Kelompok militan Islamic State (ISIS) terkena 18 serangan udara koalisi Amerika Serikat di Irak dan Suriah.
Menurut laporan Pasukan Gugus Tugas Gabungan, seperti dilaporkan Reuters, Rabu (14/10/2015), 16 serangan dilakukan di Irak, dan mengenai unit taktis, kendaraan, posisi tempur, persenjataan, gedung dan gudang senjata di dekat delapan kota.
Sementara di Suriah, serangan rutin menghantam dua unit taktis, sebuah kendaraan dan satu gedung dekat kota Al Hawl dan Ar Raqqa.
Akhir pekan kemarin, pesawat AS dan Rusia terbang berdekatan dalam operasi melawan ISIS di Suriah. Sejak Rusia memulai serangan di Suriah pada 30 September, AS khawatir tabrakan udara sewaktu-waktu terjadi.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Kamis, 15 Oktober 2015
18 Serangan Udara Koalisi AS Bombardir ISIS
Label:
Amerika,
ISIS,
Konflik Timur Tengah
Helikopter Mi-24 Rusia Unjuk Gigi di Suriah
Setelah Rusia memulai serangan udaranya di Suriah, rezim Presiden Bashar al-Assad dan pemberontak sama-sama mengunggah serangkaian video dari aksi helikopter canggih Mi-24.
Helikopter ini merupakan tipe hybrid yang dapat digunakan sebagai moda transportasi prajurit dan juga penyerangan.
Dalam beberapa video, terlihat Mi-24 atau dikenal juga sebagai Hind, terbang sangat rendah, terkadang hanya setinggi pepohonan. Helikopter ini juga biasa terbang berpasangan.
Pilot Suriah sudah lama menerbangkan berbagai helikopter buatan Rusia. Namun dalam kasus ini, para pengamat melihat Mi-24 dikendalikan piilot Rusia, karena kemampuan teknisnya juga berbeda jauh dengan pilot Suriah. Helikopter yang ikut serta dalam misi Rusia kali ini merupakan tipe baru dari Mi-24s.
Helikopter ini merupakan tipe hybrid yang dapat digunakan sebagai moda transportasi prajurit dan juga penyerangan.
Dalam beberapa video, terlihat Mi-24 atau dikenal juga sebagai Hind, terbang sangat rendah, terkadang hanya setinggi pepohonan. Helikopter ini juga biasa terbang berpasangan.
Pilot Suriah sudah lama menerbangkan berbagai helikopter buatan Rusia. Namun dalam kasus ini, para pengamat melihat Mi-24 dikendalikan piilot Rusia, karena kemampuan teknisnya juga berbeda jauh dengan pilot Suriah. Helikopter yang ikut serta dalam misi Rusia kali ini merupakan tipe baru dari Mi-24s.
Label:
Helikopter,
ISIS,
Konflik Timur Tengah,
Rusia,
Suriah
Dua Petinggi Garda Revolusi Iran Tewas di Suriah
Petinggi Garda Revolusi Iran kembali tewas di Suriah. Kali ini dua perwira Garda Revolusi dilaporkan tewas di negara yang dilanda konflik itu.
Menurut Kantor Berita Iran, Tasnim, kedua pejabat senior ini tewas dalam misi yang berlangsung pada Senin (12/10/2015). Kematian keduanya dilaporkan menjelang serangan ofensif pasukan Suriah yang didukung Iran terhadp kelompok Islamic State (ISIS).
"Mayor Jenderal Farshad Hasounizadeh dan Brigadir Hamid Mokhtarband, yang merupakan komandan dari Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC), meninggal dalam misi," lapor Kantor Berita Tasnim, seperti dikutip Reuters, Rabu (14/10/2015).
Namun tidak disebutkan oleh Tasnim lokasi dari misi yang menyebabkan keduanya meninggal.
Menurut Kantor Berita Iran, Tasnim, kedua pejabat senior ini tewas dalam misi yang berlangsung pada Senin (12/10/2015). Kematian keduanya dilaporkan menjelang serangan ofensif pasukan Suriah yang didukung Iran terhadp kelompok Islamic State (ISIS).
"Mayor Jenderal Farshad Hasounizadeh dan Brigadir Hamid Mokhtarband, yang merupakan komandan dari Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC), meninggal dalam misi," lapor Kantor Berita Tasnim, seperti dikutip Reuters, Rabu (14/10/2015).
Namun tidak disebutkan oleh Tasnim lokasi dari misi yang menyebabkan keduanya meninggal.
Label:
Iran,
ISIS,
Konflik Timur Tengah,
Suriah
Keterlibatan Intelijen Rusia dalam perang Melawan ISIS di Irak
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow turut membantu memerangi militan di Irak setelah mendapat restu dari Baghdad.
"Merupakan hal penting dalam mendukung kerja sama antara pemerintah Irak dan Kurdistan Irak dalam memerangi terorisme. Kami melakukannya dengan restu pemerintah lokal," ujar Lavrov, dalam kunjungannya di Oulum Finlandia, Rabu (14/10/2015).
Lavrov juga mengatakan pusat intelijen di Baghdad saat ini diisi staf Rusia, Irak, Iran dan juga Suriah. Pusat intelijen ini juga masih mau menerima staf negara lain.
"Merupakan hal penting dalam mendukung kerja sama antara pemerintah Irak dan Kurdistan Irak dalam memerangi terorisme. Kami melakukannya dengan restu pemerintah lokal," ujar Lavrov, dalam kunjungannya di Oulum Finlandia, Rabu (14/10/2015).
Lavrov juga mengatakan pusat intelijen di Baghdad saat ini diisi staf Rusia, Irak, Iran dan juga Suriah. Pusat intelijen ini juga masih mau menerima staf negara lain.
Label:
Intelijen,
ISIS,
Konflik Timur Tengah,
Rusia
Jet Tempur Rusia Hancurkan 40 Infrastruktur ISIS
Pesawat jet tempur Rusia menghantam 40 posisi kelompok militan Islamic State (ISIS) dalam 24 jam terakhir di Suriah.
"Dari pangkalan udara Hmeimim, kru Su-32, Su-24M dan Su-25M melancarkan 41 serangan terhadap 40 infrastruktur ISIS di Aleppo, Idlib, Latakia, Hama dan Deir Ezzor," ucap Kementerian Pertahanan Rusia, Rabu (14/10/2015).
Dalam serangan di Aleppo, bomber Rusia menghancurkan beberapa fasilitas yang biasa digunakan ISIS dalam membuat bahan peledak dan bom mobil.
"Gedung-gedung ini biasa digunakan untuk merencanakan aksi teror di beberapa kota Suriah," sebut juru bicara Kemenhan Rusia Igor Konashenkov, seperti dilansir AFP.
Di Hreitan, Aleppo, pesawat Rusia menghancurkan sebuah gudang amunisi ISIS. Bengkel yang biasa dipakai ISIS untuk memasangkan mortir, senapan mesin dan sistem anti-pesawat di dekat Aleppo juga dihancurkan.
"Dari pangkalan udara Hmeimim, kru Su-32, Su-24M dan Su-25M melancarkan 41 serangan terhadap 40 infrastruktur ISIS di Aleppo, Idlib, Latakia, Hama dan Deir Ezzor," ucap Kementerian Pertahanan Rusia, Rabu (14/10/2015).
Dalam serangan di Aleppo, bomber Rusia menghancurkan beberapa fasilitas yang biasa digunakan ISIS dalam membuat bahan peledak dan bom mobil.
"Gedung-gedung ini biasa digunakan untuk merencanakan aksi teror di beberapa kota Suriah," sebut juru bicara Kemenhan Rusia Igor Konashenkov, seperti dilansir AFP.
Di Hreitan, Aleppo, pesawat Rusia menghancurkan sebuah gudang amunisi ISIS. Bengkel yang biasa dipakai ISIS untuk memasangkan mortir, senapan mesin dan sistem anti-pesawat di dekat Aleppo juga dihancurkan.
Label:
ISIS,
Konflik Timur Tengah,
Pesawat Tempur,
Rusia
Arab Saudi Borong Ratusan Rudal Patriot AS
Arab Saudi memborong 320 rudal Patriot PAC-3 buatan Lockheed Martin Corp yang disepakati dengan Amerika Serikat pekan lalu. Saudi juga akan membeli sistem anti-rudal jarak jauh buatan Lockheed dalam waktu dekat.
Menurut staf senior Lockheed kepada Reuters, Rabu (14/10), kesepakatan pekan lalu itu adalah bagian dari rencana pembelian 600 rudal Patriot AS oleh Saudi senilai US$5,4 miliar atau lebih dari Rp72,8 triliun yang disetujui dalam pembicaraan kedua negara Juli lalu.
Arab Saudi, sekutu dekat AS di Timur Tengah, saat ini berpartisipasi dalam upaya koalisi pembasmi ISIS di Suriah serta memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Rudal Patriot PAC-3 yang ampuh menghadang pesawat tempur dan rudal musuh saat ini digunakan oleh AS, Belanda, Jerman, Jepang, Taiwan dan Uni Emirat Arab.
Menurut staf senior Lockheed kepada Reuters, Rabu (14/10), kesepakatan pekan lalu itu adalah bagian dari rencana pembelian 600 rudal Patriot AS oleh Saudi senilai US$5,4 miliar atau lebih dari Rp72,8 triliun yang disetujui dalam pembicaraan kedua negara Juli lalu.
Arab Saudi, sekutu dekat AS di Timur Tengah, saat ini berpartisipasi dalam upaya koalisi pembasmi ISIS di Suriah serta memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Rudal Patriot PAC-3 yang ampuh menghadang pesawat tempur dan rudal musuh saat ini digunakan oleh AS, Belanda, Jerman, Jepang, Taiwan dan Uni Emirat Arab.
Selasa, 13 Oktober 2015
Negara Eropa Satu Per Satu Tinggalkan Wajib Militer
Isu wajib militer kembali mengemuka di Indonesia dengan munculnya istilah bela negara yang diusung pemerintah. Kementerian Pertahanan RI disebut akan mewajibkan bela negara terhadap 100 juta warga negara Indonesia.
Namun di Eropa, wajib militer mulai ditinggalkan. Banyak negara anggota Uni Eropa kini mengandalkan tentara profesional untuk mempertahankan negara, tidak dengan melatih rakyatnya untuk angkat senjata.
Media Deutsche Welle menuliskan, dari 28 negara anggota NATO, 23 di antaranya telah menanggalkan wajib militer. Sementara itu 21 negara Uni Eropa telah menghapuskan wajib militer. Negara Eropa yang masih menerapkan wajib militer adalah Austria, Cyprus, Denmark, Finlandia, Norwegia, Swiss, Moldova, Turki dan Estonia.
Perancis adalah negara pertama di Eropa yang menghapuskan wajib militer pada tahun 2001, disusul oleh negara lainnya di kawasan. Jerman memutuskan menghapuskannya pada 2011, namun wajib militer masih masuk dalam konstitusi dan bisa kembali diterapkan jika situasi darurat terjadi di negara itu.
Namun di Eropa, wajib militer mulai ditinggalkan. Banyak negara anggota Uni Eropa kini mengandalkan tentara profesional untuk mempertahankan negara, tidak dengan melatih rakyatnya untuk angkat senjata.
Media Deutsche Welle menuliskan, dari 28 negara anggota NATO, 23 di antaranya telah menanggalkan wajib militer. Sementara itu 21 negara Uni Eropa telah menghapuskan wajib militer. Negara Eropa yang masih menerapkan wajib militer adalah Austria, Cyprus, Denmark, Finlandia, Norwegia, Swiss, Moldova, Turki dan Estonia.
Perancis adalah negara pertama di Eropa yang menghapuskan wajib militer pada tahun 2001, disusul oleh negara lainnya di kawasan. Jerman memutuskan menghapuskannya pada 2011, namun wajib militer masih masuk dalam konstitusi dan bisa kembali diterapkan jika situasi darurat terjadi di negara itu.
Langganan:
Postingan (Atom)






