Rusia saat ini sedang menciptakan perisai antirudal terbaru. Demikian hal ini dikabarkan oleh Komandan Persatuan Antirudal Balistik dari Angkatan Udara Rusia Kolonel Andrey Cheburin, Sabtu (23/1). Pemerintah Rusia menargetkan modernisasi mendalam dalam waktu dekat. Dengan demikian, ini berarti menciptakan sebuah sistem berbeda untuk perlindungan dari serangan rudal.
Cheburin mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir jajaran sistem antirudal Rusia pernah berada dalam proses modernisasi, hanya saja belum selesai. “Saya optimis bahwa dalam waktu dekat Rusia akan memiliki sistem pertahanan rudal yang super canggih,” kata Cheburin menyimpulkan.
Informasi mengenai modernisasi sistem pertahanan rudal A-135 Amur pernah muncul ke publik pada musim gugur 2012. Saat itu, Kolonel Jenderal Divisi Roket Strategis Viktor Yesin mengabarkan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa “kini telah dilaksanakan penggantian rudal dengan perangkat baru serta penggantian seluruh elemen lain yang termasuk ke dalam sistem, termasuk unit deteksi dan navigasi. Di samping itu, fasilitas peluncur rudal bawah tanah akan diaktifkan kembali.”
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Tampilkan postingan dengan label Radar Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Februari 2016
Selasa, 26 Januari 2016
Senjata Elektronik Terbaru Buatan Rusia Siap Diekspor
Senjata elektronik (electronic warfare) Moskow-1, Krasukha-2, dan Krasukha-4 sudah siap diekspor ke luar negeri dan telah menerima surat spesifikasi teknis untuk keperluan ekspor. Seluruh kompleks senjata elektronik ini diramalkan akan menarik minat banyak negara yang memiliki angkatan bersenjata berteknologi tinggi.
Akibat meningkatnya jumlah konflik lokal di seluruh dunia, minat pembelian senjata elektronik buatan Rusia oleh calon pembeli asing pun turut meningkat secara signifikan. Demikian hal tersebut diutarakan perwakilan dari perusahaan Tekonologi Radio (KRET) yang merupakan produsen utama sistem senjata elektronik Rusia.
Menurut Wakil Pertama Direktur Umum KRET Igor Nasenkov, “Saat ini, KRET bersama dengan Rosoboronexport, sedang mengerjakan kontrak sistem senjata elektronik berbasis darat.” Menurut informasi yang ia sampaikan, sistem senjata elektronik yang dimaksud adalah kompleks Krasukha-2, Krasukha-4, dan Moskow-1.
Akibat meningkatnya jumlah konflik lokal di seluruh dunia, minat pembelian senjata elektronik buatan Rusia oleh calon pembeli asing pun turut meningkat secara signifikan. Demikian hal tersebut diutarakan perwakilan dari perusahaan Tekonologi Radio (KRET) yang merupakan produsen utama sistem senjata elektronik Rusia.
![]() |
| Kompleks Krasukha-4 |
Menurut Wakil Pertama Direktur Umum KRET Igor Nasenkov, “Saat ini, KRET bersama dengan Rosoboronexport, sedang mengerjakan kontrak sistem senjata elektronik berbasis darat.” Menurut informasi yang ia sampaikan, sistem senjata elektronik yang dimaksud adalah kompleks Krasukha-2, Krasukha-4, dan Moskow-1.
Rabu, 07 Oktober 2015
Satelit GF-4 Cina Mampu Lacak Keberadaan Kapal Induk Amerika
Cina siap untuk meluncurkan satelit Gaofen-4 ke ruang angkasa, yang akan mampu melacak setiap kapal induk AS yang disebar di seluruh dunia sebelum akhir 2015, lapor China Youth Daily.
Selama Krisis Selat Taiwan pada tahun 1996, Cina menembakkan rudal di Selat Taiwan yang kemudian di respon secara tegas oleh Angkatan Laut AS, China kemudian menyadari bahwa misinya untuk “membebaskan” Taiwan tidak akan pernah berhasil tanpa mengalahkan kapal induk AS.
Selama Krisis Selat Taiwan pada tahun 1996, Cina menembakkan rudal di Selat Taiwan yang kemudian di respon secara tegas oleh Angkatan Laut AS, China kemudian menyadari bahwa misinya untuk “membebaskan” Taiwan tidak akan pernah berhasil tanpa mengalahkan kapal induk AS.
Label:
Amerika,
China,
Radar Pertahanan
Minggu, 28 Desember 2014
AS Aktifkan Sistem Radar Pelacak Rudal di Jepang
Kantor Berita Kyodo Jepang melaporkan Amerika Serikat mengaktifkan sistem anti-rudal di pangkalan militer Kyogamisaki di kota Kyotango yang terletak di Prefektur Kyoto, Jepang pada Jumat (26/12/2014).
Lebih lanjut media Jepang tersebut melaporkan radar X-band, atau sistem Pengawasan Radar Bergerak Angkatan Laut, yang dikenal sebagai TPY-2.
Para ahli mengatakan, radar yang dikenal dapat melacak rudal sejauh empat ribu kilometer, dikhususkan untuk penempatan di pangkalan Jepang yang akan melacak pergerakan rudal Korea Utara.
Lebih lanjut media Jepang tersebut melaporkan radar X-band, atau sistem Pengawasan Radar Bergerak Angkatan Laut, yang dikenal sebagai TPY-2.
Para ahli mengatakan, radar yang dikenal dapat melacak rudal sejauh empat ribu kilometer, dikhususkan untuk penempatan di pangkalan Jepang yang akan melacak pergerakan rudal Korea Utara.
Label:
Amerika,
Jepang,
Radar Pertahanan
AS kirimkan sistem pertahanan radar kedua ke Jepang
Amerika Serikat telah mengirimkan sistem radar pertahanan rudal kedua kepada Jepang, kata Pentagon Jumat.
Sistem Pengintaian Radar Angkatan Laut/Transportable baru (AN/TPY-2) bertujuan untuk "meningkatkan cakupan sensor pertahanan rudal balistik dari Jepang dan Amerika Serikat," kata Departemen Pertahanan dalam satu pernyataan.
Amerika Serikat telah menyatakan ingin sekutunya untuk meningkatkan pertahanan rudal mereka untuk membantu melindungi terhadap perang Korea Utara.
Program rudal nuklir balistik dan Korea Utara adalah keprihatinan keamanan utama di wilayah Pasifik dan luarnya.
"Kami akan terus menekankan pentingnya mengembangkan sistem pertahanan rudal balistik kawasan," kata Wakil Kepala Staf Gabungan James Winnefeld pada awal tahun ini, menekankan bahwa kerja sama akan "menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara-negara masing-masing bertindak sendiri."
Sistem Pengintaian Radar Angkatan Laut/Transportable baru (AN/TPY-2) bertujuan untuk "meningkatkan cakupan sensor pertahanan rudal balistik dari Jepang dan Amerika Serikat," kata Departemen Pertahanan dalam satu pernyataan.
Amerika Serikat telah menyatakan ingin sekutunya untuk meningkatkan pertahanan rudal mereka untuk membantu melindungi terhadap perang Korea Utara.
Program rudal nuklir balistik dan Korea Utara adalah keprihatinan keamanan utama di wilayah Pasifik dan luarnya.
"Kami akan terus menekankan pentingnya mengembangkan sistem pertahanan rudal balistik kawasan," kata Wakil Kepala Staf Gabungan James Winnefeld pada awal tahun ini, menekankan bahwa kerja sama akan "menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara-negara masing-masing bertindak sendiri."
Label:
Amerika,
Jepang,
Radar Pertahanan
Kamis, 16 Oktober 2014
Sistem Pengintai Luar Angkasa Liana, Teknologi Baru Angkatan Laut Rusia
Kapal-kapal Angkatan Laut Rusia tak lama lagi akan diperkuat oleh sebuah kompleks pengintai modern yang terintegrasi dalam mendapatkan informasi intelijen, yakni sistem penyiaran luar angkasa multifungsi Liana. Hal tersebut disampaikan oleh seorang narasumber dari dunia industri militer pada RIA Novosti.
Selain memperkuat kapal perang Angkatan Laut, Liana rencananya juga dirancang untuk melayani sistem pertahanan pinggir pantai yang memiliki persenjataan roket.
Berdasarkan informasi dari narasumber, Liana adalah sistem yang terdiri dari empat satelit radar pengintai dan berada di ketinggian sekitar seribu kilometer di atas permukaan bumi. Keempat satelit ini akan terus memantau kehadiran dan pergerakan obyek musuh di darat, udara, dan laut.
Selain memperkuat kapal perang Angkatan Laut, Liana rencananya juga dirancang untuk melayani sistem pertahanan pinggir pantai yang memiliki persenjataan roket.
Berdasarkan informasi dari narasumber, Liana adalah sistem yang terdiri dari empat satelit radar pengintai dan berada di ketinggian sekitar seribu kilometer di atas permukaan bumi. Keempat satelit ini akan terus memantau kehadiran dan pergerakan obyek musuh di darat, udara, dan laut.
Label:
Intelijen,
Kapal Perang,
Radar Pertahanan,
Rusia
Minggu, 05 Oktober 2014
Radar Baru China Siap Hadapi Pesawat Siluman Amerika Serikat
Media China menyebut F-22 Raptor, yang merupakan salah satu pesawat tercanggih Amerika Serikat (AS) dengan teknologi anti-radar hingga dijuluki pesawat siluman, kini menjadi tak lebih dari barang usang untuk radar baru China.
Dilansir laman defensenews, Sabtu, 4 Oktober, sistem radar baru dengan kode DWL002 terdiri dari satu stasiun utama dan dua stasiun pembantu, yang dapat diekspansi hingga empat stasiun bergerak, menggunakan truk-truk pengangkut.
Radar yang dipamerkan dalam Eksebisi Elektronika Pertahanan Internasional China ke-9 di Beijing, pada Mei lalu, dapat mendeteksi pesawat jet musuh hingga sejauh 400 Km dan 600 Km untuk pesawat militer standar.
![]() |
| Pesawat Tempur F-35 Amerika Serikat |
Dilansir laman defensenews, Sabtu, 4 Oktober, sistem radar baru dengan kode DWL002 terdiri dari satu stasiun utama dan dua stasiun pembantu, yang dapat diekspansi hingga empat stasiun bergerak, menggunakan truk-truk pengangkut.
Radar yang dipamerkan dalam Eksebisi Elektronika Pertahanan Internasional China ke-9 di Beijing, pada Mei lalu, dapat mendeteksi pesawat jet musuh hingga sejauh 400 Km dan 600 Km untuk pesawat militer standar.
Label:
Amerika,
China,
Pesawat Tempur,
Radar Pertahanan
Senin, 29 September 2014
Radar Rusia Akhiri Era Pesawat Tempur Siluman?
Seorang ahli militer Rusia telah menyatakan sesuatu yang tampaknya mengerikan bagi Amerika Serikat. Adalah Dr. Igor Sutyagin, yang mengklaim bahwa pesawat tempur dan pesawat pembom siluman tidak akan dapat terus tersembunyi seiring teknologi radar musuh yang semakin baik.
Militer Amerika telah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan dana untuk mengembangkan pesawat-pesawat tempur siluman, dan hingga kini pun masih terus dilakukan. Dan apabila pesawat-pesawat siluman itu hanya akan kalah dari sistem pertahanan udara yang nilai investasinya jauh lebih murah, maka benar-benar sangat menyakitkan.
Jika pernyataan Sutyagin benar adanya, Amerika akan dihantui masalah besar. Sejak tahun 1970-an, sudah triliunan dolar yang telah Washington habiskan untuk merancang dan membangun pesawat-pesawat siluman seperti F-117, B-2, F-22, dan F-35 dan pesawat pembom baru yang saat ini masih dikembangkan yaitu Long-Range Strike Bomber (LRSB). Kerugian terbesarnya adalah Amerika Serikat akan kehilangan dominasi udaranya.
![]() |
| Radar Rusia Akhiri Era Pesawat Tempur Siluman |
Militer Amerika telah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan dana untuk mengembangkan pesawat-pesawat tempur siluman, dan hingga kini pun masih terus dilakukan. Dan apabila pesawat-pesawat siluman itu hanya akan kalah dari sistem pertahanan udara yang nilai investasinya jauh lebih murah, maka benar-benar sangat menyakitkan.
Jika pernyataan Sutyagin benar adanya, Amerika akan dihantui masalah besar. Sejak tahun 1970-an, sudah triliunan dolar yang telah Washington habiskan untuk merancang dan membangun pesawat-pesawat siluman seperti F-117, B-2, F-22, dan F-35 dan pesawat pembom baru yang saat ini masih dikembangkan yaitu Long-Range Strike Bomber (LRSB). Kerugian terbesarnya adalah Amerika Serikat akan kehilangan dominasi udaranya.
Label:
Pesawat Tempur,
Radar Pertahanan,
Rusia
Langganan:
Postingan (Atom)






