Kepala staf pemerintahan Kremlin, Sergey Ivanov mengatakan, Amerika Serikat (AS) dan Rusia harus terus bekerjasama untuk melawan arus pembiayaan bagi kelompok teroris. Hal itu diungkapkan oleh Ivanov saat melakukan pertemuan dengan Presiden Financial Action Task Force (FATF), Shin Je-Yoon.
"Penyelidikan terhadap sumber pembiayaan dari ISIS telah dilakukan pada tahun ini atas inisiatif AS dan dengan partisipasi aktif dari Rusia. Seharusnya, hal itu menjadi awal pekerjaan bersama untuk mengungkapkan negara, individu, dan badan hukum yang terlibat dalam mendukung keuangan ISIS," tutur Ivanov seperti dilansir dari laman Tass, Kamis (12/11/2015).
Update Berita Militer, Pertahanan dan Keamanan Dunia
Jumat, 13 November 2015
Selasa, 03 November 2015
Inggris Mundur dari Koalisi Pimpinan Amerika Serikat
Perdana Menteri Inggris, David Cameron memutuskan untuk mundur sementara dari koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) dalam melakukan serangan terhadp ISIS di Suriah, dan mungkin juga di Irak. Langkah ini diambil Cameron setelah tidak mendapat dukungan dari Parlemen Inggris.
Saat ini Cameron memang tengah berusaha meningkatkan peran Inggris dalam melakukan serangan terhadap ISIS di Suriah dan Irak, dan telah meminta dukungan dari Parleman mengenai hal ini. Namun, sayangnya Parlemen Inggris menolak, dengan alasan tidak jelasnya strategi dan tujuan dari serangan tersebut.
"Kami prihatin, Pemerintah berfokus pada memperluas serangan udara ke Suriah, tanpa ada kepastian keberhasilan serangan itu, dan tanpa rencana jangka panjang yang koheren dan untuk mengalahkan ISIS dan mengakhiri perang sipil di Suriah," ucap kepala komite Luar Negeri Parleman Inggris, Crispin Blunt.
| Perdana Menteri Inggris, David Cameron memutuskan untuk mundur sementara dari koalisi pimpinan AS dalam melakukan serangan terhadp ISIS di Suriah, dan mungkin juga di Irak. (Reuters) |
Saat ini Cameron memang tengah berusaha meningkatkan peran Inggris dalam melakukan serangan terhadap ISIS di Suriah dan Irak, dan telah meminta dukungan dari Parleman mengenai hal ini. Namun, sayangnya Parlemen Inggris menolak, dengan alasan tidak jelasnya strategi dan tujuan dari serangan tersebut.
"Kami prihatin, Pemerintah berfokus pada memperluas serangan udara ke Suriah, tanpa ada kepastian keberhasilan serangan itu, dan tanpa rencana jangka panjang yang koheren dan untuk mengalahkan ISIS dan mengakhiri perang sipil di Suriah," ucap kepala komite Luar Negeri Parleman Inggris, Crispin Blunt.
China Terbangkan 2 Jet Tempur Sebagai Sepon Rencana AS Kirimkan Kapal Perang di LCS
Amerika Serikat (AS) hendak mengirim kapal perang lagi di kawasan Laut China Selatan setelah sebelumnya kapal perang mereka, USS Lassen, patroli di dekat pulau buatan China di kawasan sengketa itu. Sedangkan China mengerahkan dua pesawat jet tempur untuk merespons tindakan AS yang dianggap sebagai aksi “provokasi”.
Pekan lalu, kapal perang USS Lassen, bermanuver di wilayah yang berjarak 12 mil laut dari pulau-pulau buatan Beijing di Laut China Selatan. Tindakan itu dianggap menantang klaim teritorial China atas Laut China Selatan yang jadi sengketa.
Seorang pejabat pertahanan AS pada hari Senin mengatakan kepada Reuters, bahwa Angkatan Laut AS akan melakukan patroli serupa. “Di wilayah sekitar dua kali seperempat atau sedikit lebih dari itu,” kata pejabat itu mengacu pada wilayah Laut China Selatan.
Pekan lalu, kapal perang USS Lassen, bermanuver di wilayah yang berjarak 12 mil laut dari pulau-pulau buatan Beijing di Laut China Selatan. Tindakan itu dianggap menantang klaim teritorial China atas Laut China Selatan yang jadi sengketa.
Seorang pejabat pertahanan AS pada hari Senin mengatakan kepada Reuters, bahwa Angkatan Laut AS akan melakukan patroli serupa. “Di wilayah sekitar dua kali seperempat atau sedikit lebih dari itu,” kata pejabat itu mengacu pada wilayah Laut China Selatan.
Label:
Amerika,
China,
Kapal Perang,
Laut China Selatan,
Pesawat Tempur
Yu-71, Rudal Hipersonik Nuklir yang Dirahasiakan Rusia
Rusia saat ini bekerja untuk mengembangkan rudal hipersonik baru, yang dapat membawa hulu ledak nuklir. Rudal yang dirahasiakan Rusia itu bernama Yu-71.
Rudal itu merupakan bagian dari rencana Rusia untuk memodernisasi kekuatan rudal strategis negara itu. Pengembangan rudal Yu-71 itu di bawah proyek dengan kode nama “Project 4202”.
Menurut Jane Intelligence Review, rudal hipersonik Yu-71 memiliki kecepatan maksimum 11.200 kilometer per jam (sekitar 7.000 mph atau Mach 10), dan lihai bermanuver. Rusia sejauh ini telah melakukan empat kali uji coba rudal Yu-71, dengan uji coba terbaru pada 26 Februari 2015.
”(Rudal ) ini akan membuat Rusia mampu memberikan jaminan serangan skala kecil terhadap target pilihan. Jika ditambah dengan kemampuan untuk menembus pertahanan rudal, Moskow juga akan mempertahankan pilihan untuk meluncurkan serangan rudal tunggal,” bunyi laporan Jane Intelligence Review, Senin malam (29/6/2015).
Rudal itu merupakan bagian dari rencana Rusia untuk memodernisasi kekuatan rudal strategis negara itu. Pengembangan rudal Yu-71 itu di bawah proyek dengan kode nama “Project 4202”.
Menurut Jane Intelligence Review, rudal hipersonik Yu-71 memiliki kecepatan maksimum 11.200 kilometer per jam (sekitar 7.000 mph atau Mach 10), dan lihai bermanuver. Rusia sejauh ini telah melakukan empat kali uji coba rudal Yu-71, dengan uji coba terbaru pada 26 Februari 2015.
”(Rudal ) ini akan membuat Rusia mampu memberikan jaminan serangan skala kecil terhadap target pilihan. Jika ditambah dengan kemampuan untuk menembus pertahanan rudal, Moskow juga akan mempertahankan pilihan untuk meluncurkan serangan rudal tunggal,” bunyi laporan Jane Intelligence Review, Senin malam (29/6/2015).
Diprotes China, AS Sebut Pelayaran di Laut China Selatan Tak Langgar Hukum
Wakil penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS), Ben Rhodes mengatakan akan ada aksi yang lebih besar dari negaranya untuk kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan. Laut China Selatan saat ini merupakan daerah yang sedang disengketakan.
"Kami menjunjung tinggi tentang prinsip kebebasan dalam navigasi. Kami akan menegakan itu," ujar Ben Rhodes seperti dilansir dari kantor berita Reuters, Selasa (3/11/2015).
Rhodes mengungkapkan hal ini setelah kapal dengan rudal perusak milik AS berlayar dekat salah satu pulau buatan di Beijing di kawasan Laut China Selatan akhir pekan lalu. Kapal tersebut mengambil posisi sekitar 12 mil laut.
"Kami menjunjung tinggi tentang prinsip kebebasan dalam navigasi. Kami akan menegakan itu," ujar Ben Rhodes seperti dilansir dari kantor berita Reuters, Selasa (3/11/2015).
Rhodes mengungkapkan hal ini setelah kapal dengan rudal perusak milik AS berlayar dekat salah satu pulau buatan di Beijing di kawasan Laut China Selatan akhir pekan lalu. Kapal tersebut mengambil posisi sekitar 12 mil laut.
Jet Tempur Rusia Bombardir Kota Kuno Palmyra di Suriah
Angkatan Udara Rusia telah menggempur area yang dikuasai kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di dekat kota kuno Palmyra.
"Jet tempur (Sukhoi) Su-25 menghantam wilayah pertahanan ISIS di Tadmur di Provinsi Homs," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dilansir dari AFP, Selasa (3/11/2015).
Tadmur merupakan nama lain kota Palmyra yang dikenal masyarakat Arab.
"Hasil serangan langsung itu, benteng pertahanan, bunker bawah tanah dan artileri anti-serangan udara milik ISIS dihancurkan," lanjut pernyataan Kemenhan Rusia.
Ini merupakan pertama kalinya Rusia mengkonfirmasi serangan yang dilakukan di dekat situs Kebudayaan Dunia versi UNESCo tersebut. Sebelumnya, siaran televisi Pemerintah Suriah menayangkan serangan Rusia di kota bersejarah tersebut.
"Jet tempur (Sukhoi) Su-25 menghantam wilayah pertahanan ISIS di Tadmur di Provinsi Homs," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dilansir dari AFP, Selasa (3/11/2015).
Tadmur merupakan nama lain kota Palmyra yang dikenal masyarakat Arab.
"Hasil serangan langsung itu, benteng pertahanan, bunker bawah tanah dan artileri anti-serangan udara milik ISIS dihancurkan," lanjut pernyataan Kemenhan Rusia.
Ini merupakan pertama kalinya Rusia mengkonfirmasi serangan yang dilakukan di dekat situs Kebudayaan Dunia versi UNESCo tersebut. Sebelumnya, siaran televisi Pemerintah Suriah menayangkan serangan Rusia di kota bersejarah tersebut.
Label:
Konflik Timur Tengah,
Pesawat Tempur,
Rusia
Intelijen AS Sebut Tak Ada Bukti Aksi Teroris dalam Jatuhnya Pesawat Rusia
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, James Clapper, mengatakan bahwa tidak ada bukti mengenai keterlibatan teroris dalam jatuhnya pesawat Rusia di Mesir.
Clapper pun membantah klaim kelompok militan ISIS yang mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Airbus A321 milik maskapai Kogalymavia.
"Kami tidak punya bukti langsung mengenai keterlibatan teroris," ucap Clapper, dalam pertemuan pertahanan di Washington, seperti dikutip dari AFP, Selasa (3/11/2015).
Rusia dan Mesir juga telah membantah mengenai dugaan jatuhnya pesawat di semenanjung Sinai akibat sabotase atau serangan yang dilancarkan ISIS. Meski begitu, Clapper menyatakan perlunya analisis berdasarkan kotak hitam pesawat.
"ISIS mengklaim bertanggung jawab, tapi kita tetapo belum mengetahuinya," ucap Clapper.
Clapper pun membantah klaim kelompok militan ISIS yang mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Airbus A321 milik maskapai Kogalymavia.
"Kami tidak punya bukti langsung mengenai keterlibatan teroris," ucap Clapper, dalam pertemuan pertahanan di Washington, seperti dikutip dari AFP, Selasa (3/11/2015).
Rusia dan Mesir juga telah membantah mengenai dugaan jatuhnya pesawat di semenanjung Sinai akibat sabotase atau serangan yang dilancarkan ISIS. Meski begitu, Clapper menyatakan perlunya analisis berdasarkan kotak hitam pesawat.
"ISIS mengklaim bertanggung jawab, tapi kita tetapo belum mengetahuinya," ucap Clapper.
Label:
Amerika,
Konflik Timur Tengah,
Rusia
Langganan:
Postingan (Atom)





