Selasa, 31 Desember 2013

Rusia Kerahkan 4.000 Polisi dan Tentara dalam Operasi Antiteror Angin Puyuh

Rusia menggelar Operasi Antiteror Angin Puyuh paska meledaknya dua bom di kota Volgograd, selatan Rusia. Reuters, 30 Desember 2013, melansir lebih dari 4.000 polisi dan tentara dikerahkan dalam operasi antiteror di Provinsi Volgograd itu.

Rusia Kerahkan 4.000 Polisi dan Tentara dalam Operasi Antiteror Angin Puyuh

Petugas tambahan juga diturunkan ke berbagai stasiun kereta api dan bandara di seluruh penjuru Rusia. Mereka memeriksa dokumen dan mencari orang-orang yang mencurigakan. Kantor berita Itar Tass mengatakan, aparat keamanan Rusia fokus pada pekerja migran.

“Ada perasaan ngeri dan ketidakberdayaan melawan monster ini. Sesuatu yang jahat telah datang ke kota kami. Saya juga mengkhawatirkan putri saya yang bepergian ke mana-mana dengan bus troli,” kata Margarita Savicheva, seorang pustakawati berusia 50 tahun yang tinggal di Volgograd. Bus troli adalah angkutan umum yang menjadi target bom Senin kemarin.


Ketika dua bom meledak di Volgograd yang dihuni kurang lebih satu juta orang, pasukan polisi di kota itu telah berkurang karena sekitar 600 anggotanya didistribusikan ke kota Sochi untuk membantu pengamanan Olimpiade Musim Dingin yang bakal digelar 7-23 Februari 2013.

Alexei Filatov, mantan anggota pasukan antiteror elite Rusia, Alfa, yang terkemuka, mengatakan Rusia harus mewaspadai lebih banyak serangan menjelang Olimpiade Sochi. Kota-kota yang berjarak lebih dekat ketimbang Sochi, justru menjadi target teror yang lebih mudah.

“Ancaman terbesar adalah saat ini – momen di mana teroris dapat meninggalkan kesan paling mendalam. Sudah sejak lama pengamanan diperketat di sekitar Sochi, sehingga teroris justru akan menyerang kota-kota lain seperti Volgograd,” kata Filatov.

Teror di Volgograd ini juga berpotensi memicu ketegangan etnis yang telah meningkat dengan masuknya imigran dari daerah Kaukasus yang miskin. Warga Muslim dari negara-negara Asia Tengah juga memasuki kota-kota Rusia beberapa tahun terakhir ini.

“Mereka yang bukan warga Rusia, baik atau buruk, harus diusir dari sini. Daerah ini sudah menjadi persimpangan dan tempat transit,” kata Olga, seorang pramuniaga yang bekerja di toko tak jauh dari lokasi ledakan bus troli di dekat pasar, pusat kota Volgograd.

Lusinan anggota kelompok nasionalis menggelar unjuk rasa di luar kapel Volgograd, dan polisi menahan lebih dari 20 orang di antara mereka. “Kita adalah orang Rusia. Kita tidak boleh takut. Tuhan bersama kita. Kita di tanah kita sendiri, dan tidak boleh ada teroris yang menakut-nakuti kita,” kata Mikhail Yasin, seorang demonstran yang menyalakan lilin untuk mendoakan para korban pemboman.

Bom pertama di Volgograd merupakan bom bunuh diri yang meledak di stasiun kereta api dan menewaskan 17 orang, Minggu 29 Desember 2013. Bom kedua dipasang di bagian tengah bus troli yang meledak di dekat pasar di pusat kota dan menewaskan 14 orang, Senin 30 Desember 2013. (VivaNews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...