Jika melihat gambar di atas, sepertinya itu adalah gambar pesawat luar angkasa dalam film-film science fiction. Padahal, gambar di atas adalah wujud pesawat tanpa awak (drone) terbaru buatan Amerika Serikat.
Dilansir DailyMail (12/11), Amerika Serikat baru saja merilis pesawat tanpa awak senilai 1 miliar Euro atau setara dengan Rp 15,3 triliun. Pesawat tak berawak (Super drone) terbaru ini dapat terbang pada kecepatan supersonik dan hanya menggunakan GPS untuk memandunya membelah langit.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Rabu, 13 November 2013
Indonesia Tolak Bawa Pencari Suaka, PM Australia Kesal
Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengaku kecewa terhadap sikap penolakan Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan 60 pencari suaka yang terombang-ambing di bagian selatan Laut Jawa. Padahal menurut aturan yang berlaku, ujar Abbott, perahu pencari suaka itu berada di teritori laut Indonesia.
Harian Sydney Morning Herald (SMH), Selasa 12 November 2013 melansir pernyataan Abbott itu dalam sebuah program mingguan di Stasiun Radio 2GB.
"Orang-orang itu berada dalam situasi pencarian dan penyelamatan di zona SAR Indonesia. Dalam hukum internasional normal apabila Anda diselamatkan dalam zona SAR suatu negara, maka sudah menjadi kewajiban negara yang bersangkutan untuk mengangkut Anda," ujar Abbott. Para pencari suaka, lanjut Abbott bahkan dapat menuju ke pelabuhan terdekat.
Harian Sydney Morning Herald (SMH), Selasa 12 November 2013 melansir pernyataan Abbott itu dalam sebuah program mingguan di Stasiun Radio 2GB.
"Orang-orang itu berada dalam situasi pencarian dan penyelamatan di zona SAR Indonesia. Dalam hukum internasional normal apabila Anda diselamatkan dalam zona SAR suatu negara, maka sudah menjadi kewajiban negara yang bersangkutan untuk mengangkut Anda," ujar Abbott. Para pencari suaka, lanjut Abbott bahkan dapat menuju ke pelabuhan terdekat.
Selasa, 12 November 2013
10 Rudal Balistik Antar Benua dengan Jangkauan Terjauh
Rudal Balistik Antar Benua atau Intercontinental Ballistic Missiles
(ICBM) merupakan rudal yang didesain untuk membawa hulu ledak nuklir. Di
dunia ini hanya beberapa negara yang memiliki teknologi untuk membuat
dan meluncurkan senjata mematikan tersebut. Artileri mengurutkan 10
Rudal Balistik Antar Benua berdasarkan jangkauan, berikut :
RSM-56 Bulava (Rusia - 10.000 km)
![]() |
| Rudal Bulava saat uji coba (Foto : warfare.be) |
Rudal Bulava atau RSM-56 (kode nama NATO : SS-NX-32) adalah ICBM yang diluncurkan dari kapal selam Angkatan Laut Rusia. Rudal ini memiliki jangkauan 10.000 km, dan saat ini dilengkapkan pada kapal selam nuklir kelas Borey.
Rudal Bulava mulai dilengkapkan pada kapal selam Yuri Dolgoruky (kapal selam pertama kelas Borey) pada Januari 2013 lalu. Bulava mampu membawa enam hingga sepuluh hulu ledak nuklir yang masing-masing berkekuatan 100-150 kiloton. Sebagai perbandingan, bom "Fat Man" yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima berkekuatan 22 kiloton.
Bulava menggunakan bahan bakar padat untuk dua tahap pertama penerbangannya dan kemudian bahan bakar cair untuk tahap ketiga. Rudal ini didesain untuk mampu bertahan dari ledakan nuklir dikisaran 500 meter.
Snowden, False Flag CIA dan Kepentingan Amerika di Muka Bumi
Apa sesungguhnya kepentingan tersirat Paman Sam "melepas" Edward Snowden, (cover) mantan kontraktor NSA, kemudian menebar isue dugaan penyadapan oleh Amerika terhadap beberapa negara termasuk Indonesia?
Ada "informasi" bahwa Snowden sebetulnya agen CIA untuk "dikorbankan". Entah skenarionya bagaimana, namanya juga false flag. Tujuannya agar ia mencari suaka di Cina. Diharapkan ia mampu menyusup ke komunitas IT Cina, yang memiliki keahlian "hacking" dan selama ini berhasil menembus "firewall" Pentagon, dan lain sebagainya. Makanya Snowden sebelum "diterima" oleh Rusia, ia cenderung berada di Hong Kong. Kenapa harus Hongkong, komunitas global telah paham bahwa Hong Kong adalah sarang CIA. Kenapa kok begitu sulit kalau hanya menangkap Snowden? Cina tidak bodoh! Ia yang semula meminta suaka ke Beijing ditolaknya. Tetapi ternyata justru Putin menerimanya. Dan Putin bukankah "mBah"-nya KGB, masa gak hapal sich dengan model-model false flag kacangan ini? Apa kepentingan Rusia menerima Snowden, ini yang menarik diulas. Sengaja mematahkan methode ala WikiLeaks, atau ada rencana lain Rusia?
Ada "informasi" bahwa Snowden sebetulnya agen CIA untuk "dikorbankan". Entah skenarionya bagaimana, namanya juga false flag. Tujuannya agar ia mencari suaka di Cina. Diharapkan ia mampu menyusup ke komunitas IT Cina, yang memiliki keahlian "hacking" dan selama ini berhasil menembus "firewall" Pentagon, dan lain sebagainya. Makanya Snowden sebelum "diterima" oleh Rusia, ia cenderung berada di Hong Kong. Kenapa harus Hongkong, komunitas global telah paham bahwa Hong Kong adalah sarang CIA. Kenapa kok begitu sulit kalau hanya menangkap Snowden? Cina tidak bodoh! Ia yang semula meminta suaka ke Beijing ditolaknya. Tetapi ternyata justru Putin menerimanya. Dan Putin bukankah "mBah"-nya KGB, masa gak hapal sich dengan model-model false flag kacangan ini? Apa kepentingan Rusia menerima Snowden, ini yang menarik diulas. Sengaja mematahkan methode ala WikiLeaks, atau ada rencana lain Rusia?
Senin, 11 November 2013
Suriah: Dari Revolusi Menuju Perang Sipil
Perang di manapun hanya menyebabkan kerugian, kesengsaraan, dan kepiluan. Tragisnya lagi, perang menyebabkan masyarakat sipil menjadi korbannya. Itu yang terjadi di Suriah. Untuk mengetahui perkembangan di Suriah, kami menurunkan tulisan di halaman ini dan Halaman 20. (Redaksi)
PERGOLAKAN di Suriah telah berubah arah, dari demonstrasi jalanan yang menuntut reformasi Presiden Bashar al-Assad, telah menjelma menjadi perang sipil yang dipengaruhi banyak aktor utama, semakin jauh dari cita-cita Arab Spring.
Gelora perubahan yang lahir pada Maret 2011 itu masih membubung tinggi, namun demonstrasi damai yang ingin melengserkan Assad itu direspons dengan tindakan brutal militer setempat.
PERGOLAKAN di Suriah telah berubah arah, dari demonstrasi jalanan yang menuntut reformasi Presiden Bashar al-Assad, telah menjelma menjadi perang sipil yang dipengaruhi banyak aktor utama, semakin jauh dari cita-cita Arab Spring.
Gelora perubahan yang lahir pada Maret 2011 itu masih membubung tinggi, namun demonstrasi damai yang ingin melengserkan Assad itu direspons dengan tindakan brutal militer setempat.
Thailand & Kamboja Rebutan Wilayah Candi Kuno Preah Vihear
Mahkamah Internasional akan mengumumkan keputusannya perihal sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja pada Senin (11/11/2013). Kedua negara itu bersitegang, karena dipicu sengketa wilayah di sekitar candi kuno, Preah Vihear, sejak 2008.
Sengketa itu kerap memicu bentrokan antara pasukan kedua pihak yang telah menewaskan beberapa tentara dan warga sipil. Tentara Thailand mengklaim telah berusaha untuk meredakan potensi bentrokan baru.
Sengketa itu memicu para demonstran Thailand berunjuk rasa. Mereka tidak ingin situs bersejarah yang mereka klaim milik Thailand jatuh ke tangan Kamboja. Para demonstran beraksi memenuhi sejumlah ruas jalan di Bangkok.
Sengketa itu kerap memicu bentrokan antara pasukan kedua pihak yang telah menewaskan beberapa tentara dan warga sipil. Tentara Thailand mengklaim telah berusaha untuk meredakan potensi bentrokan baru.
Sengketa itu memicu para demonstran Thailand berunjuk rasa. Mereka tidak ingin situs bersejarah yang mereka klaim milik Thailand jatuh ke tangan Kamboja. Para demonstran beraksi memenuhi sejumlah ruas jalan di Bangkok.
Arab Saudi dan Israel Ingin Amerika Perangi Iran.??
Amerika Serikat siap memarahi sekutu utamanya yaitu Israel dan Arab Saudi dan terus mengamankan kesepakatan nuklir dengan Iran, meskipun kegagalan pembicaraan terlah terjadi di Jenewa.
Sementara Teheran tetap berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan cepat dengan negara-negara besar, para analis melihat Washington sangat ingin mengambil keuntungan dari kesediaan Iran untuk menegosiasikan kesepakatan dan mencegah konflik di masa depan di Timur Tengah.
Perundingan tiga hari yang melelahkan antara Iran, Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, Perancis dan Jerman berakhir Minggu pagi tanpa kesepakatan.
Sementara Teheran tetap berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan cepat dengan negara-negara besar, para analis melihat Washington sangat ingin mengambil keuntungan dari kesediaan Iran untuk menegosiasikan kesepakatan dan mencegah konflik di masa depan di Timur Tengah.
Perundingan tiga hari yang melelahkan antara Iran, Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, Perancis dan Jerman berakhir Minggu pagi tanpa kesepakatan.
Langganan:
Postingan (Atom)






