AS menegaskan bahwa kesepakatan nuklir Iran tak memengaruhi rencana Washington untuk membangun sistem pertahanan misil di Eropa, karena AS menilai Iran juga tetap melanjutkan pengembangan misil balistik. Pakar Rusia mengakui, dari sudut pandang formal, argumen Washington tersebut benar, tapi mereka menegaskan bahwa 'ancaman Iran' yang dituduhkan Amerika adalah sebuah ilusi belaka.
Setelah format P5+1 dan Iran akhirnya berhasil mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, Selasa (14/7) lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menagih janji Presiden AS Barack Obama untuk menghentikan penempatan sistem pertahanan misil AS di Eropa. Namun, Washington menegaskan bahwa kesepakatan nuklir Iran tak ada kaitannya dengan pertahanan misil di Eropa.
Sehari setelah kesepakatan nuklir Iran tercapai, seorang narasumber dari Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan pada kantor berita Rusia Sputnik bahwa 'tercapainya resolusi atas masalah nuklir tak memudarkan kebutuhan sistem pertahanan misil untuk menangkis ancaman misil dari Iran'. Washington menyebutkan bahwa Iran memiliki cadangan misil balistik terbesar di Timur Tengah. Selain itu, resolusi tersebut tetap membuat Iran harus menanggung sanksi atas program misil balistik mereka hingga delapan tahun ke depan.
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Jumat, 24 Juli 2015
Kesepakatan Program Nuklir Iran Tercapai, AS Tetap Lanjutkan Rencana Pengembangan Sistem Pertahanan Misil di Eropa
Sabtu, 18 Juli 2015
PM Ukraina klaim Putin bakal 'hilangkan' Ukraina
Perdana Menteri Ukraina, Arseniy Yatsenyuk, mengklaim Presiden Rusia, Vladimir Putin bakal 'menghilangkan' Ukraina agar daerah tersebut bisa diraih kembali. Untuk menghilangkan Ukraina, Yatsenyuk mengatakan Putin terus membuat konflik antara pemerintah dengan pemberontak Ukraina.
"Tujuan Putin adalah membunuh proyek Ukraina, dan itu hanya untuk menghilangkan Ukraina. Saya tidak ragu," ujar Yatsenyuk, seperti dilansir dari laman The Independent, Jumat (17/7).
Yatsenyuk juga mengatakan ada bukti tak terbantahkan terhadap pengelakan Rusia mendukung pejuang separatis di ujung timur Ukraina.
"Tujuan Putin adalah membunuh proyek Ukraina, dan itu hanya untuk menghilangkan Ukraina. Saya tidak ragu," ujar Yatsenyuk, seperti dilansir dari laman The Independent, Jumat (17/7).
Yatsenyuk juga mengatakan ada bukti tak terbantahkan terhadap pengelakan Rusia mendukung pejuang separatis di ujung timur Ukraina.
Kamis, 16 Juli 2015
Iran resmi diizinkan punya nuklir, Israel kalang kabut
Setelah perundingan 13 tahun, sanksi ekonomi terhadap Iran karena memiliki teknologi nuklir resmi dicabut. Perwakilan enam negara dipimpin Amerika Serikat kemarin (14/7) di Kota Wina, Austria, menyetujui program nuklir Negeri Para Mullah asal terbukti untuk tujuan damai.
Surat kabar the Guardia melaporkan, kesepakatan ini memicu beragam reaksi dari seluruh dunia. Sekutu Iran, seperti Rusia mengapresiasi perjanjian tersebut.
Uni Eropa yang diwakili Prancis, Inggris, dan Jerman dalam tim enam turut mengutarakan optimismenya. Dengan penghentian embargo ekonomi, maka negara mayoritas Syiah ini dapat bersikap lebih damai di kawasan Timur Tengah.
"Saya kira (perjanjian) ini adalah harapan untuk seluruh dunia," kata Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini beberapa jam setelah rapat berakhir.
Surat kabar the Guardia melaporkan, kesepakatan ini memicu beragam reaksi dari seluruh dunia. Sekutu Iran, seperti Rusia mengapresiasi perjanjian tersebut.
Uni Eropa yang diwakili Prancis, Inggris, dan Jerman dalam tim enam turut mengutarakan optimismenya. Dengan penghentian embargo ekonomi, maka negara mayoritas Syiah ini dapat bersikap lebih damai di kawasan Timur Tengah.
"Saya kira (perjanjian) ini adalah harapan untuk seluruh dunia," kata Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini beberapa jam setelah rapat berakhir.
Selasa, 14 Juli 2015
Rudal Tiongkok Bisa Mencapai Australia
Perdana Menteri Australia Tony Abbott menolak untuk memberikan tanggapan mengenai peringatan bahwa rudal jarak jauh Tiongkok dan kekuatan angkatan laut negeri itu sekarang bisa mencapai Australia.
Sebuah laporan bersama yang dibuat oleh Australian National Uniiversity dan Pusat Studi Strategi dan Internasional yang berbasis di Washington menyebutkan bahwa tindakan Beijing di Laut Tiongkok Selatan semakin mengkhawatirkan, dan soal kemungkinan Australia masuk dalam konflik militer di kawasan tersebut.
“Operasi Tiongkok di Lautan India menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi Australia,” tulis laporan tersebut.
“Letak geografis Australia yang terpencil sudah lama menjadi salah satu aspek pertahanan terkuatnya, seperti juga Amerika Serikat.”
Sebuah laporan bersama yang dibuat oleh Australian National Uniiversity dan Pusat Studi Strategi dan Internasional yang berbasis di Washington menyebutkan bahwa tindakan Beijing di Laut Tiongkok Selatan semakin mengkhawatirkan, dan soal kemungkinan Australia masuk dalam konflik militer di kawasan tersebut.
“Operasi Tiongkok di Lautan India menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi Australia,” tulis laporan tersebut.
“Letak geografis Australia yang terpencil sudah lama menjadi salah satu aspek pertahanan terkuatnya, seperti juga Amerika Serikat.”
Minggu, 12 Juli 2015
Australia Batalkan Pembelian F-35B
Australia membatalkan rencana pembelian jet tempur F-35B untuk dua kapal LHD, Canberra class, karena membutuhkan modifikasi yang ekstrim yang dianggap terlalu mahal.
Perdana Menteri Australia Tony Abbot sebelumnya ingin menempatkan pesawat short-take-off and vertical-landing F-35B buatan Lockheed Martin, di atas geladak dua kapal serbu transportasi pasukan 27.000 ton milik Angkatan Laut.
Untuk dapat mengakomodasi pesawat F-35B, pejabat pertahanan mengatakan, kapal-kapal akan membutuhkan modifikasi yang luas, termasuk sistem radar baru, sistem instrumen pendaratan, decking tahan panas, restrukturisasi penyimpanan bahan bakar dan jalur bahan bakar serta hanggar penyimpanan.
Sementara, dua kapal serbu Canberra class yang ada seperti sekarang, hanya dirancang untuk membawa helikopter.
Perdana Menteri Australia Tony Abbot sebelumnya ingin menempatkan pesawat short-take-off and vertical-landing F-35B buatan Lockheed Martin, di atas geladak dua kapal serbu transportasi pasukan 27.000 ton milik Angkatan Laut.
Untuk dapat mengakomodasi pesawat F-35B, pejabat pertahanan mengatakan, kapal-kapal akan membutuhkan modifikasi yang luas, termasuk sistem radar baru, sistem instrumen pendaratan, decking tahan panas, restrukturisasi penyimpanan bahan bakar dan jalur bahan bakar serta hanggar penyimpanan.
Sementara, dua kapal serbu Canberra class yang ada seperti sekarang, hanya dirancang untuk membawa helikopter.
Label:
Amerika,
Australia,
Pesawat Tempur
Sabtu, 11 Juli 2015
Obama Terpeleset Lidah, Bilang AS Melatih ISIS [VIDEO]
Presiden Amerika Serikat Barack Obama terpeleset lidah dalam sebuah konferensi pers membicarakan ISIS. Dalam pernyataannya, Obama mengatakan bahwa AS melatih tentara ISIS.
Diberitakan RT, Rabu (8/7), pernyataan Obama itu disampaikan setelah mendapatkan penjelasan dari para pejabat keamanan soal upaya AS dalam mengalahkan ISIS, salah satunya adalah memberikan pelatihan bagi kelompok pemberontak moderat di Suriah.
Namun dalam konferensi pers Senin kemarin, Obama mengatakan bahwa "kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar." ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.
![]() |
| Obama tidak sengaja mengatakan AS melatih tentara ISIS. Upaya perbaikan oleh Gedung Putih dalam transkrip malah menambah janggal kalimat tersebut. (Reuters/Gary Cameron) |
Diberitakan RT, Rabu (8/7), pernyataan Obama itu disampaikan setelah mendapatkan penjelasan dari para pejabat keamanan soal upaya AS dalam mengalahkan ISIS, salah satunya adalah memberikan pelatihan bagi kelompok pemberontak moderat di Suriah.
Namun dalam konferensi pers Senin kemarin, Obama mengatakan bahwa "kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar." ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.
Rusia Unjuk Gigi Teknologi Canggih Angkatan Laut
Pada awal Juli 2105 ini, kota Sankt Petersburg kembali menyelenggarakan pameran militer kelautan internasional Euronaval. Sejumlah alasan objektif, baik politis maupun ekonomi, membuat banyak perusahaan asing—pengembang dan produsen senjata dan peralatan militer angkatan laut—tidak bepartisipasi dalam pameran kali ini. Namun demikian, beberapa perusahaan dalam negeri berhasil menarik perhatian. RBTH akan menyajikan berita paling menarik dari pameran militer kelautan internasional ini.
Di antara yang ditampilkan di stan United Shipbuilding Corporation dan perusahaan-perusahaan industri perkapalan Rusia lainnya, ada beberapa maket yang menarik perhatian, seperti konsep kapal permukaan tempur yang prospektif, frigate serbaguna dari Proyek 22356, versi modern dari korvet Proyek 20382, platform dasar laut berkecepatan tinggi dengan rongga udara bagian bawah KBK-1200, dan tentu saja kapal selam Piranha-T.
![]() |
| Acara pembukaan Pameran militer kelautan di Sankt Peterburg, 4 Juli. Foto: Ruslan Shamukov / TASS |
Di antara yang ditampilkan di stan United Shipbuilding Corporation dan perusahaan-perusahaan industri perkapalan Rusia lainnya, ada beberapa maket yang menarik perhatian, seperti konsep kapal permukaan tempur yang prospektif, frigate serbaguna dari Proyek 22356, versi modern dari korvet Proyek 20382, platform dasar laut berkecepatan tinggi dengan rongga udara bagian bawah KBK-1200, dan tentu saja kapal selam Piranha-T.
Langganan:
Postingan (Atom)






