Korea Utara sudah meluncurkan roket jarak jauh, yang disebut oleh pengamat adalah pengujian terhadap teknologi rudal yang dilarang.
Sebelumnya negara itu sudah memberitahu badan-badan PBB bahwa mereka berniat untuk mengorbitkan satelit observasi Bumi.
Baik militer Korea Selatan dan pejabat Kementerian Pertahanan AS yang berbicara pada Reuters membenarkan peluncuran tersebut.
Roket tersebut tampaknya diluncurkan dari markas di barat laut negara tersebut dan melewati bagian selatan Pulau Okinawa, Jepang.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Senin, 08 Februari 2016
Tunisia buat pembatas anti-teror di sepanjang perbatasan dengan Libia
Tunisia sudah menyelesaikan bagian pertama dari pembatas sepanjang 200km di sepanjang perbatasannya dengan Libia, yang dirancang untuk menghalau terorisme.
Pembatas itu terbuat dari saluran air terbuka dan gunungan pasir.
Proyek tersebut diumumkan pertengahan tahun lalu setelah 38 orang tewas di pantai akibat seorang pria bersenjata yang disebut berlatih di Libia.
Menteri pertahanan Tunisia mengatakan bahwa fase kedua proyek tersebut akan memasang peralatan elektronik dengan bantuan Jerman dan AS.
Petugas keamanan mengatakan pertahanan ini - yang akan menyulitkan kendaraan melewati perbatasan - sudah membantu mengurangi penyelundupan.
Pembatas itu terbuat dari saluran air terbuka dan gunungan pasir.
Proyek tersebut diumumkan pertengahan tahun lalu setelah 38 orang tewas di pantai akibat seorang pria bersenjata yang disebut berlatih di Libia.
Menteri pertahanan Tunisia mengatakan bahwa fase kedua proyek tersebut akan memasang peralatan elektronik dengan bantuan Jerman dan AS.
Petugas keamanan mengatakan pertahanan ini - yang akan menyulitkan kendaraan melewati perbatasan - sudah membantu mengurangi penyelundupan.
Intelijen Somalia: Bom di Pesawat Daallo Dipicu dari Laptop
Sejumlah pejabat intelijen Somalia mengungkapkan ledakan TNT pada maskapai Daallo Airlines dipicu dari laptop yang dibawa oleh salah seorang penumpang. Dari rekaman yang baru dirilis, terlihat pelaku bom menyerahkan laptop kepada dua orang.
Ada satu orang di antara mereka mengenakan jaket keamanan. Demikian disampaikan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISA) seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (8/2/2016).
"Dari hasil investigasi, ada sekitar 15 orang ditangkap sehubungan dengan insiden tersebut. Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa bom itu ditanam (diprogram) di laptop oleh salah satu penumpang," ujar salah seorang pejabat kemanan Somalia yang enggan disebutkan namanya kepada AFP.
Sumber juga menambahkan, dari rekaman CCTV diyakini aksi tersebut sudah terencana. Selain itu juga terkordinasi dengan jaringan tertentu yang masih didalaminya.
Ada satu orang di antara mereka mengenakan jaket keamanan. Demikian disampaikan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISA) seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (8/2/2016).
"Dari hasil investigasi, ada sekitar 15 orang ditangkap sehubungan dengan insiden tersebut. Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa bom itu ditanam (diprogram) di laptop oleh salah satu penumpang," ujar salah seorang pejabat kemanan Somalia yang enggan disebutkan namanya kepada AFP.
Sumber juga menambahkan, dari rekaman CCTV diyakini aksi tersebut sudah terencana. Selain itu juga terkordinasi dengan jaringan tertentu yang masih didalaminya.
Rabu, 03 Februari 2016
Rusia Ciptakan Sistem Pertahanan Rudal Generasi Baru
Rusia saat ini sedang menciptakan perisai antirudal terbaru. Demikian hal ini dikabarkan oleh Komandan Persatuan Antirudal Balistik dari Angkatan Udara Rusia Kolonel Andrey Cheburin, Sabtu (23/1). Pemerintah Rusia menargetkan modernisasi mendalam dalam waktu dekat. Dengan demikian, ini berarti menciptakan sebuah sistem berbeda untuk perlindungan dari serangan rudal.
Cheburin mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir jajaran sistem antirudal Rusia pernah berada dalam proses modernisasi, hanya saja belum selesai. “Saya optimis bahwa dalam waktu dekat Rusia akan memiliki sistem pertahanan rudal yang super canggih,” kata Cheburin menyimpulkan.
Informasi mengenai modernisasi sistem pertahanan rudal A-135 Amur pernah muncul ke publik pada musim gugur 2012. Saat itu, Kolonel Jenderal Divisi Roket Strategis Viktor Yesin mengabarkan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa “kini telah dilaksanakan penggantian rudal dengan perangkat baru serta penggantian seluruh elemen lain yang termasuk ke dalam sistem, termasuk unit deteksi dan navigasi. Di samping itu, fasilitas peluncur rudal bawah tanah akan diaktifkan kembali.”
Cheburin mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir jajaran sistem antirudal Rusia pernah berada dalam proses modernisasi, hanya saja belum selesai. “Saya optimis bahwa dalam waktu dekat Rusia akan memiliki sistem pertahanan rudal yang super canggih,” kata Cheburin menyimpulkan.
Informasi mengenai modernisasi sistem pertahanan rudal A-135 Amur pernah muncul ke publik pada musim gugur 2012. Saat itu, Kolonel Jenderal Divisi Roket Strategis Viktor Yesin mengabarkan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa “kini telah dilaksanakan penggantian rudal dengan perangkat baru serta penggantian seluruh elemen lain yang termasuk ke dalam sistem, termasuk unit deteksi dan navigasi. Di samping itu, fasilitas peluncur rudal bawah tanah akan diaktifkan kembali.”
Menlu Inggris Tuding Putin Perburuk Suriah
Kremlin tak butuh waktu lama untuk merespons pernyataan pedas Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, Philip Hammond, terkait pernyataannya yang menyebutkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, memperburuk krisis Suriah.
Sebelumnya, saat mengunjungi kamp pengungsi sipil Suriah di Zaatari, Yordania, Hammond mengatakan Putin memperparah keadaan di Suriah dengan memerintahkan serangan udara ke sejumlah basis oposisi Suriah.
Serangan Rusia itu dikatakan justru memperkuat ISIS, bukan menghancurkan ISIS sebagaimana yang selalu diklaim Rusia.
Sebelumnya, saat mengunjungi kamp pengungsi sipil Suriah di Zaatari, Yordania, Hammond mengatakan Putin memperparah keadaan di Suriah dengan memerintahkan serangan udara ke sejumlah basis oposisi Suriah.
Serangan Rusia itu dikatakan justru memperkuat ISIS, bukan menghancurkan ISIS sebagaimana yang selalu diklaim Rusia.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Militer Inggris,
Rusia,
Suriah
Amerika Serikat Risih Dengan Rencana Peluncuran Satelit Korea Utara
Seperti halnya saat Korea Utara (Korut) melakukan uji bom hidrogen pada Januari 2016 lalu, Amerika Serikat (AS) kembali merespons negatif terkait rencana negara pimpinan Kim Jong-un itu untuk meluncurkan satelit ke luar angkasa.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Korut merencanakan peluncuran satelit observasi bumi pertamanya yang dinamakan Kwangmyongsong, pada medio 8-25 Februari 2016 mendatang.
Rencana ini juga sudah dikonfirmasikan Pyongyang ke Serikat Telekomunikasi Internasional, serta Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Korut merencanakan peluncuran satelit observasi bumi pertamanya yang dinamakan Kwangmyongsong, pada medio 8-25 Februari 2016 mendatang.
Rencana ini juga sudah dikonfirmasikan Pyongyang ke Serikat Telekomunikasi Internasional, serta Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Label:
amerik,
Korea Utara,
Satelit Pertahanan
Ukraina Ikut Perangi ISIS di Suriah
Setelah Belanda, Ukraina jadi negara terbaru yang disebutkan akan ikut “turun gunung” memerangi organisasi teroris ISIS di Suriah. Akan tetapi, ada kekhawatiran tertentu tentang potensi clash dengan militer Rusia yang sudah lebih dulu melancarkan ribuan serangan udara sejak akhir 2015 lalu.
Kabar ini dimunculkan wartawan media Inggris, Independent, menyusul adanya pertemuan Menteri Pertahanan (Menhan) Ukraina, Stepan Poltorak dengan Menhan Amerika Serikat (AS), Ash Carter, awal pekan ini.
“Kami sudah menyiapkan opsi terhadap dukungan kami terkait operasi anti-ISIS di Suriah, termasuk (penerjunan) pasukan darat. Hal ini bisa memicu potensi bentrok dengan militer Rusia,” ungkap seorang sumber pemerintahan Ukraina yang tak disebutkan namanya.
Kabar ini dimunculkan wartawan media Inggris, Independent, menyusul adanya pertemuan Menteri Pertahanan (Menhan) Ukraina, Stepan Poltorak dengan Menhan Amerika Serikat (AS), Ash Carter, awal pekan ini.
“Kami sudah menyiapkan opsi terhadap dukungan kami terkait operasi anti-ISIS di Suriah, termasuk (penerjunan) pasukan darat. Hal ini bisa memicu potensi bentrok dengan militer Rusia,” ungkap seorang sumber pemerintahan Ukraina yang tak disebutkan namanya.
Langganan:
Postingan (Atom)






