yang akan digunakan untuk membantu penghancuran senjata kimia Suriah dengan peralatan khusus. Pentagon menegaskan sebuah unit hidrolisis sedang diinstal pada MV Cape Ray, sebuah kapal kargo 650 kaki, yang akan digunakan untuk menetralisir sejumlah bahan kimia mematikan Suriah.
"Kami sedang mempersiapkan Cape Ray untuk menjadi bagian dari proses penghancuran, jika kita bertugas dengan misi itu," kata juru bicara Pentagon Kolonel Steven Warren.
Kapal yang merupakan bagian dari armada cadangan yang digunakan untuk membantu mengangkut peralatan militer dalam waktu singkat saat ini tengah menjalani modifikasi di pelabuhan angkatan laut Norfolk di Virginia.
![]() |
| Kapal Cape Ray Akang digunakan sebagai kapal penghancur senjata kimia suriah |
"Kami sedang mempersiapkan Cape Ray untuk menjadi bagian dari proses penghancuran, jika kita bertugas dengan misi itu," kata juru bicara Pentagon Kolonel Steven Warren.
Kapal yang merupakan bagian dari armada cadangan yang digunakan untuk membantu mengangkut peralatan militer dalam waktu singkat saat ini tengah menjalani modifikasi di pelabuhan angkatan laut Norfolk di Virginia.
Kamis, 07 November 2013
Israel kecam laporan soal kematian Arafat
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel pada Rabu (6/11) mengecam laporan otopsi oleh satu dewan ilmuwan Swiss yang menyatakan mendiang mantan presiden Palestina Yasser Arafat mungkin telah diracuni hingga meninggal.
Pada Rabu pagi, beberapa ilmuwan Swiss mengumumkan bahwa menurut pemeriksaan awal, kandungan Polonium di dalam aliran darah Arafat ialah 18 kali lebih tinggi dari batas normal. Laporan itu secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Otonomi Nasional Palestina sehari sebelumnya.
Israel telah dituduh oleh para pejabat Palestina berada di belakang kematian Arafat pada November 2004 di satu rumah sakit di Prancis. Para dokter saat itu mengesampingkan penyebab kematian Arafat adalah stroke.
Pada Rabu pagi, beberapa ilmuwan Swiss mengumumkan bahwa menurut pemeriksaan awal, kandungan Polonium di dalam aliran darah Arafat ialah 18 kali lebih tinggi dari batas normal. Laporan itu secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Otonomi Nasional Palestina sehari sebelumnya.
Israel telah dituduh oleh para pejabat Palestina berada di belakang kematian Arafat pada November 2004 di satu rumah sakit di Prancis. Para dokter saat itu mengesampingkan penyebab kematian Arafat adalah stroke.
Label:
Israel,
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Laporan forensik nyatakan Arafat tewas diracun polonium
Janda pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat, Suha Arafat, kemarin mengatakan suaminya itu meninggal karena diracun dengan bahan radioaktif polonium.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Kamis (7/11), para ahli medis dari Swiss menyatakan telah ditemukan bahan radioaktif polonium dalam kadar yang berbahaya di tubuh Arafat.
Bahan radioaktif ini sama dengan yang digunakan untuk membunuh mata-mata Rusia paling tersohor Alexander Litvenenko yang tewas di Ibu Kota London tujuh tahun lalu.
"Kita sedang membuktikan kejahatan yang sebenarnya, sebuah pembunuhan politik," kata Suha di Ibu Kota Paris, Prancis, usai menerima laporan ahli forensik Swiss atas jenazah suaminya.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Kamis (7/11), para ahli medis dari Swiss menyatakan telah ditemukan bahan radioaktif polonium dalam kadar yang berbahaya di tubuh Arafat.
Bahan radioaktif ini sama dengan yang digunakan untuk membunuh mata-mata Rusia paling tersohor Alexander Litvenenko yang tewas di Ibu Kota London tujuh tahun lalu.
"Kita sedang membuktikan kejahatan yang sebenarnya, sebuah pembunuhan politik," kata Suha di Ibu Kota Paris, Prancis, usai menerima laporan ahli forensik Swiss atas jenazah suaminya.
Kamis, 10 Oktober 2013
Tim Pemusnah Senjata Kimia Suriah Tuntut Gencatan Senjata Sementara
Kepala pengawas senjata kimia Suriah menuntut gencatan senjata sementara guna memenuhi tenggat waktu untuk melakukan perlucutan senjata kimia.
"Saya pikir jika beberapa gencatan senjata sementara terwujud, saya pikir target tersebut bisa tercapai," tegas Kepala Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) Ahmet Uzumcu kepada wartawan di Den Haag .
Seperti diketahui, OPCW telah dibebani untuk menghancurkan gudang persenjataan kimia dan fasilitasnya hingga pertengahan 2014 di bawah persyaratan resolusi Dewan Keamanan PBB yang dibuat setelah serangan gas saraf yang mengguncang dunia pada Agustus lalu.
"Saya pikir jika beberapa gencatan senjata sementara terwujud, saya pikir target tersebut bisa tercapai," tegas Kepala Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) Ahmet Uzumcu kepada wartawan di Den Haag .
Seperti diketahui, OPCW telah dibebani untuk menghancurkan gudang persenjataan kimia dan fasilitasnya hingga pertengahan 2014 di bawah persyaratan resolusi Dewan Keamanan PBB yang dibuat setelah serangan gas saraf yang mengguncang dunia pada Agustus lalu.
Label:
Konflik Timur Tengah,
PBB,
Senjata Kimia
Selasa, 08 Oktober 2013
Ini Prioritas Ban Ki-moon Terkait Senjata Kimia di Suriah
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengakui tugas para pakar penghancur senjata kimia di Suriah tidak lah ringan. Ia pun lantas berupaya menambah jumlahnya menjadi 100 orang dari jumlah sebelumnya yang hanya mencapai 20 orang. Ban Ki-moon menegaskan bahwa keselamatan para pakar ini juga menjadi prioritas. Apalagi diketahui, mereka bekerja di wilayah konflik.
"Dua prioritas tertinggi saya adalah penghapusan program senjata kimia Suriah dan keselamatan serta keamanan personil misi bersama yang secara sukarela melakukan tugas penting berbahaya ini," janjinya.
Ban Ki-moon pun menegaskan penambahan tim pelucut ini juga demi keamanan para pakar. Ia menegaskan OPCW akan menyediakan ahli perlucutan senjata dan PBB akan memasok logistik, komunikasi dan staf keamanan untuk misi.
"Dua prioritas tertinggi saya adalah penghapusan program senjata kimia Suriah dan keselamatan serta keamanan personil misi bersama yang secara sukarela melakukan tugas penting berbahaya ini," janjinya.
Ban Ki-moon pun menegaskan penambahan tim pelucut ini juga demi keamanan para pakar. Ia menegaskan OPCW akan menyediakan ahli perlucutan senjata dan PBB akan memasok logistik, komunikasi dan staf keamanan untuk misi.
Label:
Konflik Timur Tengah,
PBB,
Senjata Kimia
Senin, 07 Oktober 2013
Tim PBB Mulai Musnahkan 1.000 Ton Senjata Kimia Suriah
Tim ahli dari PBB mulai melakukan pemusnahan senjata kimia milik pemerintah Suriah yang jumlahnya diperkirakan 1.000 ton. Senjata ini terdiri dari gas sarin, mustard dan bahan kimia lainnya yang diduga digunakan membantai rakyat Suriah Agustus lalu.
Diberitakan News.com.au, Minggu 6 Oktober 2013, tim ahli perlucutan senjata kimia dari PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang berbasis di Hague telah tiba di Damaskus Selasa pekan lalu. Sejak itu, mereka meneliti puluhan gudang senjata kimia Suriah.
Salah seorang ahli dalam tim itu mengatakan bahwa Minggu kemarin, mereka mulai melakukan verifikasi dan pemusnahan. Menurut resolusi PBB, pemusnahan harus rampung dilakukan pada pertengahan tahun 2014.
Diberitakan News.com.au, Minggu 6 Oktober 2013, tim ahli perlucutan senjata kimia dari PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang berbasis di Hague telah tiba di Damaskus Selasa pekan lalu. Sejak itu, mereka meneliti puluhan gudang senjata kimia Suriah.
Salah seorang ahli dalam tim itu mengatakan bahwa Minggu kemarin, mereka mulai melakukan verifikasi dan pemusnahan. Menurut resolusi PBB, pemusnahan harus rampung dilakukan pada pertengahan tahun 2014.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Senjata Kimia
Senin, 30 September 2013
20 Pakar OPCW Akan Hancurkan Senjata Kimia Suriah
Sebanyak 20 pengawas dari Badan Pengawas Senjata Kimia (OPCW) bertolak ke Suriah pada Senin (30/9) hari ini untuk membantu menghancurkan senjata kimia milik rezim Assad. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari perintah Dewan Keamanan PBB yang menginginkan OPCW berpartisipasi dalam penghancuran senjata kimia Suriah. DK PBB sendiri berharap penghancuran ini akan kelar pada pertengahan 2014.
Uniknya, para pakar senjata kimia ini akan menggunakan segala cara, termasuk menghancurkan peralatan manufaktur senjata dengan menggunakan berbagai alat khusus, termasuk godam.
Adapun tujuan utama 20 pengawas ini adalah memastikan bahwa peralatan untuk membuat senjata kimia itu tidak dapat dioperasikan lagi.
Uniknya, para pakar senjata kimia ini akan menggunakan segala cara, termasuk menghancurkan peralatan manufaktur senjata dengan menggunakan berbagai alat khusus, termasuk godam.
Adapun tujuan utama 20 pengawas ini adalah memastikan bahwa peralatan untuk membuat senjata kimia itu tidak dapat dioperasikan lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)















